Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SOSOK Kades Dukuhseti Pati : Pernah Jadi Marbot Masjid dan Kini Miliki Gelar Doktor

Andre Faidhil Falah • Selasa, 23 Juli 2024 | 17:36 WIB
Kepala Desa Dukuhseti, Rifai.
Kepala Desa Dukuhseti, Rifai.

PATI - Tak banyak yang tahu mengenai putra daerah asal Pati Ahmad Rifai Mustofa. Kepala Desa/Kecamatan Dukuhseti itu sewaktu kuliah pernah jadi marbot di masjid. Kini menjadi kepala desa bergelar doktor.

Diketahui, sejak di bangku sekolah Rifai, sapaan akrabnya, sudah terbiasa kerja keras ketika dia bersekolah di desa setempat.

Kerja kerasnya itu demi bisa menyambung hidup dan meraih cita-citanya.

”Saya dari keluarga yang sangat sederhana. Saya sadar, bahwa orang biasa seperti saya harus bekerja keras untuk mencapai mimpi, jadi apapun kerjaan saya lakukan, penting halal dan dilakukan tanpa rasa beban ataupun malu,” terang pria berusia 40 tahun itu.

Kerja kerasnya pun berlanjut ketika dibangku kuliah di Semarang.

Perlu perjuangan keras ketika kuliah di kota, Untuk menutup kebutuhannya, RifaI rela nyambi jadi marbot masjid di perumahan, sekalipun harus tetap berorganisasi, (Pukas mantan ketua Senat itu).

Semua usahanya itu demi mewujudkan impiannya menjadi seorang sarjana. 

”Sekolah itu bagian dari usaha untuk memperbaiki hidup saya, dimana pendidikan merupakan bagian dari aspek untuk memperbaiki nasib hidup. Saya sadar, bahwa orangtua saya bukanlah orang yang berkecukupan, memiliki pendidikan cukup serta banyak pengalaman, hanya orang kampung biasa. Sehingga terlintas dalam pikiran saya, bahwa saya harus belajar dan bekerja keras demi memperbaiki kehidupan keluarga,” lanjut mantan ketua senat itu. 

Selain itu, disaat libur kuliah ia ikut bekerja temanya yg punya usaha sol sepatu, meskipun penghasilannya tidak seberapa namun lumayan bisa untuk menyambung hidup bagi Rifai, diperantauan. 

”Saya ini anak orang kampung yang hidup diperantauan, saat kuliah harus bekerja keras demi impian, ketika libur ikut kerja sol sepatu. Jadi marbot masjid juga, dijalani dengan senang tanpa beban” imbuhnya.

Dirinya tak bisa semerta-merta mengandalkan orangtuanya. Ia tahu ia anak dari tukang kayu yang berasal dari desa.

Sekalipun bermodal nekat dan dengan beasiswa, dia tetap tak mengabaikan kerja atau kegiatan lainya termasuk organisasi. Itu demi menimba banyak pengalaman.

”Hidup itu semakin banyak aktifitas, tentu akan banyak pengetahuan baru dan menambah wawasan. Bagi saya, sudah terbiasa kerja keras. Tak pandang apapun kerjaanya asal halal. Yang menjadi motivasi Rifa'i adalah ia selalu melihat bahwa apa yang dilakukan tak seberapa dibandingkan perjuangan orang tuanya dalam membesarkan dan diperjuangkan untuk anak anaknya,” ucapnya.

Berkat kegigihan, dan semangat yang kuat akhirnya bisa menyelesaikan sarjana. Pasca lulus sarjana, akhirnya bekerja sebagai staff di Semarang. 

Pada tahun 2014, akhirnya memutuskan balik ke Pati harus menemani ibunya yang sendiri karena ayahnya meninggal.

Dan menjadi tenaga ahli di DPRD Kabupaten Pati, sambil menyelesaikan program Magister ilmu Hukum di Unissula dan lulus pada tahun 2018.

Disela kesibukannya, menjadi dosen di universitas swasta di Semarang, akhirnya pada tahun 2019 maju dalam konstelasi Pilkades, dan menang.

Disela sebagai seorang kepala desa (kades), ia pun tidak meninggalkan kegiatan mengajar di fakultas hukum dan menjadi bagian Universitas Safin Pati.

Ia juga menjabat sebagai pembantu rektor dua di universitas tersebut. 

Selain sebagai Kades, dosen, juga sebagai anggota Peradi Semarang, ia juga selalu aktif dalam kegiatan diskusi dan kajian maupun seminar serta beberapa kali menjadi pembicara dalam kegiatan ilmiah. 

Kariernya cukup berjalan baik, semenjak kecil hingga dewasa selalu berprinsip pada kejujuran dan kedisiplinan.

Orang disiplin dan jujur itu penting, karena itu modal hidup. alau kita sudah tidak dipercaya orang, sulit untuk berbuat yang lebih besar lagi, disiplin itu juga tidak kalah penting untuk meraih impian, karena managemen hidup itu penting. 

”Berpendidikan hingga S3 merupakan pilihan. sekalipun berawal dari keterbatasan materi, namun semangat dan kerja keras tidak memupuskan harapan yang diimpikan,” ucapnya.

Meskipun dari keluarga yang sederhana, dia tak pernah putus asa dalam menjalani kehidupan.

Kata Rifa'i ”Kita tidak boleh berkecil hati, sekalipun kita orang desa, hidup pas-pasan, siapapun memiliki kesempatan yang sama dalam kehidupan ini, selama kita ada keinginan dan kerja keras. Dibalik usaha kita, tidak boleh melupakan orang tua yang melahirkan, membesarkan dan mendidik kita, karena kita ada karena mereka,” katanya. 

RifaI berpesan agar sebagai anak kampung, terutama dari keluarga yang kurang mampu itu harus sekolah. Karena dengan pendidikan itu bisa merubah nasib. 

”Kita sebagai anak kampung, terutama keluarga yang kurang/tidak mampu harus sekolah. Karena dengan pendidikan (baik formal maupun non formal) dapat menjadi jalan merubah nasib kehidupan,” orang yang berilmu dijamin Allah dan diangkat derajatnya, paparnya. 

Sebagai orang nomor satu di desanya, ia berharap agar warganya ini bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hal itu supaya dapat membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. ”Dengan SDM yang baik, kita berharap desa semakin maju dan makmur. Sehingga dapat terwujud kesejahteraan,” pungkasnya. 

Bagi dia, menjadi kades penuh tantangan, apalagi melihat kondisi Desa Dukuhseti yang secara geografis cukup luas. ”Penduduk banyak, hampir 10.000 jiwa. Jika Tidak didukung dengan PAD, maka kami harus berjuang dan semangat bagaimana mewujudkan perubahan di desa,” terangnya. 

Menjadi kades, Rifai tak hanya sekadar modal nekat. Tapi berpegangan dengan ilmu dan pengetahuan yang mumpuni. Buktinya ia sekolah hingga bergelar S3. Ia merasa bersyukur, menjadi kades punya pegangan ilmu yang cukup dalam bidang pemerintahan, semoga kita semakin bermanfaat. (*/him)

Editor : Abdul Rokhim
#kepala desa #Rifai #pati #Marbot #dukuhseti #Bergelar doktor