Dinkesda Blora Temukan Tempe di Depan Toilet SPPG, Kepala Dapur Beri Klarifikasi

Ali Mustofa • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 09:29 WIB
TIDAK SESUAI: Tim Dinkesda Blora menemui adanya peletakan bahan makanan didepan toilet di gudang belakang SPPG Sukorejo 2. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)
TIDAK SESUAI: Tim Dinkesda Blora menemui adanya peletakan bahan makanan didepan toilet di gudang belakang SPPG Sukorejo 2. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)

BLORA – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora menemukan sejumlah hal yang perlu diperbaiki di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan.

Salah satu temuan dalam Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) adalah penempatan tempe di depan toilet dapur yang dinilai tidak sesuai dengan standar penyimpanan bahan pangan.

Kepala Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkesda Blora, Tutik Rahayu, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan masih terdapat sejumlah bahan makanan yang belum disimpan pada tempat yang semestinya.

“Pada intinya kita tadi melihat tempat penyimpanan makanan tidak sesuai SOP, karena tidak ada palet,” ujar Tutik.

Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan sisa air daging yang masih membasahi lantai.

Di dekat lokasi itu terdapat tumpukan beras, telur, timun, dan cabai yang juga tidak ditempatkan menggunakan palet.

Petugas juga mendapati sisa bumbu bawang putih dalam kondisi terbuka. Selain itu, bawang merah, cabai merah yang telah digiling, serta lengkuas ditemukan diletakkan di atas wastafel.

Di sekitar area tersebut terdapat sabun pencuci piring dan galon air mineral kosong.

Tutik mengatakan persoalan lain juga ditemukan dalam proses penerimaan dan penyimpanan bahan pangan. Sebagian stok makanan justru disimpan di rumah yang berada di sebelah SPPG.

“Penerimaan bahan pangannya tidak ditempatkan sesuai tempatnya. Stok bahan makanan disimpan di rumah sebelah SPPG. Jadi masih harus banyak perbaikan di dapur itu,” katanya.

Dinkesda memberikan perhatian khusus terhadap tempe yang ditemukan tepat di depan pintu toilet.

Menurut Tutik, bahan pangan harus ditempatkan pada lokasi yang memenuhi persyaratan kebersihan dan tidak berisiko terpapar sumber kontaminasi.

“Kalau di depan kamar mandi tidak boleh. Harus ada tempat penyimpanan bahan makanan. Semua bahan makanan harus ada tempatnya sendiri, ada gudangnya sendiri. Jadi kurang pas kalau penempatannya tidak semestinya,” tegasnya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan tempe tersebut terkontaminasi bakteri karena berada di depan toilet, Tutik membenarkannya.

“Iya,” tegasnya.

Selain masalah penyimpanan bahan pangan, pemeriksaan Dinkesda juga menemukan kondisi ruang penyimpanan ompreng yang belum memenuhi SOP. Penataan ompreng masih terbuka ke arah atas.

Pada bagian dapur dan ruang pemorsian juga belum tersedia sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS).

Sementara itu, SPPG belum memiliki ruang khusus untuk proses loading makanan matang.

Dari sisi kendaraan distribusi, jumlah armada dinilai masih perlu dibenahi.

Kendaraan belum memiliki sekat, meskipun sudah dilengkapi alat pemantau suhu. Mobil distribusi juga belum mencantumkan identitas SPPG.

Persoalan lain ditemukan pada sistem pengolahan limbah. Outlet IPAL belum memiliki bak kontrol sehingga masih menimbulkan bau. Pengoperasian IPAL juga disebut hanya dilakukan ketika ada kegiatan pencucian ompreng.

Sampah yang berada di sekitar dapur SPPG juga masih terlihat menumpuk dan belum diangkut.

Dalam pemeriksaan tersebut, Dinkesda juga menemukan penggunaan minyak curah di lokasi SPPG Sukorejo 2.

Tutik menyebut penggunaan minyak curah tidak dianjurkan karena Badan Gizi Nasional (BGN) mensyaratkan bahan yang digunakan untuk menu MBG memenuhi standar, termasuk menggunakan bahan berkualitas premium.

“Kalau minyak curah, ini bukan dari kesehatan, tetapi dari BGN sendiri tidak dianjurkan. Jadi harus yang standar atau premium,” jelasnya.

Dinkesda Blora juga mencatat adanya ratusan penerima manfaat yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.

Rinciannya, dari SMA Negeri 1 Tunjungan terdapat 133 siswa dan satu guru. Kemudian dari SMP IT dilaporkan 35 siswa dan satu kepala sekolah.

Selanjutnya, dari SD IT terdapat laporan 30 siswa dan delapan guru, sedangkan dari MTs Al-Banjari terdapat tiga siswa yang dilaporkan terdampak.

Laporan tidak hanya berasal dari lingkungan sekolah.

Dinkesda juga menerima informasi mengenai penerima manfaat dari kelompok B3 yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.

Sementara itu, Kepala SPPG Sukorejo 2 Achmad Afif Jaelani memberikan klarifikasi mengenai temuan bahan makanan yang ditempatkan tidak sesuai prosedur tersebut.

Ia menyatakan bahan baku, termasuk tempe yang ditemukan di depan toilet, bukan merupakan persediaan milik SPPG Sukorejo 2.

“Bahan baku itu milik Mitra dan saya tidak tahu ditujukan ke mana. Kemungkinan untuk mitra sendiri karena Mitra punya katering,” ungkap Achmad Afif. (ari)

Editor : Ali Mustofa
dinkesda blora gangguan kesehatan toilet sppg dinas kesehatan tempe