GROBOGAN – Pemkab Grobogan mengusulkan reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang-Ambarawa, namun hingga kini belum ada perkembangan signifikan.
Proses reaktivasi sebenarnya telah dimulai sejak 2015, dengan beberapa material bantalan rel dari beton yang disiapkan di beberapa titik.
Sayangnya, sejak 2017 material tersebut dibiarkan mangkrak di pinggiran sungai.
Di Stasiun Kedungjati, terdapat bangunan peron yang sempat disiapkan untuk reaktivasi, namun proyek tersebut tampaknya terhenti.
Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo, menjelaskan bahwa reaktivasi jalur ini bukan merupakan tanggung jawab PT KAI.
"Ranahnya Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian. PT KAI hanya sebagai operator kereta api," jelasnya.
Antusiasme Pemkab Grobogan terkait reaktivasi jalur ini masih tinggi.
Kabid Prasarana Wilayah dan Ekonomi Bappeda Grobogan, Candra Yuliapasha, menyampaikan bahwa meskipun studi reaktivasi sudah ada, belum ada informasi lanjut mengenai waktu pelaksanaan.
"Mungkin masih menunggu kebijakan terbaru," ungkapnya.
Jalur kereta api ini sudah non-aktif sejak 1976, dan reaktivasi sangat dinanti karena akan mendukung perkembangan transportasi umum di kawasan Kedungsepur, yang mencakup Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, dan Purwodadi.
"Kami butuh pengembangan armada transportasi untuk menunjang wilayah Kedungsepur," tambah Candra.
Meskipun telah ada dokumen studi kelayakan dari Kementerian Perhubungan, Candra mengeluhkan banyaknya faktor penghambat, termasuk masalah longsoran dan kebutuhan anggaran besar untuk merealisasikan proyek ini.
Ia menegaskan, jika jalur tersebut kembali beroperasi, dampak positifnya akan terasa bagi pariwisata, perekonomian, dan potensi angkutan barang di Kabupaten Grobogan. (int/khim)
Editor : Abdul Rokhim