RADAR KUDUS – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan awal pekan, Senin (18/5/2026).
Berdasarkan data dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam tercatat turun Rp5.000 dan berada di posisi Rp2.764.000 per gram.
Penurunan ini melanjutkan tren koreksi sebelumnya.
Pada Sabtu (16/5/2026), harga emas Antam bahkan sempat anjlok cukup dalam sebesar Rp50.000 menjadi Rp2.769.000 per gram.
Sementara pada perdagangan Jumat (15/5/2026), harga juga terkoreksi Rp20.000 hingga berada di level Rp2.819.000 per gram.
Meski dalam beberapa hari terakhir mengalami tekanan, secara tahunan harga emas Antam masih mencatatkan penguatan sekitar 11 persen.
Pada awal tahun, tepatnya 1 Januari 2026, harga emas masih berada di level Rp2.488.000 per gram.
Adapun rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) tercatat pada 29 Januari 2026 di level Rp3.168.000 per gram.
Tidak hanya harga jual, nilai buyback atau harga pembelian kembali emas Antam juga ikut melemah.
Pada Senin (18/5/2026), harga buyback turun Rp7.000 menjadi Rp2.569.000 per gram.
Dalam transaksi emas batangan, pemerintah mengenakan ketentuan pajak sesuai PMK Nomor 34/PMK.10/2017.
Penjualan kembali emas di atas Rp10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) 22 sebesar 1,5 persen untuk pemilik NPWP dan 3 persen untuk non-NPWP, yang dipotong langsung dari nilai transaksi buyback.
Sementara itu, untuk pembelian emas batangan, juga dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen bagi non-NPWP, dengan setiap transaksi disertai bukti potong pajak.
Berikut daftar harga pecahan emas Antam pada Senin (18/5/2026) belum termasuk pajak:
- 0,5 gram: Rp1.432.000
- 1 gram: Rp2.764.000
- 2 gram: Rp5.468.000
- 3 gram: Rp8.177.000
- 5 gram: Rp13.595.000
- 10 gram: Rp27.135.000
- 25 gram: Rp67.712.000
- 50 gram: Rp135.345.000
- 100 gram: Rp270.612.000
- 250 gram: Rp676.265.000
- 500 gram: Rp1.352.320.000
- 1.000 gram: Rp2.704.600.000
Dengan kondisi tersebut, pasar emas domestik masih bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan di awal pekan perdagangan.
Editor : Ali Mustofa