Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Fenomena Inflasi dalam Angka: Dari Gaji 2 Juta hingga 4 Juta, Kenapa Hidup Tetap Sulit

Nayla Karima • Jumat, 14 November 2025 | 19:56 WIB
Inflasi ekonomi
Inflasi ekonomi

RADARKUDUS - Coba deh pikirin sebentar. Tahun 2010, gaji 2 juta udah bisa bikin hidup terasa lumayan lega. Beras cuma 6 ribuan sekilo, makan di warung masih 5 ribu udah kenyang.

Tapi sekarang, 2025, gaji 4 juta terasa kayak upgrade, padahal harga beras juga udah 12 ribu.

Naik gaji dua kali lipat, tapi harga-harga juga ikut lari. Jadi sebenernya, kita beneran makin kaya… atau cuma main di angka yang berubah?

Nah, di sinilah “sihir” uang bekerja.

Uang itu bukan nilai sebenarnya, tapi simbol kesepakatan. Kertas Rp 100 ribu gak punya nilai kalau orang lain gak percaya nilainya segitu.

Nilai uang lahir dari kepercayaan pada sistem, pada pemerintah, bank sentral, dan ekonomi yang menopangnya. Begitu kepercayaan itu goyah, uang bisa kehilangan “auranya” secepat trending TikTok turun.

Inflasi muncul karena jumlah uang yang beredar lebih banyak dari barang atau jasa yang tersedia.

Ibarat pesta, kalau makanan terbatas tapi tamunya makin banyak, rebutan pasti terjadi.

Akhirnya harga makanan naik, itulah inflasi dalam bentuk paling sederhana. Uangmu banyak, tapi nilainya pelan-pelan “tergerus”.

Dan uniknya, inflasi ini licik. Dia datang pelan, tapi efeknya kayak rayap yang makan pondasi rumah, lama-lama goyah juga. Kita pikir gaji naik, padahal daya beli diam-diam turun.

Itu sebabnya disebut ilusi kemakmuran: angka di rekening naik, tapi apa yang bisa kamu beli malah makin sedikit.

Baca Juga: Siapa Bilang Ketimpangan Tidak Nyata? Bukti Nyata dari Gaji Fantastis Elon Musk

Sistem uang modern sekarang berbasis fiat money, artinya nilainya gak lagi ditopang emas seperti dulu. Nilainya hanya bertahan selama orang percaya.

Jadi ketika pemerintah cetak uang lebih banyak buat menutup defisit, roda ekonomi memang muter, tapi nilainya pelan-pelan melemah.

Karena ya, makin banyak uang beredar, makin rendah nilainya, kayak stok barang langka yang tiba-tiba melimpah.

Makanya, bisa dibilang “Inflasi itu pajak yang gak kelihatan.” Karena uangmu bisa berkurang nilainya tanpa kamu sadar, meski nominalnya tetap sama.

Daya belimu menurun, tapi gak ada siapa pun yang ngambil uang itu secara langsung.

Yang paling diuntungkan jelas mereka yang bisa mengendalikan arus uang.

Pemerintah misalnya, utangnya jadi terasa lebih ringan karena nilai uang di masa depan menurun.

Pemilik aset seperti tanah, properti, dan saham juga ikut senyum, karena nilainya justru naik seiring inflasi.

Tapi di sisi lain, pekerja bergaji tetap harus kejar-kejaran sama harga barang yang gak mau kompromi.

Penabung pun diam-diam rugi, karena uang yang disimpan nilainya makin kecil tiap tahun.

Jadi, waktu kamu ngerasa “dulu 2 juta cukup, sekarang 4 juta kok seret”, bukan karena kamu gagal, tapi karena sistem uang itu memang dirancang buat terus bergerak.

Uang kehilangan nilainya sedikit demi sedikit, supaya ekonomi terus berputar.

Dan di situlah letak ketimpangannya. Sistem ini bikin yang punya aset makin aman, sementara yang hidup dari gaji bulanan justru terus berjuang.

Uang, pada akhirnya, bukan cuma alat tukar, tapi juga alat kendali yang halus banget.

Nilainya hidup karena kita semua percaya, dan yang paling diuntungkan adalah mereka yang bisa mencetak dan mengatur arusnya.

 

Editor : Ali Mustofa
#Inflasi dan UMR 2026 #inflasi Sumbar 2025 #Inflasi Stabil #inflasi #Inflasi Oktober 2025 #inflasi dan pertumbuhan ekonomi