BLORA – Bupati Blora Arief Rohman meninjau salah satu pusat pelatihan pertanian dan pedesaan swadaya (P4S) di Desa Palon, Jepon, Blora, kemarin.
Pasalnya, beberapa calon investor berminat mengembangkan tembakau Blora untuk industri rokok atau cerutu.
Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Desa Palon Tekad mengaku, sudah delapan tahun menjadi petani tembakau.
Dia mampu membuka lapangan pekerjaan petani tembakau di Desa Palon. Khususnya anggota dari P4S sebanyak 12 orang.
“Hasil tembakau di sini lumayan banyak dan menguntungkan. Sebab ada kenaikan hasil penjualan dari tahun lalu sebesar dua kali lipat,” jelasnya.
2022 lalu harga jual tembakau hanya Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan, 2023 sangat luar biasa yaitu Rp 43 ribu per kilogram.
Dia menambahkan, ada sekitar 83 hektare tanah yang ditanami tembakau di Kecamatan Jepon. Luasnya tanaman tembakau di Kecamatan Jepon itu juga mampu memberikan sekitar 415 lapangan pekerjaan.
Perawatan tanaman itu sangat mudah. Tidak memerlukan air banyak. Hanya penyiraman secukupnya.
Musim kemarau ini juga membantu petani tembakau. Karena bisa mengeringkan hasil panen. Kemudian bisa langsung disetorkan atau dijual.
“Untuk hasil tembakau di Kabupaten Blora itu sangat menakjubkan. Ke depannya, akan kami gali potensi dari petani-petani tembakau. Kami ajak diskusi dengan tujuan, agar bisa lebih meluas lagi,” ungkap Bupati Blora Arief Rohman kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Dia menambahkan, untuk hasil tembakau saat ini masih unggul dibandingkan tanaman lain di musim kemarau.
Tembakau Blora juga ada beberapa yang unggul seperti di Daerah Temanggung. Yaitu di Jepon. Sangat berpotensi dilirik investor.
”Selain tahan lama, kemarau juga tidak mempengaruhi hasil panen tembakau serta hama seperti tikus yang tidak memakan tembakau,” tandasnya. (ari/zen)
Editor : Ali Mustofa