Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Teguh Budi Wiyono, Sosok Pegiat Konservasi dan Penggas Wisata Trekking Kopi Muria

Sekarwati • Kamis, 18 Juli 2024 | 00:20 WIB
KENALKAN POTENSI DESA: Teguh Budi Wiyono mengajak wisatawan menyusuri perkebunan kopi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, belum lama ini.
KENALKAN POTENSI DESA: Teguh Budi Wiyono mengajak wisatawan menyusuri perkebunan kopi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, belum lama ini.

Teguh Budi Wiyono, pegiat konservasi Muria aktif dalam mengenalkan pertanian Desa Colo, Dawe, Kudus.

Salah satunya lewat kopi Muria dengan wisata trekking kopi.

SEKARWATI, Radar Kudus, Kudus

Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus memiliki tempat wisata religi Makam Sunan Muria yang tidak pernah sepi dari pengunjung.

Namun, bagi Teguh Budi Wiyono, di tempat kelahirannya itu ada banyak potensi yang bisa diberikan pada wisatawan selain wisata itu.

Yakni, lewat kearifan lokal masyarakat dalam mengembangkan pertanian kopi muria.

Ide itu kemudian diluncurkan pada tahun 2012, Teguh mengajak anggota desa wisata Colo membuat wisata trekking kopi muria.

Wisata itu memiliki konsep mengajak wisata berjalan kaki menyusuri perkebunan kopi di pegunungan Muria.

Setelah itu, wisatawan mengikuti panen kopi, memasak biji, dengan cara tradisional menggunakan tungku kayu. Sampai dengan menikmati seduhan kopi yang dimasak.

“Jadi kami mengajak wisatawan untuk trekking selama empat jam menyusuri kebun kopi sampai dengan menikmati kopi yang disajikan,” katanya kemarin.

Bagi Teguh untuk mengangkat potensi kopi Muria, bukan berarti harus dari kalangan petani kopi.

Menurutnya, siapa saja yang memiliki ide cemerlang juga bisa membantu dalam mengenalkan kopi Muria secara luas.

Masyarakat juga diuntungkan dengan konsep tersebut.

”Jadi tidak hanya petani kopi yang diuntungkan. Pelaku usaha lain di Desa Colo juga terkena manfaatnya. Sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Uniknya, wisata trekking ini tidak dipromosikan bebas. Baik di brosur, media massa, maupun platform digital.

Ia mengenalkan wisata tersebut dengan cara memanfaatkan jejaring lewat kegiatan komunitas, biro wisata, satuan pendidikan, dan lain-lain.

Selain itu, di beberapa sekolah juga sudah melakukan kerja sama dalam rangka kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Siswa diberi paket wisata edukasi pengenalan kopi muria dengan cara yang menyenangkan.

“Saya rasa tidak perlu promosi. Karena kami yakin, banyak wisatawan tertarik untuk mencoba,” ujarnya.

Meski demikian tidak sedikit wisatawan yang datang setiap masa panen kopi tiba. Rata-rata pengunjung berkisar 40-60 orang.

Setiap pengunjung dikenai biaya Rp 135 ribu lengkap dengan fasilitas wisata dan makan siang.

Wisatawan tidak hanya datang dari wilayah sekitar Kabupaten Kudus, melainkan dari berbagai daerah dan mancanegara.

Seperti turis dari Prancis, Jerman, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

”Turis dari luar negeri itu kebetulan mahasiswa pertukaran luar negeri di UMK yang melakukan kunjungan ke Desa Colo,” imbuhnya.

Ia berharap dengan adanya kegiatan tersebut, ke depannya kopi Muria bisa dikenal secara luas.

Kopi muria tidak hanya dikenal sebagai minuman biasa saja, melainkan sebagai cerita yang menarik untuk dikenang dan disalurkan banyak orang.

“Untuk bisa menikmati kopi itu kan tidak hanya diminum saja, tapi juga bisa lewat wisata edukasi seperti ini,” paparnya. (zen/*)

 

Editor : Ali Mustofa
#trekking #Teguh Budi Wiyono #pegunungan muria #pertanian #kopi muria kudus #Kudus #desa colo #wisatawan