Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cerita Toleransi Warga Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Rembang, Rutin Sowan Kiai di Hari Besar

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Senin, 25 Desember 2023 | 23:27 WIB

 

SOWAN: Dwi Susilo, salah satu pengurus Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Rembang berfoto bersama KH Maimoen Zubair (Almarhum).
SOWAN: Dwi Susilo, salah satu pengurus Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Rembang berfoto bersama KH Maimoen Zubair (Almarhum).

BUDAYA toleransi dicerminkan oleh warga Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Rembang.

Saat momen Idul Fitri misalnya. Para pengurus berkunjung ke ndalem para kiai.

Selain itu, anak-anak juga digerakkan untuk membantu membersihkan masjid.

Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Rembang sedang sibuk mempersiapkan Natal.

Kemarin siang, mereka masih tampak menata berbagai pernak pernik untuk menyambut Misa yang akan dilaksanakan pukul 19.00 tadi malam.

Nuansa Natal sudah terasa begitu memasuki gereja yang berada di Jalan Diponegoro Nomor 91 Rembang itu.

Begitu sampai halaman, akan disambut dengan patung Santa Claus yang terbuat dari busa.

Replika tokoh yang dikenal suka berbagi hadiah kepada anak-anak itu sudah mulai dirangkai sekitar sepekan lalu.

Sampai dengan siang kemarin persiapan sudah hampir beres. Bunga-bunga sudah ditata di area altar.

Selain itu, juga ada diorama tentang kelahiran Yesus yang ditata di pojok gereja.

Para panitia dan warga gereja tampak antusias dan bersuka cita menyambut Natal.

Ternyata, momen suka cita itu tak hanya dicerminkan saat 25 Desember.

Setiap momen Idul Fitri, warga Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus juga ikut antusias.

Mereka menyempatkan berkunjung ke para kiai.

Budaya toleransi memang kerap diwujudkan dalam berbagai kegiatan.

Dwi Susilo, salah satu pengurus gereja bercerita, baru-baru ini ada sekelompok anak-anak muslim berkunjung ke gereja.

Mereka ingin mengetahui tentang kegiatan dan benda-benda di gereja.

“Banyak anak-anak sekitar SD usianya. Jadi dia benar-benar ingin tahu. Kami welcome kepada umat lain,” katanya.

HANGAT: Warga Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus berkunjung ke Ponpes Soditan Lasem.
HANGAT: Warga Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus berkunjung ke Ponpes Soditan Lasem.

Kegiatan serupa juga pernah dilakukan oleh anak-anak Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Rembang.

Seperti berkunjung ke Mesjid Agung dan Masjid Jami Lasem untuk bersih-bersih.

Tujuannya untuk pembinaan kepada anak-anak dan remaja dalam menumbuhkan toleransi.

Kegiatan itu rutin dilaksanakan setiap tahun.

“Mengajak wisata religi. Kami kerja bakti, kemudian pengurusnya (masjid, Red) menjelaskan,” ujarnya.

Setiap hari besar agama, kata Dwi, Gereja Katolik juga mengajak gereja-gereja lain untuk berkunjung ke para kiai.

Saat Idul Fitri, kenang dia, sering sowan ke ndalem Almarhum KH Maimoen Zubair di Sarang.

Setelah itu ke KH Ahmad Zaim Ma’soem (Gus Zaim), dan KH Mustofa Bisri.

“Kalau hari besar agama lain, seperti Waisak kami juga ke sana (tokoh Budha, Red). Setiap berkunjung kami mengajak lintas agama,” katanya.

Dwi merasa terkesan ketika berkunjung ke ndalem Mbah Moen -sapaan KH Maimoen Zubair-. Cara ulama kharismatik itu dalam memuliakan tamu tidak bisa ia lupakan.

Mbah Moen, kata dia, selalu menerima tamu siapapun orangnya.

“Kalau ke sana, belum makan, tidak boleh pulang,” kenangnya.

Dwi juga merasakan nuansa toleransi yang kental di lingkungan Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Leteh, Rembang.

Ia memiliki kenangan tersendiri di lingkungan ndalem KH Mustofa Bisri (Gus Mus) itu.

Dia bercerita, semasa kecil, ada kerabatnya yang beragama Katolik tinggal di lingkungan pondok.

Sekitar tahun 1952, di lingkungan pondok Leteh ada tiga KK yang beragama Katolik.

Setiap ada kegiatan, saling membantu, seperti menyediakan tempat parkir untuk santri.

Wakil Bupati Rembang Muhammad Hanies Cholil Barro juga merasakan keharmonisan tersebut.

Pria yang tumbuh di lingkungan Pondok Leteh sejak kecil itu bercerita, dulu di depan pondok memang ada rumah seorang petinggi desa.

“Itu dari jujukan anak santri ketika kirimannya telat. Sering ngutang ke Pak Indarto (nama tetangga tersebut). Pas di depan rumah,” kata adik dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Yahya Cholil Staquf itu.

Dia merasakan budaya toleransi di sana. Kata Hanies, dulu rumah tersebut memiliki pohon mangga.

Jika berbuah selalu diambil oleh santri. Dan, mereka baru mengaku di keesokan harinya.

Meski demikian, Pak Indarto tidak mempermasalahkan.

“Itu toleransi luar biasa, pelemnya di colongi anak. Jadi punya pohon mangga besar. Kalau ada yang matang diambilin. Besok baru bilang: pak tadi malem mangganya... Oo tidak papa kang,” ujar Gus Hanies -sapaan akrabnya- bercerita.

“Dan Pak Indarto setiap ada hajatan hadir, dan kami undang,” imbuhnya. (vah)

HANGAT: Warga Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus berkunjung ke Ponpes Soditan Lasem.
HANGAT: Warga Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus berkunjung ke Ponpes Soditan Lasem.
Editor : Ali Mustofa
#rembang #natal #pondok pesantren #katholik #gereja #toleransi