Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jejak Langkah M Rasya Alfarelhudy Asal Grobogan di Paskibraka Nasional

Intan Maylani Sabrina • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 20:18 WIB
GAGAH: M Rasya Alfarelhudy saat di Istana Negara.
GAGAH: M Rasya Alfarelhudy saat di Istana Negara.

SORAK riuh penonton bercampur dengan dentuman musik marching band, suasana khidmat di halaman Istana Negara pada 17 Agustus 2025 terasa begitu berbeda bagi M Rasya Alfarelhudy.

Remaja asal Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan itu berdiri tegak sebagai salah satu anggota pasukan 17 dalam upacara HUT ke-80 RI.

Dengan penuh percaya diri, ia melangkah pasti, membawa nama kampung halamannya ke panggung nasional.

Bagi Rasya, momen itu menjadi hari yang tak akan pernah ia lupakan.

Bertugas di depan Presiden, pejabat tinggi negara, dan disaksikan jutaan pasang mata melalui layar televisi merupakan pengalaman berharga yang tak ternilai.

Seluruh proses panjang yang ia jalani seakan terbayar lunas ketika bendera merah putih berkibar gagah di langit ibu kota.

“Alhamdulillah berjalan lancar. Saya sama sekali tidak nervous. Karena saat gladi kita sudah terbiasa latihan gabungan bersama TNI-Polri dan peserta lain. Jadi saat Hari-H, saya anggap seperti latihan biasa. Tidak grogi sama sekali,” kenang Rasya.

Selain pengalaman bertugas, ia juga merasakan bonus yang jarang dimiliki remaja seusianya.

Persahabatan dengan teman-teman dari berbagai provinsi menjadi salah satu hal paling berkesan.

Mereka belajar bersama, berbagi cerita, dan saling mengenalkan budaya daerah masing-masing.

“Rasanya seneng banget, semoga ke depan bisa bertemu lagi di Hari Lahir Pancasila. Saya doakan teman-teman selalu sehat di sana,” ucapnya penuh harap.

Siswa SMAN 1 Wirosari ini menceritakan pengalamannya selama karantina. Hari-hari Rasya selama di Jakarta diwarnai rutinitas padat di Wisma Paskibraka.

Sejak pagi buta, ia dan rekan-rekan harus bangun lebih awal untuk pemanasan sebelum menjalani latihan fisik.

Lari, push up, sit up, hingga baris-berbaris dengan standar militer menjadi menu harian yang tak bisa ditawar.

Siang harinya, mereka mengikuti materi wawasan kebangsaan, kepemimpinan, dan teknik komunikasi.

Malam hari digunakan untuk evaluasi serta penguatan mental agar seluruh peserta siap menghadapi Hari-H.

“Kami benar-benar ditempa disiplin. Jadwal padat, latihan keras, tapi justru di situ letak serunya. Kita belajar bersama, saling menguatkan, dan akhirnya jadi seperti keluarga,” tutur Rasya.

Semangat Rasya untuk terus bertahan lahir dari motivasi sederhana. Ingin membanggakan orang tua.

Ia ingin membuktikan bahwa anak dari pelosok desa pun bisa bersaing di tingkat nasional.

"Saya bisa masuk Paskibraka karena keinginan menggebu saya sendiri. Karena ingin membanggakan ayah dan ibu. Meski saya berasal dari pelosok, saya harus bisa menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil,” tegasnya.

Meski tak terpilih dalam pasukan 8, Rasya tidak kecewa. Ia sadar, pembagian formasi dilakukan dengan berbagai pertimbangan, salah satunya tinggi badan.

“Tinggi saya paling pendek, 175 cm, jadi ditaruh belakang. Yang depan rata-rata 177–178 cm. Tapi saya bangga tetap bisa menjadi bagian dari pasukan 17 di Istana Negara,” jelasnya dengan senyum lega.

Kini, setelah kembali ke Grobogan, Rasya menyadari bahwa pengalaman menjadi Paskibraka bukan sekadar tugas kenegaraan.

Lebih dari itu, ia mendapat pelajaran hidup tentang disiplin, kebersamaan, dan arti cinta tanah air. Dari pengalaman inilah lahir tekad baru untuk melanjutkan langkahnya sebagai abdi negara.

“Bagi saya, Paskibraka itu baru langkah awal. Ke depan, saya ingin terus mengabdi lewat jalur apapun, entah AKPOL, AKMIL, AAL, IPDN, atau abdi negara lainnya. Yang penting bisa bermanfaat bagi bangsa dan membanggakan orang tua,” pungkasnya.

GAGAH: M Rasya Alfarelhudy saat di Istana Negara.
GAGAH: M Rasya Alfarelhudy saat di Istana Negara.

 

Tak banyak yang menyangka, remaja kelahiran 17 Desember 2008 ini mampu melangkah sejauh itu.

Anak sulung dari pasangan Mashudi dan Wacitri ini berhasil membuktikan bahwa meski berasal dari dusun kecil di pinggir hutan, ia tetap bisa berdiri sejajar dengan anak-anak kota di panggung nasional.

Perjalanan panjangnya dari seleksi kabupaten, provinsi, hingga nasional adalah bukti nyata bahwa tekad, kerja keras, dan doa orang tua mampu mengantarkan siapa saja menuju mimpi besar. (int)

Editor : Ali Mustofa
#jateng #grobogan #Paskibraka Kota Padang