Tunas baru mulai muncul. Teater pertama bagi masyarakat kepulauan akhirnya lahir. Kelakon sebagai teater masyarakat Desa Kemujan, Karimunjawa kini turut mewarnai ekspresi seni daerah. Bercita rasa yang khas, merefleksikan satu wilayah yang sarat akan pesan-pesan multikulturalisme.
FIKRI THOHARUDIN, Karimunjawa, Radar Kudus
ORANG bajik berkata, 'Agama tanpa seni kasar, seni tanpa agama kesasar'. Harapan baru muncul. Kali ini terpancar dari Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa.
Khususnya dengan diinisiasi sebuah teater, bernama Teater Kelakon. Beranggotakan para generasi muda. Kebanyakan masih duduk di bangku MTs-SMA sederajat.
Bukan tanpa alasan, Kelakon hadir sebagai jawaban. Khususnya yang sarat akan cita rasa masyarakat kepulauan. Serta pesan-pesan yang merefleksikan multikulturalisme dan keberagaman gaya hidup setiap suku.
Terbentuk pada 10 Mei 2025. Kelompok pemuda yang mengusung semangat seni dan budaya ini, digagas untuk menghibur masyarakat setempat. Sekaligus memperkaya khazanah seni pertunjukan.
Pendamping Kelakon, Yahya Yahazacky menyampaikan, di tengah banyaknya sanggar tari yang telah lebih dulu berkembang, muncul gagasan sederhana namun visioner. Mengapa tidak menghadirkan teater sebagai medium bercerita yang lebih luas?
Dari situ, lahirlah manifestasi kekayaan budaya dan tradisi masyarakat kepulauan Karimunjawa.
Teater yang menjadi ruang ekspresi seni, sekaligus wadah pendidikan budaya bagi generasi muda.
Yaha yang juga kerap berperan sebagai sutradara, menjelaskan bahwa teater dipilih karena mampu merangkum banyak unsur seni sekaligus nilai kehidupan.
“Di Kemujan sudah ada banyak sanggar tari. Dari situ kami berpikir, sekalian saja membangun teater agar anak-anak bisa mengekspresikan cerita, gagasan, dan pengalaman hidup mereka,” ungkapnya Selasa (20/1).
Saat ini, Kelakon melibatkan setidaknya sepuluh pelajar, mayoritas berasal dari jenjang MTs hingga SMA.
Seluruh anggota merupakan anak-anak asli Kemujan. Proses pembinaan dilakukan secara bertahap. Sebab, sejak awal Kelakon memang dirintis dari nol, dengan keterbatasan fasilitas. Namun kaya semangat kebersamaan.
Menariknya, Kelakon tumbuh di tengah masyarakat multietnis. Karimunjawa dan Kemujan dihuni oleh beragam suku seperti Jawa, Madura, Bugis, Bajo, hingga Mandar.
Keberagaman ini menjadi sumber inspirasi utama dalam penciptaan lakon-lakon yang diangkat. Sekaligus memperkuat identitas teater sebagai cerminan kehidupan masyarakat kepulauan.
Nama “Kelakon” sendiri sarat makna. Dalam filosofi Jawa, disebutkan, Kelakon dimaknai sebagai proses yang pelan namun pasti. Alon-alon sing penting kelakon.
Semangat ini juga diejawantahkan dalam istilah “Kemujan Lakon”. Menegaskan bahwa setiap cerita lahir dari realitas masyarakat Kemujan, Karimunjawa.
Latihan rutin dilakukan seminggu sekali dengan waktu yang fleksibel, menyesuaikan jadwal sekolah para anggota.
Selain berlatih akting, anak-anak juga diajak menulis naskah, berdiskusi, dan menuangkan ide.
Menurut Yaha, teater menjadi sarana agar generasi muda tidak hanya sibuk dengan aktivitas harian. Tetapi juga memiliki kesadaran seni dan budaya.
Dalam perjalanannya, Kelakon telah mementaskan sejumlah lakon. Di antaranya Gatot Kaca Sunat, Proklamasi Kemerdekaan, Telur Emas, Ukir Jepara, dan Ande-ande Lumut.
Lakon-lakon ini mengangkat tema dan disisipi tradisi, sejarah, hingga potensi lokal. Dikemas dengan pendekatan sederhana namun sarat nilai edukatif.
Kiprah Kelakon mulai mendapat pengakuan luas.
Kelompok ini pernah masuk dalam 10 besar Festival Teater dan aktif dalam kegiatan kesenian Karimunjawa. Termasuk ajang silaturahmi seni seperti Festera, yang mempertemukan seniman Karimunjawa dengan komunitas teater di Jepara.
Para anggota lanjut Yaha, mengaku mendapatkan banyak pelajaran. Bukan hanya soal akting, tetapi juga nilai kehidupan dan kerja kolektif.
Atas dedikasinya, Kelakon menerima sejumlah penghargaan. Antara lain seperti Penghargaan sebagai Pelopor/Perintis Teater di Kecamatan Karimunjawa dari DKD. Serta Penghargaan sebagai Pembaru dan Pelopor Kesenian Teater di Kabupaten Jepara dari Bupati Jepara.
Dalam waktu dekat, Kelakon juga tengah mempersiapkan proyek untuk Hari Teater Sedunia dan Hari Teater Nasional. Seiring rencana DKD menggelar kegiatan keliling kecamatan yang tahun ini ditargetkan berlangsung di Karimunjawa. "Diharapkan ini juga menjadi satu ruang untuk mengenalkan daerah melalui seni dan budaya," pungkasnya.(*)
Editor : Mahendra Aditya