Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Selamat Jalan Maestro Lukis Djoko Pekik, Grobogan Kehilangan Putra Daerah Terbaik

Intan Maylani Sabrina • Senin, 14 Agustus 2023 | 21:26 WIB
LEGENDARIS: Mastro lukis Djoko Pekik saat mendatangi event HUT-297 Guru di Gedung Serba Guna (GSG) Dewi Sri Purwodadi.
LEGENDARIS: Mastro lukis Djoko Pekik saat mendatangi event HUT-297 Guru di Gedung Serba Guna (GSG) Dewi Sri Purwodadi.

 

GROBOGAN - Kabupaten Grobogan kehilangan salah satu putra daerah yang merupakan maestro seni lukis, Djoko Pekik.

Ia tutup usia pada usia 85 tahun, tepatnya pada Sabtu (12/8) di RS Panti Rapih Jogjakarta.

Djoko Pekik dikenal sebagai salah satu pelukis realis-ekspresif ternama di Indonesia.

Baca Juga: Pelukis Asal Grobogan Djoko Pekik Berpulang : Juwarno Kuncung Ungkap Lukisan Paling Berkesan

Meski telah lama meninggalkan Kota Swieke, dan memilih melanjutkan hidup di Jogjakarta.

Ternyata lukisannya menjadi inspirasi banyak pelukis muda di Grobogan.

Karya Djoko Pekik ini ternyata menjadi inspirasi bagi para pelukis generasi selanjutnya.

Salah satunya adalah Juwarno Kuncung atau yang lebih dikenal dengan J Kuncung ini.

J Kuncung adalah pelukis asli Grobogan yang sempat mengenal sedikit sosok Djoko Pekik.

Baca Juga: Grobogan Jadi Runner Up Porprov XVI Jateng : Trofi Diarak Keliling Kota hingga Bonus Besar Atlet

Baca Juga: Identitas Perempuan yang Tewas Mengapung di Sungai Lusi Grobogan Terungkap, Ini Namanya

Menurut J Kuncung, dari banyaknya lukisan Djoko Pekik, hanya satu yang membuatnya merasa terinspirasi hingga sekarang ini.

“Satu-satunya lukisan yang menginspirasi saya adalah Berburu Celeng itu,” ujar J Kuncung.

Tak hanya itu, Djoko Pekik juga menamakan lukisan itu dengan judul Berburu Celeng yang menggambarkan keadaan Orde Lama pada masa itu.

Baca Juga: Tak Mau Direlokasi, Beberapa Pedagang Pasar Glendoh Grobogan Malah Pilih Adu Konsep

Baca Juga: Gunakan Mobil Terios Saat Mencuri Kayu, Warga Grobogan dan Sragen Diamankan Polsek Geyer

Hingga akhirnya, almarhum ditangkap karena dianggap menjadi anggota LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat) pada saat itu.

“Saat itu, Djoko Pekik menjadi seniman Bumi Tarung dan ditangkap pada 8 November 1965 karena dianggap berhubungan dengan LEKRA. Kalau untuk lukisan Berburu Celeng itu, sejatinya Pak Djoko Pekik ini hanya melukiskan keadaan masyarakat di Grobogan saat itu karena di sini banyak celeng (babi hutan) yang kerap diburu,” jelasnya.

Namun, lukisan Berburu Celeng ini dianggap mengkritisi pemerintahan Orde Lama, hingga akhirnya Djoko Pekik ditangkap dan dipenjara. 

Baca Juga: Tak Mau Direlokasi, Beberapa Pedagang Pasar Glendoh Grobogan Malah Pilih Adu Konsep

J Kuncung menjelaskan, dirinya turut merasa bangga sebagai pelukis asli Grobogan.

Pasalnya, sosok Djoko Pekik yang berasal dari Ngaringan, Kabupaten Grobogan, ini menjadi sosok seniman lukis yang dikenal di Indonesia. Bahkan, telah menjadi legenda seni lukis.

Dimakamkan di Bantul : Dihadiri Seniman, Budayawan, hingga Badut

Seniman seni rupa asal Kabupaten Grobogan, Djoko Pekik dimakamkan di Kompleks Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul, Minggu (13/8/23).

Ribuan orang mengantar kepergian sang maestro ke peristirahatan terakhirnya. Termasuk di antaranya kolega sesama seniman dan budayawan.

Bahkan, ada juga yang memakai kostum badut saat menghantarkan Djoko ke peristirahatan terakhirnya itu.

Dilansir dari Jawa Pos Radar Jogja sekitar pukul 14.00 WIB, jenazah Djoko Pekik sudah tiba di Makam Seniman Girisapto, setelah dibawa dari rumah duka di Padukuhan Sembungan, Kalurahan Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

Baca Juga: Gunakan Mobil Terios Saat Mencuri Kayu, Warga Grobogan dan Sragen Diamankan Polsek Geyer

Baca Juga: Satu Anggota Polres Grobogan Dipecat Tidak Hormat, Ini Alasannya

Setibanya di Makam Seniman, Girisapto, jenazah Djoko Pekik tidak langsung dimakamkan.

