Dari Teras Rumah ke Pasar Dunia: Ecoprint Karya Nunung Noor Khamimah Tembus Thailand dan Australia
Redaksi Radar Kudus• Senin, 26 Mei 2025 | 00:19 WIB
Nunung Noor Khamimah
KUDUS – Berawal dari teras rumah dan tangan-tangan kreatif yang telaten menata daun di atas kain putih, Nunung Noor Khamimah kini sukses menjadikan hasil karyanya dikenal hingga luar negeri.
Melalui brand Jatisemi Ecoprint, perempuan asal Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kudus ini berhasil mengolah dedaunan menjadi fashion ramah lingkungan yang dikirim hingga ke Thailand dan Australia.
Di halaman rumah sederhana milik Nunung, aktivitas produksi ecoprint berlangsung tanpa henti. Pagi itu, ia terlihat menata daun-daun di atas kain putih panjang yang terbentang di teras.
Proses itu bukan sekadar menempel daun. Pola-pola alami dipilih dengan hati-hati, disusun dengan presisi agar menghasilkan motif yang estetik.
"Beginilah keseharian saya sejak tahun 2021. Alhamdulillah, dari resign sebagai perawat, saya bisa berkarya melalui ecoprint yang ramah lingkungan," ujar Nunung yang akrab disapa Imah.
Berawal dari Resign, Lahirkan Brand “Jatisemi”
Langkah Imah meninggalkan profesinya sebagai perawat justru menjadi awal perjalanan baru yang tak disangka.
Ia mulai serius menekuni teknik ecoprint—sebuah metode pewarnaan kain dengan memanfaatkan pigmen alami dari daun dan bunga.
Kini, Jatisemi Ecoprint telah menghadirkan beragam produk mulai dari busana hingga aksesori. Sandal, sepatu, rok, gamis, kemeja, jilbab, tas, hingga gantungan kunci—semuanya berbahan dasar kain ecoprint buatan tangan Imah.
“Kami pakai beberapa jenis kain, seperti rayon twill, tenun ATBM, hingga sutra.
Semua dicetak dengan dedaunan yang saya tanam sendiri di halaman rumah,” ujarnya sambil menunjukkan beberapa koleksi daun favoritnya, seperti acalipa, jarak wulung, kalpataru, hingga pakis.
PROSES: Nunung Noor Khamimah perajin ecoprint saat Menyusun daun-daun diatas kain putih untuk memperlihatkan proses pembuatan ecoprint di rumahnya.
Teknik Tradisional, Kualitas Internasional
Ada dua teknik utama yang digunakan: ecopounding dan steaming. Proses pengerjaan satu lembar kain bisa memakan waktu dua hingga tiga jam.
Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan hingga 50 lembar kain.
Pewarna alami juga menjadi keunggulan produknya. Warna merah dari kayu secang, kuning dari teger, cokelat dari kulit kayu ulin, biru dari indigo, dan hijau dari daun ketapang menjadi palet warna alami dalam setiap karyanya.
“Untuk pasar, kami menyasar segmen menengah ke atas. Harga kain ecoprint bisa dari Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta tergantung bahan. Produk gamis mulai dari Rp 550 ribu, dan tas kulit bisa mencapai Rp 1,5 juta,” jelasnya.
Tembus Pasar Luar Negeri, Hadir di Panggung Fashion Nasional
Meski belum mengekspor secara resmi dalam skala besar, Imah mencatatkan prestasi tersendiri: produknya telah dibeli oleh konsumen dari Thailand dan Australia. Di dalam negeri, produknya telah tersebar hampir ke seluruh provinsi.
Perjalanan menuju pasar internasional itu diawali dari langkah kecil: mengikuti pelatihan daring selama pandemi.
“Sejak September 2021 saya ikut pelatihan online. Dari situ saya mulai praktek langsung, dan akhirnya dipercaya untuk melatih orang lain,” ungkapnya.
Kini, Imah tak hanya memproduksi, tapi juga menjadi pelatih ecoprint. Ia sudah mengajar guru-guru dari berbagai daerah seperti Demak, Jepara, dan Kudus.
Selain itu, produknya juga tampil di berbagai ajang fashion nasional seperti Fashion Werk dan Fashion Trend di Jakarta dan Yogyakarta.
KARYA NYATA: Nunung Noor Khamimah perajin ecoprint memperlihatkan salah satu produk kain ecoprint miliknya.
Hijaukan Dunia Lewat Kain
Bagi Imah, ecoprint bukan sekadar seni tekstil. Ini adalah bentuk komitmen terhadap lingkungan dan pemberdayaan perempuan.
Lewat bahan alami dan teknik tradisional, ia membuktikan bahwa kearifan lokal bisa bersaing di pasar global.
“Saya ingin karya ini tak hanya jadi produk jualan, tapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga alam dan memberdayakan diri lewat kreativitas,” pungkasnya. (Indah Susanti)