Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Warga Karangasem Grobogan Ramai-ramai Tolak Eksploitasi Mata Air Ngesong, Kenapa?

Ali Mustofa • Jumat, 8 Maret 2024 | 13:00 WIB

 

TEGAS: Spanduk yang dipasang oleh warga di tepi jalan Desa Karangasem, Kamis (7/3).
TEGAS: Spanduk yang dipasang oleh warga di tepi jalan Desa Karangasem, Kamis (7/3).

 

GROBOGAN - Warga Karangasem, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, bentangkan puluhan spanduk tolak eksploitasi sumber mata air Ngesong.

Spanduk itu terlihat dipasang di sejumlah tempat di pinggir Jalan Raya Karangasem.

Kepala desa Karangasem, Kanto menjelaskan gejolak yang tengah terjadi di daerahnya.

"Kemarin itu tahu-tahu ada pengukuran tentang panjang dan tinggi rendah saluran ke arah Pungkook," ujarnya Rabu (6/4).

Kanto mengatakan Desa Karangasem menolak dari adanya eksploitasi atau pengambilan air dari sumber air Ngesong ke Pungkok atau yang dikelola melalui PDAM Kabupaten Grobogan.

"Karena masyarakat Desa Karangasem sudah merasakan ada salah satu sumber diambil PDAM tapi sampai sekarang kontribusinya ke Desa Karangasem tidak ada," runutnya.

Sementara para petani di saat musim kemarau kesulitan mendapatkan air.

Sehingga dengan wacana adanya pengambilan sumber air Ngesong mau diambil oleh PDAM semua masyarakat sepakat untuk menolak keras.

"Yang pertama itu tahun 1980-an di Sendang Mudal," rujuknya.

Lebih lanjut Kanto pun heran dengan upaya tersebut yang diduga tidak melibatkan pihak desa dan masyarakat setempat.

"Saya sebagai kepala desa pun tidak tahu. Perizinan dari atas. Sehingga saya kaget waktu kemarin ada pihak yang membawa surat tugas untuk melakukan pengukuran sumber Ngesong. Meskipun tanah itu statusnya milik perhutani tapi pemanfaatnya di sini," utarakannya.

Dari pihak PDAM pernah menyurati desa bahwa intinya ingin mengambil sebagian sumber air Ngesong untuk dikelola.

"Kami pun juga secara pemerintah desa menolak secara tertulis. Ditambah dengan dengan tanda tangan (petisi, Red) oleh masyarakat. Saya kirimkan kepada direktur PDAM," tegasnya.

Kanto melanjutkan, akad sumber pertama itu difungsikan guna mencukupi Puskesmas 1 Wirosari akan tetapi semakin tahun malah dikelola oleh PDAM.

"Masyarakat trauma akan hal itu. Apalagi di sini terdapat hampir 500 hektare lahan pertanian yang membutuhkan air," terangnya.

Apalagi daei 3600 KK terdapat setidaknya 2000 perajin genteng. Selain petani yang akan terkena dampak ada juga perajin genteng.

"Untuk perajin genteng itu dalam pengolahan tanah itu juga membutuhkan air yang banyak. Terutama saat penggilingan tanah itu prosesnya butuh sampai 2-3 hari," jelasnya.

Pihaknya mengatakan, bahwa akan segera mengadakan musyawarah desa khusus (Mudessus) terkait penolakan sumber air Ngesong.

"Dari masyarakat sudah mulai panas. Saya khawatir akan terjadi kebrutalan sehingga Mudessus nanti melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok tani dan pihak yang bersangkutan," catatnya.

Kanto berharap pemerintah kabupaten turut dapat mengurai permasalahan yang ada apalagi dalam kaitan pengambilan air jika digunakan untuk keperluan PT Pungkook. (fik)

Editor : Ali Mustofa
#grobogan #mata air #PDAM #kemarau #pertanian #spanduk