Ada prosesi peribadatan doa terlebih dahulu yang mengiringi sebelum dimakamkan.

Tepat pada pukul 14.30 WIB Djoko Pekik dikebumikan di liang lahatnya.Dalam prosesi penguburannya, diiringi doa oleh para keluarga.

Sesampainya di area pemakaman, beberapa orang mengangkat peti berwarna putih yang berisi jasad Djoko Pekik.

Selanjutnya, iring-iringan berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke pusara. Dalam iring-iringan tersebut, seorang wanita berpakaian kebaya berwarna putih menari sembari membunyikan lonceng kecil.

Di belakang wanita itu, tampak seorang berpakaian badut berwarna merah dan putih membawa lukisan potret diri Djoko Pekik.

Di belakang badut tersebut, berjalan rombongan keluarga besar Djoko Pekik yang kompak mengenakan kaus berwarna merah.

Baca Juga: Seorang Siswa SMP di Grobogan Dianiaya Senior hingga Memar di Hutan Tanggungharjo, Begini Kronologinya 

Sementara di paling belakang adalah petugas yang mengangkat peti jenazah.

Penggunaan kaus oblong berwarna merah dengan ilustrasi potret Djoko Pekik berwarna hitam di bagian depan. Itu ternyata adalah permintaan dari mendiang sang pelukis.

Anak pertama Djoko Pekik, Petrus Gogor Bangsa mengatakan, kaus yang digunakan ini merupakan kaus yang sama saat dipakai keluarga Djoko Pekik dalam pembukaan pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada Maret 2022.

"Pak Pekik pernah berpesan kalau pas di pemakaman beliau, kaos ini dipakai lagi oleh anak, cucu, dan buyutnya,” katanya kepada wartawan.

Baca Juga: Kebakaran Hebat di Tlogomulyo Grobogan, Tujuh Rumah Ludes Terbakar, Ini Kronologinya

Baca Juga:
Duh! Tiga Tahun Wisata Bledug Kuwu Grobogan Tak Tersentuh Perbaikan, Begini Kondisinya Terkini 


Menurutnya, kaus berwarna merah ini menjadi wujud antusiasme dan kegembiraan.

Maka dari itu, kepergian Djoko Pekik bukanlah hal yang menyedihkan. Kaus merah ini tanda antusias dan kegembiraan, bukan hal yang menyedihkan.

“Jadi jangan kematian itu dianggap sebagai hal yang menyedihkan," ujarnya.

Gogor menambahkan, sebelum meninggal, sang ayah juga berpesan kepada anak dan cucunya untuk senantiasa rukun dan menjaga apa yang telah ditinggalkan Djoko Pekik.

Ya, semangat seorang Djoko Pekik benar-benar tak akan mati.

Terlihat dari ratusan seniman yang hadir saat melayat di Plataran Djoko Pekik di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

Mereka mengantarkan kepulangan terakhir sang maestro dengan cara yang unik, berupa unjuk karya dan pementasan karya.

Seolah menggambarkan, raga Djoko Pekik telah pergi tapi jiwanya abadi.

Baca Juga: Grobogan Jadi Runner Up Porprov XVI Jateng : Trofi Diarak Keliling Kota hingga Bonus Besar Atlet

Kesan saat melayat seakan jauh dari kata sedih. Upacara penghormatan bagi Djoko Pekik ini seakan menjadi ajang berkumpulnya para seniman.

Diabadikan Lewat Goresan Lukisan hingga Puisi

Tak hanya itu, para pelukis berkarya lukisan juga menghadirkan Djoko Pekik dalam goresan lukisan.

Sementara para seniman pertunjukan hadir dengan karya musik, teatrikal hingga puisi.

“Inisiatif dirayakan dengan senang-senang, sehingga kolaborasi dari manapun, menghubungi seniman tari, musik dan terutama paraa perupa. Ini jawil dari semua grup, ada perupa Jogja, Mojokerto, lalu akademisi, ada juga dari Jakarta,” jelas pelukis Bambang Heras.

Heras menuturkan, inisiatif ini sebagai wujud penghormatan terakhir kepada Djoko Pekik. Selain itu, juga mewarisi kebiasaan srawung pelukis berusia 85 tahun tersebut.Sosok Djoko Pekik memang terkenal dengan semua seniman.

Baca Juga: Pabrik Pembuatan Pigura di Mangunsari Grobogan Terbakar, Ini Dugaan Penyebabnya!

Selain melukis on the spot, puisi dan musik. Adapula alunan gamelan. Dipimpin langsung oleh pendiri Omah Cangkem dan Acapella Mataraman Pardiman Djoyonegoro.

Pardiman menuturkan ada permintaan khusus dari keluarga Djoko Pekik. Berupa gending Tlutur saat jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka ke Makam Seniman Girisapto di Imogiri Bantul. Tlutur, juga merupakan wasiat khusus dari Djoko Pekik kepada anak-anaknya. (*/int)

Editor : Ali Mustofa
#grobogan #Seni lukis #badut #Djoko pekik berpulang #budayawan #Djoko Pekik #seniman