GROBOGAN - Warga Desa Ngombak dan Desa Karanglangu Kecamatan Kedungjati memiliki tradisi unik turun temurun. Tradisi ini dilakukan rutin setiap dua tahun sekali, yakni bernama Tubo.
Kultur lokal yang sudah berjalan sudah sejak ratusan tahun silam ini memiliki ritual unik yang dilakukan kedua desa tersebut.
Mereka memulainya sekitar pukul 10.00. Warga sudah berkumpul di tengah sungai Tuntang yang memiliki arus deras yang membelah desa mereka.
Baca Juga: Kabar Buruk, Kasus Gizi Buruk di Grobogan Masih Tinggi, Pemkab Grobogan Door to Door ke Desa
Kondisi berburu ikan itu dilakukan sepanjang kurang lebih tiga kilometer, warga mengular berbasah-basahan memenuhi sungai.
Mereka tumpah ruah menceburkan diri ke sungai berkedalaman 40 meter itu untuk berebut ikan di sungai.
Sebelum dimulai, para sesepuh menggelar ritual doa sekaligus meracik racun ikan tradisional untuk disebar ke sungai.
Ramuan alami peninggalan leluhur itu lah yang kemudian digunakan untuk meracuni ikan di sungai. Racun khusus ikan itu dinamai “Racun Tubo”.
Tubo merupakan kata lain dari Tuba. Memiliki bahasa ilmiah Derris elliptica, merupakan jenis tumbuhan yang biasa digunakan sebagai peracun ikan.
Akar tanaman Tuba ini memiliki kandungan rotenone, sejenis racun kuat untuk ikan dan serangga (insektisida).
Tuba ini tumbuh menjalar di kayu memanjat (liana) dengan tujuh sampai 15 pasang daun pada tiap rantingnya. Dalam tradisi Tubo, akar Tuba dioplos dengan ketela pohon dan hasil olahannya kemudian dicampur dengan air.
Lalu, racun Tubo dimasukkan ke dalam beberapa gentong dan belasan galon.
Setelah didoakan, beberapa warga menceburkan diri ke sungai untuk memecahkan gentong dan menumpahkan galon berisi racun Tubo itu ke tengah sungai.
“Selang beberapa jam, ikan di sungai keracunan dan akan muncul ke permukaan air. Langsung warga yang ada di pinggir sungai langsung berburu ikan air tawar tersebut,” jelas Kepala Desa Ngombak, Heriyanto.
Menurut Heriyanto, tradisi Tubo merupakan warisan nenek moyang yang sarat akan makna toleransi. Erat hubungannya dengan kepercayaan warga akan sosok Kedhana dan Kedhini, yaitu Raden Sutejo dan Roro Musiah yang diyakini sebagai pendiri Desa Ngombak dan Desa Karanglangu.
Menurut mitologi, Kedhana dan Kedhini adalah saudara kandung. Mereka terpisah sewaktu keduanya masih kecil.
Keduanya berkelana secara terpisah melewati hutan dan sungai, hingga akhirnya kedhana berhenti dan menetap di suatu desa yang diberi nama dengan Desa Karanglangu. Sedangkan Kedhini berhenti dan menetap di suatu desa yang diberi nama desa Ngombak.
“Setelah dewasa, keduanya saling jatuh cinta dan hampir menikah. Pernikahan itu akhirnya urung terjadi setelah terungkap bahwa mereka adalah kakak beradik yang telah lama terpisah,” ucapnya.
Pertemuan saudara kandung yang lama terpisah ini diperingati dengan perayaan syukuran kala itu yakni Tradisi Tubo. Ikan-ikan yang terkumpul akan dimasak beramai-ramai dan menjadi santapan warga. Menyatukan tali persaudaraan antara Desa Ngombak dan Desa Karanglangu. Bukti toleransi antar warga yang berlangsung sejak dulu hingga saat ini. (int)
Editor : Noor Syafaatul Udhma