Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Tekanan Global Menguat, Nilai Tukar Rupiah Terperosok Lagi ke Level Rp18.124 per Dolar AS

Ghina Nailal Husna • Senin, 13 Juli 2026 | 20:10 WIB
Tekanan Global Menguat, Nilai Tukar Rupiah Terperosok Lagi ke Level Rp18.124 per Dolar AS
Tekanan Global Menguat, Nilai Tukar Rupiah Terperosok Lagi ke Level Rp18.124 per Dolar AS

 

RADAR KUDUS — Tren pelemahan mata uang domestik terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berlanjut dan memicu kewaspadaan tinggi di sektor hulu keuangan nasional.

Berdasarkan data pasar spot pada pembukaan perdagangan Senin (13/7/2026), nilai tukar rupiah dibuka merosot signifikan dengan koreksi sebesar 59 poin atau setara 0,33% ke level Rp18.124 per dolar AS.

Posisi ini membalikkan sentimen positif akhir pekan lalu, di mana rupiah sempat merangkak naik dan ditutup di level Rp18.065 per dolar AS.

Baca Juga: Isak Tangis Keluarga: Putri Pelawak Temon Ungkap Kronologi Kepergian Sang Ayah Akibat Serangan Jantung

Keterpurukan nilai tukar rupiah ini utamanya dipicu oleh lonjakan indeks dolar AS (DXY) di pasar global.

Penguatan mata uang pembanding tersebut secara otomatis melayangkan tekanan berat pada stabilitas mata uang di negara-negara berkembang (emerging markets), tidak terkecuali Indonesia.

Alarm Negatif Pasar Saham dan Ancaman Capital Outflow

Menanggapi fluktuasi tajam ini, pengamat ekonomi sekaligus Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan proyeksi dan analisis mendalam.

Menurutnya, posisi nilai tukar rupiah yang terus bertahan di atas psikologis Rp18.000 per dolar AS berpotensi besar menularkan sentimen negatif ke pasar ekuitas domestik.

Ada beberapa dampak sistemik yang diwaspadai jika depresiasi ini terus bergulir tanpa intervensi kuat:

  • Lonjakan Persepsi Risiko: Investor internasional akan memandang pasar keuangan Indonesia memiliki tingkat risiko (risk premium) yang lebih tinggi.

  • Potensi Capital Outflow: Apabila Bank Indonesia (BI) tidak segera menerapkan bauran strategi intervensi moneter yang agresif atau fundamental ekonomi tidak menunjukkan perbaikan masif, arus modal asing diprediksi akan keluar secara masif dari dalam negeri.

  • Pelarian ke Aset Safe Haven: Para manajer investasi global diproyeksikan akan mengalihkan likuiditas mereka ke aset aman, seperti obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan mata uang dolar AS.

IHSG Sesi Pagi Bergerak Anomali dan Bertahan Menguat

Dinamika Pasar Modal: Kendati nilai tukar rupiah sedang tertekan hebat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan pergerakan yang anomali dan cenderung resisten pada awal pekan ini.

Baca Juga: Tepis Isu Penolakan, Ketua Komisi III DPR Habiburokhman Tegaskan RUU Perampasan Aset Jadi Prioritas Utama: "Kita Gaspol Pakai Turbo!"

Pada perdagangan sesi pagi, indeks acuan bursa domestik tersebut terpantau masih mampu bergerak di zona hijau dengan penguatan sekitar 0,5% menuju level 5.954.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap diimbau untuk cermat dan rasional dalam memitigasi risiko portfolio, mengingat volatilitas kurs dapat langsung berdampak pada kinerja laporan keuangan emiten yang memiliki beban utang valuta asing (valas) tinggi atau ketergantungan besar pada bahan baku impor. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Rupiah anjlok dolar AS 2026 #nilai tukar rupiah perdagangan senin #analisis Nafan Aji Mirae Asset #indeks dolar DXY menguat #pergerakan IHSG sesi pagi