RADAR KUDUS – Pasar keuangan domestik kembali diguncang oleh tren penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data pasar Bloomberg pada Selasa (19/5/2026), nilai tukar rupiah terpantau kembali melorot ke posisi Rp17.724 per dolar AS, atau mengalami pelemahan sebesar 38 poin (sekitar 0,22 persen) dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Pelemahan ini memperpanjang catatan minor mata uang Garuda yang telah terdepresiasi sebesar 6,11 persen sejak awal tahun (year-to-date).
Baca Juga: Cegat Misi Kemanusiaan ke Gaza, Militer Israel Tahan 9 WNI Termasuk 4 Jurnalis Nasional
Fenomena ini memicu perhatian serius dari pelaku pasar, ekonom, hingga jajaran pemerintahan tertinggi.
Para analis keuangan menilai kejatuhan rupiah kali ini tidak lepas dari kombinasi faktor eksternal yang masif.
Penguatan indeks dolar AS secara global dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang diprediksi tetap bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan.
Selain masalah moneter, ketegangan geopolitik dunia yang tak kunjung mereda di beberapa kawasan strategis turut mendorong investor global untuk menarik modal mereka dari pasar berkembang (emerging markets) dan mengalokasikannya ke aset-aset aman (safe haven) berbasis dolar AS.
Merespons kepanikan pasar dan spekulasi di ruang publik, Presiden RI Prabowo Subianto meminta masyarakat luas untuk tetap tenang dan rasional.
Dalam pidato resminya, kepala negara menegaskan bahwa pemerintah menjamin ketersediaan serta keterjangkauan kebutuhan pokok nasional.
"Fundamental kebutuhan utama masyarakat kita, mulai dari sektor pangan hingga kecukupan energi domestik, masih dalam kondisi yang sangat aman dan terkendali.
Gejolak ini adalah imbas dari ekonomi global yang tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga dialami oleh banyak negara lain," jelas Presiden Prabowo.
Presiden juga menggunakan pendekatan analogi yang sederhana untuk meredakan ketegangan psikologis di masyarakat bawah. Beliau mengingatkan bahwa sebagian besar aktivitas ekonomi riil di tingkat akar rumput tidak menggunakan valuta asing secara langsung.
"Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok," ujar Prabowo menekankan bahwa ketahanan ekonomi domestik di sektor pertanian dan logistik lokal masih berjalan normal tanpa hambatan berarti.
Baca Juga: Kejagung Usut Dugaan Korupsi Konsesi Tol Cawang-Pluit, Putri Jusuf Hamka Dipanggil Penyidik
Meskipun konsumsi di tingkat perdesaan menggunakan mata uang rupiah, para pengamat ekonomi mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada terhadap risiko imported inflation (inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga barang impor).
Pelemahan rupiah hingga menembus angka Rp17.700 ini lambat laun dapat mengerek biaya produksi industri manufaktur dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan saat ini terus mematangkan bauran strategi moneter dan fiskal guna mengintervensi pasar valuta asing secara terukur, guna memastikan pelemahan rupiah tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang tengah berjalan. (*)