Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cerita Haru Dibalik Kesuksesan Wakapolri Asal Blora Komjen Pol Agus Andrianto yang berhasil Ungkap Berbagai Kasus Besar

Abdul Rokhim • Senin, 16 September 2024 | 18:21 WIB
BANTU WARGA: Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto (tengah) meninjau kegiatan baksos berupa layanan fisioterapi kepada warga Blora baru-baru ini.
BANTU WARGA: Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto (tengah) meninjau kegiatan baksos berupa layanan fisioterapi kepada warga Blora baru-baru ini.
 
BLORA - Di balik kesuksesan yang diraih Komjen Pol Agus Andrianto, terdapat cerita perjuangan yang penuh haru.
 
Salah satu penyesalan mendalam yang selalu dirasakan oleh Wakapolri asli Blora ini adalah ketidakmampuannya untuk membahagiakan ibunya, Sri Sudaryati yang meninggal saat ia masih menjalani pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1986.
 
Agus Oni Setiawan, adik bungsu Komjen Agus Andrianto, mengungkapkan kepada wartawan bahwa kakaknya sangat menyesalkan kejadian tersebut.
 
Menurutnya, sang ibu telah berpulang ketika Komjen Agus—atau Andri, panggilan masa kecilnya—baru memasuki tahun pertama di Akpol.
 
"Beliau pernah bercerita kepada saya, satu hal yang sangat disesalkan adalah belum sempat membahagiakan ibu kami," ujar Oni saat ditemui di rumah kakak tertua mereka di Kelurahan Tempelan, Blora.
 
Menurut Oni, Andri sejak kecil dikenal sebagai anak yang taat dan selalu membantu kedua orang tuanya.
 
"Beliau selalu bangun paling pagi untuk membantu ibu memasak dan membantu bapak mencuci," tambah Oni.
 
Keterampilan memasak, termasuk membuat sambal dan memarut kelapa untuk santan, juga merupakan keahlian Andri yang diingat oleh keluarganya.
 
Meski telah mencapai puncak karier di kepolisian, ketaatan Agus Andrianto kepada orang tuanya tetap terjaga.
 
Setiap kali pulang kampung, dia tak pernah lupa untuk berziarah ke makam sang ibu, Sri Sudaryati, dan ayahnya, Sukarsono, yang meninggal pada 2014.
 
Perjalanan pendidikan Komjen Agus Andrianto dinilai lancar sejak masa sekolah di Blora, mulai dari SD Tempelan, SMPN 1 Blora, hingga SMAN 1 Blora,sebelum akhirnya diterima di Akpol.
 
"Mungkin hasil yang beliau dapat itu adalah buah dari kepatuhannya kepada kedua orang tua," kata Oni.
 
Tak hanya itu, kabar tentang kenaikan jabatan Komjen Agus menjadi Wakapolri disampaikan melalui grup keluarga.
 
Oni mengungkapkan, keluarga besar bersyukur atas kepercayaan yang diberikan negara kepada kakeknya.
 
Prestasi ini bukan hanya membanggakan keluarga, tetapi juga mengangkat nama Blora sebagai kampung halaman sang Wakapolri.
 
Meskipun tugas yang diemban berat, keluarga besar berharap Komjen Agus dapat menyelesaikan amanah ini hingga purna tugas pada 2025.
 
"Kami berharap dan berdoa semoga beliau bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya," tutup Oni.
 
Cerita di balik kesuksesan Komjen Agus Andrianto ini menjadi bukti bahwa dedikasi dan ketaatan kepada orang tua adalah nilai yang selalu dipegang teguh, meski sudah berada di puncak karier. 
 

Kasus-Kasus Besar yang Ditangani Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto

 
1. Pembunuhan Hakim Jamaluddin
 
Pembunuhan Hakim PN Medan, Jamaluddin, terjadi pada tahun 2019.
 
Jamaluddin ditemukan tewas di dalam mobil yang terperosok di Dusun II Nako Rindang, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat, 29 November 2019.
 
Saat ditemukan, jasad korban terbaring di kursi belakang mobil. Agus Andrianto saat itu memastikan bahwa Jamaluddin menjadi korban pembunuhan oleh orang dekatnya. Sejumlah saksi, termasuk istri Jamaluddin, turut diperiksa.
 
Namun, sebelum mengungkap pelaku, Agus Andrianto dipindahkan ke jabatan baru sebagai Kabaharkam Polri.
 
Setelah penyelidikan, diketahui bahwa istri Jamaluddin, Zuraida Hanum, adalah dalang di balik pembunuhan ini, dibantu dua orang eksekutor.
 
 
2. Bom Bunuh Diri Polrestabes Medan
 
Bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan
terjadi pada 13 November 2019.
 
Pelaku, Rabbial Muslim Nasution, berusia 24 tahun, memasuki Mapolrestabes dengan memakai jaket ojek online.
 
Setelah menuju halaman dekat kantin, Rabbial meledakkan bom di tubuhnya.
 
Akibat kejadian ini, 23 tersangka ditangkap oleh Densus 88/Antiteror.
 
Mereka diketahui berlatih di Kabupaten Karo, dan dari penggeledahan ditemukan senjata rakitan.
 
Tiga dari 23 tersangka tewas dalam operasi penangkapan.
 
3. Pembunuhan Eks Caleg di Labuhanbatu
 
Polda Sumut menangkap lima orang dalam kasus pembunuhan eks caleg NasDem, Maraden Sianipar, dan simpatisannya, Martua P Siregar.
 
Kasus ini dilatarbelakangi konflik lahan perkebunan sawit di Labuhanbatu.
 
Para pelaku memiliki peran berbeda dalam aksi pembunuhan, dan dalangnya adalah WP alias Harry, pemilik kebun sawit KSU Amelia, yang membiayai eksekusi dengan bayaran Rp 40 juta.
 
4. Kasus Penistaan Agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
 
Komjen Pol Agus Andrianto turut andil dalam penanganan kasus penistaan agama yang melibatkan eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thaja Purnama atau Ahok pada 27 September 2016.
 
Ahok dilaporkan oleh sejumlah ormas ke polisi, dan pada 16 November 2016, jaksa menuntut Ahok dengan hukuman penjara satu tahun dan masa percobaan dua tahun.
 
5. Kasus Ferdy Sambo
 
Saat menjabat sebagai Kepala Kabareskrim, Agus Andrianto mengungkap peran Ferdy Sambo dalam pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.
 
Bharada E menembak Brigadir J atas perintah Irjen Ferdy Sambo, yang juga membuat skenario tembak-menembak di rumah dinasnya di Komplek Polri Duren Tiga.
 
Empat tersangka dalam kasus ini dikenai Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. (khim)
Editor : Abdul Rokhim
#masa kecil wakapolri #wakapolri #Jenderal asal blora #Putra daerah blora #Komjen Pol Agus Andrianto #Lahir di blora #Profil wakapolri