Bekali Siswa Sembilan Keterampilan, SKB Blora Cetak Lulusan Siap Kerja

Arif Fakhrian Khalim • Dipublikasikan Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:39 WIB
APRESIASI : Kadinas Pendidikan Blora Sunaryo melihat pameran keterampilan peserta didik SKB Blora
APRESIASI : Kadinas Pendidikan Blora Sunaryo melihat pameran keterampilan peserta didik SKB Blora

BLORA – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora membekali peserta didik dengan sembilan pilihan keterampilan untuk mencetak lulusan pendidikan kesetaraan yang siap memasuki dunia kerja maupun berwirausaha secara mandiri.

Upaya tersebut diperkuat melalui pembelajaran berbasis praktik yang disesuaikan dengan minat peserta didik serta kebutuhan dunia kerja.

‎Kepala SKB Blora Jumini mengatakan, terdapat dua praktik baik yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga: Sunaryo, Edi, dan Irfan Masuk Tiga Besar Calon Sekda Blora, Pelantikan Dijadwalkan 28 Oktober

Pertama, inovasi Jumat Pompak untuk meningkatkan keunggulan pendidik.

Kedua, inovasi Sokesing atau gelar karya produk peserta didik yang menampilkan hasil pembelajaran keterampilan.

‎Menurut Jumini, peserta didik di SKB Blora dapat memilih sembilan jenis keterampilan sesuai minatnya.

Keterampilan tersebut meliputi tata busana, tata boga, barista, hantaran, tata kecantikan, pertanian terpadu, budi daya lele, desain grafis, serta coding atau pemrograman.

‎Pembelajaran coding menjadi salah satu materi baru yang mulai diterapkan tahun ini dan telah dimasukkan dalam kurikulum satuan pendidikan.

Materi tersebut diberikan kepada peserta didik kelas V Paket A, kelas VII Paket B, dan kelas X Paket C pada tingkat dasar atau level 1.

‎Selain diseminasi praktik baik dan gelar karya, kegiatan tersebut juga diisi praktik pembelajaran tata boga yang diintegrasikan dengan materi coding, kewirausahaan, dan ekonomi.

Integrasi tersebut merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran kolaboratif yang diterapkan SKB Blora.

‎Jumini menjelaskan, pembelajaran di SKB menitikberatkan pada mata pelajaran pemberdayaan dan keterampilan.

Sementara itu, mata pelajaran umum disesuaikan dengan kompetensi yang dapat diintegrasikan ke dalam keterampilan yang sedang dipelajari peserta didik.

‎“Harapan kami, setelah menyelesaikan pendidikan di SKB, mereka tidak lagi kesulitan mencari pekerjaan, tetapi bisa memanfaatkan ilmu yang dipelajari untuk berusaha mandiri,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, keterampilan yang diajarkan diupayakan aplikatif dengan memanfaatkan bahan dan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.

Namun, keberlanjutan pembelajaran desain grafis masih menjadi hal yang perlu dipikirkan bersama karena membutuhkan dukungan teknologi.

‎Perwakilan Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal, Dian Santoni, menilai pembelajaran berbasis keterampilan dapat membantu peserta didik lebih siap menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan kesetaraan.

‎Menurut dia, peserta didik di SKB memiliki latar belakang yang beragam.

Karena itu, pembelajaran keterampilan menjadi salah satu upaya untuk membangun kepercayaan diri dan memberikan kesempatan agar mereka mampu mengembangkan kreativitas serta kemandirian.

‎“Sekolah model ini menjadi percontohan bagi teman-teman, khususnya di SKB atau PKBM di sekitar Kabupaten Blora. Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan tidak bisa dipandang sebelah mata,” katanya.

‎Melalui program sekolah model, praktik baik yang diterapkan SKB Blora diharapkan dapat menjadi referensi bagi satuan pendidikan nonformal lainnya dalam mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan dunia kerja. (ari)

Editor : Ali Mustofa
blora