Nguri-uri budaya Jawa terus digayangkan Suyadi atau Pak Raden. Yaitu lewat Padepokan Adhem Ayom Ayem yang ia didirikan di rumahnya RT 03 RW 01, Desa Godan, Tawangharjo, Grobogan.
Dirinya memberikan berbagai keahlian seni gratis.
INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan
Suara dari alat musik gender terdengar sayup-sayup. Ketika mendekat, suara macapat anak-anak terdengar makin keras.
Perpaduan keduanya menambah kemerduan suara itu.
Anak-anak dan Suyadi yang melantunkan nada macapat. Selain melatunkan macapat, Suyadi yang memainkan alat musik gender.
Beberapa kali Suyadi atau yang biasa disapa Pak Raden membenarkan nada yang dilantunkan anak-anak didiknya tersebut.
Pak Raden-lah yang mendirikan tempat latihan itu. Ia beri nama Padepokan Adhem Ayom Ayem.
Padepokan tersebut kini telah menampung puluhan anak-anak yang berada di sekitar desa tersebut.
Pak Raden mendirikan padepokan tersebut sejak 2016 silam. Seluruh fasilitas gamelan dan alat musik non tradisional komplit berada di padepokannya.
Berbagai alat musik tersebut didapat dari hasil tabungannya selama menjadi guru.
Alat yang ia beli di antaranya gamelan, gender, alat non-tradisional, angklung, kesenian barongan, dan lesung.
”Awal terbentuknya April 2016 saat purna sebagai guru. Saya sudah berpikir jauh-jauh hari. Apa yang harus dilakukan setelah pensiun. Kalau tidak melakukan sesuatu, nanti tidak punya apa-apa yang dikenal dan ingat," kesannya.
Menurutnya, ia memiliki jiwa seni yang kental. Ilmu tersebut saya salurkan di padepokan ini. Kebetulan sebagai wadah anak-anak di Desa Godan.
Ternyata bukan hanya dari Godan saja, tapi anak-anak di sekitaran desanya juga ada yang ikut berlatih di padepokan tersebut.
Lewat padepokan ini para generasi Z bisa nguri-uri berbagai budaya Jawa yang mulai terkikis perkembangan zaman.
Anak-anak dituntut untuk berbahasa krama alus saat berkomunikasi, berpakaian sopan, mengutamakan unggah-ungguh, dan tata krama yang terus dikenalkan kembali.
Harapannya ke depan, pihak terkait bisa melirik dan bisa menyalurkan bakat anak-anak yang sudah diasah ini.
"Saya akan tetap melestarikan budaya Jawa ini semampu saya. Saya memiliki slogan tulus, jujur, ikhlas dan sabar. Latihan di sini murni free, tidak dipungut biaya apapun. Karena ini menjadi wadah anak-anak di sini agar tidak hanya bermain gawai, tapi mengenal kembali budaya mereka,” ungkapnya.
Selama ini, Pak Raden memberikan latihan kepada anak-anak secara gratis.
Mulai dari karawitan, macapat, angklung, tari, akustik, permainan tradisional, dongeng, hingga mengajak anak perkaya literasi.
Membaca buku di sudut baca yang sudah tersedia di padepokan tersebut. (*/zen)
Editor : Ali Mustofa