RADAR KUDUS - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah pembukaan perdagangan Selasa (7/10/2025) menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda sempat naik 0,1 persen menjadi Rp16.566 per dolar AS. Namun penguatan ini dinilai tidak akan bertahan lama.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah justru melemah 0,12 persen ke level Rp16.583 per dolar AS.
Sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih rentan melemah di tengah tekanan global dan sentimen pasar yang belum stabil.
Analis pasar uang Fikri C. Permana memperingatkan, tren pelemahan rupiah berpotensi berlanjut hingga mencapai kisaran Rp16.600 per dolar AS, terutama jika faktor eksternal tak kunjung membaik.
Baca Juga: Buruan Daftar! BPKH 2025 Buka 11 Formasi Bergengsi, Ini Syarat dan Cara Lamar Secara Online
Shutdown Pemerintahan AS Jadi Awan Gelap Pasar Global
Dampak Politik dan Fiskal Negara Besar Mengguncang Nilai Tukar
Fikri menyoroti shutdown pemerintahan Amerika Serikat yang berkepanjangan sebagai salah satu faktor utama ketidakpastian pasar global. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan kebijakan fiskal AS, mengingat negosiasi anggaran antara Kongres dan Gedung Putih masih menemui jalan buntu.
Tak hanya itu, risiko fiskal di sejumlah negara maju seperti Jepang juga turut memperburuk sentimen. Investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, sehingga menekan nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
“Tekanan eksternal ini bukan hanya soal shutdown AS, tapi juga meningkatnya aksi jual di pasar saham global. Investor sedang menghindari risiko,” jelas Fikri.
Baca Juga: Sudah Terbit atau Belum? Ini Cara Mudah Cek NIP PPPK 2025 Lewat Mola BKN
Sentimen Domestik: Lelang SUN Jadi Faktor Penentu
Pasar Obligasi Dalam Negeri Diantisipasi Pelaku Pasar
Selain tekanan eksternal, faktor domestik juga ikut memengaruhi arah rupiah. Pemerintah Indonesia hari ini menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN), dengan penawaran yang diharapkan mencapai Rp100 triliun.
Meski minat investor masih cukup stabil, pelemahan rupiah dapat terjadi apabila hasil lelang tidak sesuai ekspektasi pasar. Lelang SUN menjadi indikator penting bagi investor untuk menilai daya tarik instrumen utang Indonesia di tengah suku bunga tinggi global.
“Jika penawaran tidak kuat, bisa memicu pelemahan rupiah lebih lanjut karena permintaan dolar meningkat untuk pembiayaan dan transaksi,” tambah Fikri.
Kebijakan The Fed: Ujian Berat untuk Rupiah
Pernyataan Hawkish Tekan Sentimen Pasar
Analis pasar uang Lukman Leong juga menilai tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilepaskan dari sikap Federal Reserve (The Fed) yang kembali menunjukkan nada hawkish. Pejabat The Fed, Jeff Schmid, menegaskan bahwa suku bunga saat ini sudah berada di level ideal dan tidak ada kebutuhan untuk menurunkannya dalam waktu dekat.
Sinyal tersebut langsung memperkuat dolar AS di pasar global dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. “Pelemahan rupiah masih akan terbatas di kisaran Rp16.550 – Rp16.650 per dolar AS,” kata Lukman.
Ia menambahkan, investor kini menantikan rilis cadangan devisa Indonesia yang diperkirakan meningkat menjadi USD159 miliar, sebagai salah satu faktor penyeimbang dalam menghadapi tekanan eksternal.
IHSG Bergerak di Zona Hijau, Tapi Pasar Tetap Waspada
Bursa Saham Indonesia Menunjukkan Optimisme Sementara
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan positif di tengah pelemahan rupiah. Pada sesi pertama perdagangan hari ini, IHSG menguat ke level 8.182,66, dan hingga pukul 11.00 WIB, indeks masih bertahan di sekitar 8.175.
Menurut Analis Pasar Modal Rully Arya Wisnubroto dari Mirae Asset Sekuritas, penguatan IHSG sejalan dengan ekspektasi pasar bahwa saham-saham unggulan masih diminati investor domestik. “Tren positif ini didukung oleh sektor keuangan dan komoditas,” ujarnya.
Namun, data menunjukkan adanya tekanan dari penjualan bersih investor asing (net sell) sebesar Rp472 miliar pada perdagangan sebelumnya. Saham-saham seperti BBRI, BMRI, EMTK, BUMI, dan COIN menjadi yang paling banyak dilepas asing.
Prediksi Berbeda dari BNI Sekuritas
IHSG Bisa Koreksi Jika Tekanan Global Berlanjut
Berbeda dengan Mirae Asset, analis BNI Sekuritas memprediksi IHSG akan bergerak terbatas atau bahkan melemah. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menilai bahwa potensi koreksi tetap terbuka karena tekanan global masih kuat.
Menurutnya, IHSG memiliki level support di rentang 8.080–8.100 dan resistance di level 8.150–8.180. “Koreksi bisa terjadi bila pasar global kembali bergejolak akibat faktor politik dan kebijakan moneter AS,” jelas Fanny.
Bursa Global Berfluktuasi, Jepang Jadi Pusat Perhatian
Sanae Takaichi Berpotensi Jadi Perdana Menteri Wanita Pertama Jepang
Dari sisi global, bursa saham Amerika Serikat mencatat pergerakan beragam pada penutupan perdagangan Senin (6/10/2025). S&P 500 naik 0,36 persen, Nasdaq Composite melonjak 0,71 persen, sementara Dow Jones Industrial Average justru melemah 0,14 persen.
Di kawasan Asia Pasifik, mayoritas bursa menguat, terutama Jepang yang mencatat rally tajam setelah Sanae Takaichi terpilih sebagai pemimpin baru Partai Demokratik Liberal (LDP). Takaichi berpotensi menjadi perdana menteri wanita pertama Jepang, memicu optimisme politik dan lonjakan Indeks Nikkei 225 hingga 4,75 persen.
Sebaliknya, ASX/S&P 200 Australia turun 0,07 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,67 persen, menunjukkan volatilitas yang masih tinggi di pasar regional.
Arah Rupiah Masih Kabur, Tapi Ada Harapan
Cadangan Devisa dan Stabilitas Fiskal Jadi Penopang
Meski tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sejumlah analis menilai potensi pelemahan masih bersifat jangka pendek. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat dengan cadangan devisa tinggi, defisit anggaran terkendali, dan inflasi stabil di bawah 3 persen.
“Selama cadangan devisa kuat dan neraca perdagangan tetap surplus, pelemahan rupiah tidak akan signifikan,” ujar Lukman Leong menambahkan.
Rupiah di Persimpangan: Ujian Stabilitas Ekonomi Nasional
Pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar persoalan nilai tukar, tetapi cerminan kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Dengan tekanan dari kebijakan The Fed, risiko politik AS, hingga dinamika fiskal Jepang, rupiah menghadapi tantangan berat untuk tetap stabil di bawah level Rp16.600 per dolar AS.
Namun di sisi lain, fundamental domestik Indonesia masih cukup solid, dengan cadangan devisa tinggi dan dukungan fiskal yang relatif kuat.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus menjaga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal agar gejolak rupiah tidak berimbas pada inflasi maupun stabilitas harga.
Pasar kini menunggu langkah konkret otoritas moneter dan hasil lelang SUN yang akan menjadi penentu arah rupiah dalam pekan ini — apakah mampu bertahan di tengah badai global, atau kembali melemah hingga menembus level psikologis Rp16.650 per dolar AS.
Editor : Mahendra Aditya