Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Program MBG Berjalan, Pedagang Kantin SMKN 2 Blora Keluhkan Omset Turun hingga 50 Persen

Ali Mustofa • Kamis, 11 Juni 2026 | 14:41 WIB
KONDISI: Kantin sekolah SMKN 2 Blora sepi pascaprogram makan bergizi gratis. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)
KONDISI: Kantin sekolah SMKN 2 Blora sepi pascaprogram makan bergizi gratis. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)

BLORA – Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah ternyata membawa dampak tersendiri bagi para pedagang kantin.

Sejumlah penjual di lingkungan SMKN 2 Blora mengaku mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan sejak program tersebut mulai diterapkan.

Para pedagang menyebut jumlah pembeli berkurang drastis karena sebagian besar siswa kini memilih menikmati makanan yang disediakan melalui program MBG.

Akibatnya, omset harian mereka menurun sementara biaya operasional, termasuk sewa tempat berjualan, tetap harus dibayarkan.

Salah satu pedagang kantin, Harni, mengungkapkan bahwa penjualan makanan berat yang selama ini menjadi andalannya mengalami penurunan tajam.

Ia biasanya menjual nasi pecel, nasi kuning, hingga nasi rames kepada para siswa.

“Sebelum ada MBG, pendapatan bersih yang saya bawa pulang bisa sekitar Rp300 ribu per hari. Sekarang rata-rata hanya sekitar Rp150 ribu,” ujarnya.

Menurut Harni, sebagian besar siswa yang sebelumnya menjadi pelanggan kini lebih memilih makanan gratis yang tersedia dari program pemerintah tersebut.

Kondisi itu membuat dagangannya jauh lebih sepi dibanding sebelumnya.

Selain menghadapi penurunan penjualan, ia juga mengaku terbebani dengan biaya sewa kantin yang harus dibayar setiap hari.

“Biaya sewanya Rp25 ribu per hari. Dengan kondisi seperti sekarang tentu terasa berat. Kami berharap ada perhatian juga untuk pedagang kantin setelah adanya program MBG,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Yani, pedagang mie ayam di kantin sekolah.

Ia mengaku pendapatannya ikut tergerus hingga sekitar 50 persen sejak program makan gratis berjalan.

“Sebelumnya saya bisa membawa pulang sekitar Rp200 ribu per hari. Sekarang paling sekitar Rp100 ribu,” tuturnya.

Untuk menempati lapak berjualan, Yani harus membayar biaya sewa sebesar Rp35 ribu setiap hari.

Menurutnya, besaran sewa tersebut cukup memberatkan jika dibandingkan dengan pendapatan yang kini menurun.

Ia berharap pihak sekolah dapat mempertimbangkan penyesuaian biaya sewa agar pedagang tetap bisa bertahan menjalankan usaha.

“Kalau bisa ada keringanan atau penurunan biaya sewa karena penghasilan kami sudah tidak seperti dulu,” harapnya.

Di sisi lain, program MBG mendapat respons positif dari kalangan siswa.

Salah satunya disampaikan Zahira Nurul Izza, siswi kelas XII Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB).

Ia mengaku kini lebih jarang membeli makanan berat di kantin karena sudah mendapatkan makanan dari program MBG.

Jika berkunjung ke kantin, biasanya hanya untuk membeli camilan atau jajanan ringan.

“Program MBG cukup membantu karena makanannya cocok dan mengenyangkan. Uang saku yang biasanya dipakai untuk makan bisa disimpan atau digunakan untuk kebutuhan lain,” ungkapnya.

Meski memberikan manfaat bagi siswa, para pedagang berharap keberlangsungan usaha mereka juga mendapat perhatian sehingga dampak ekonomi yang muncul akibat perubahan pola konsumsi di sekolah dapat diminimalkan. (ari)

Editor : Ali Mustofa
#penurunan pendapatan #mbg di sekolah #pedagang kantin #program mbg