Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rekor Baru! Rupiah Terdepresiasi hingga Rp18.000 per 1 Dolar

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 4 Juni 2026 | 07:57 WIB
Mata uang Indonesia dan Dollar
Mata uang Indonesia dan Dollar

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Kondisi ini menjadi perhatian serius pelaku pasar karena menandai salah satu periode terlemah bagi mata uang Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan berbagai data perdagangan pagi hari, kurs rupiah bergerak di kisaran Rp18.001 hingga Rp18.010 per dolar AS. Angka tersebut melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sehari sebelumnya ketika rupiah ditutup di level Rp17.966 per dolar AS atau melemah sekitar 0,71 persen.

Tekanan terhadap mata uang Garuda kali ini tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipicu oleh kombinasi sentimen global yang semakin kompleks. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Baca Juga: REKOR! Rupiah Kian Terpuruk ke Level Rp18.000 per Dolar AS

Situasi di kawasan tersebut semakin memburuk setelah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di saat yang sama, operasi militer yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan risiko inflasi global.

Kondisi tersebut mendorong investor global memburu aset-aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan jual yang cukup besar.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Selain konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, perkembangan terbaru di kawasan Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengalirkan hampir seperlima pasokan minyak dunia. Ketika kawasan tersebut terganggu, pasar global langsung merespons dengan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan potensi lonjakan harga komoditas.

Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan performa yang relatif kuat. Data ketenagakerjaan dan aktivitas bisnis yang lebih baik dari perkiraan memperkuat keyakinan pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Suku bunga tinggi di AS membuat aset berbasis dolar semakin menarik bagi investor global. Dampaknya, arus modal cenderung bergerak keluar dari negara berkembang menuju pasar keuangan Amerika Serikat.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Data inflasi Indonesia pada Mei 2026 menunjukkan kenaikan menjadi 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 0,13 persen.

Kenaikan inflasi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai daya beli masyarakat dan efektivitas kebijakan pengendalian harga. Meski inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali, pasar tetap mencermati potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Data perdagangan Indonesia juga menjadi perhatian investor. Meskipun neraca perdagangan masih mencatat surplus pada April 2026, nilainya menyusut tajam dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan sektor eksternal Indonesia mulai menghadapi tantangan yang lebih besar akibat perlambatan perdagangan global.

Sementara itu, pemerintah membantah bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh kondisi fiskal yang memburuk. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dan tidak terdapat kebijakan fiskal yang dapat dianggap sebagai penyebab utama depresiasi mata uang.

Baca Juga: UPDATE! Rupiah Tekor Rp18.000 per Dolar AS, Ini Dampaknya

Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar global dan faktor eksternal yang berada di luar kendali pemerintah. Ia juga menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan wilayah kebijakan yang menjadi kewenangan utama Bank Indonesia.

Pemerintah dan Bank Indonesia terus melakukan koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna memastikan volatilitas pasar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Jika dibandingkan dengan sejumlah periode krisis sebelumnya, posisi rupiah saat ini menjadi sorotan karena telah bergerak melampaui level terlemah saat pandemi Covid-19 maupun mendekati titik-titik kritis yang pernah terjadi pada masa krisis moneter Asia.

Meski demikian, para ekonom menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibandingkan era krisis 1998. Cadangan devisa yang lebih kuat, sistem perbankan yang lebih sehat, serta koordinasi kebijakan yang lebih baik menjadi faktor penyangga penting dalam menghadapi tekanan pasar.

Ke depan, arah pergerakan rupiah masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia. Pasar kini menunggu data ekonomi penting dari AS yang berpotensi menjadi penentu arah pergerakan mata uang dalam beberapa pekan mendatang.

Editor : Mahendra Aditya
#kurs dollar #dollar #1 usd #dolar ke rupiah #rupiah