SEMARANG – Bursa transfer paruh musim belum benar-benar sunyi bagi PSIS Semarang.
Saat banyak tim mulai merapikan komposisi akhir, Mahesa Jenar justru kembali bergerak.
Kamis, 5 Februari 2026, manajemen meresmikan rekrutan ke-17: Ibrahim Sanjaya, bek milik Persis Solo yang didatangkan dengan status pinjaman.
Langkah ini bukan sekadar tambahan nama di daftar pemain. Ini adalah bagian dari strategi bertahan hidup.
PSIS sedang menyusun ulang pondasi tim demi menyongsong putaran ketiga Championship 2025/2026 dengan satu tujuan: menjauh dari zona degradasi.
Datangnya Ibrahim menjadi simbol bahwa PSIS belum berhenti berbenah.
Bek Super League untuk Tambal Celah
Ibrahim Sanjaya dikenal sebagai pemain bertahan yang punya pengalaman tampil di level Super League bersama Persis Solo.
Kecepatannya di sisi sayap dan kemampuannya membantu serangan menjadi nilai tambah.
PSIS mengakui bahwa sektor fullback menjadi salah satu titik lemah yang harus segera dibenahi. Minimnya opsi membuat rotasi pemain tidak maksimal sepanjang putaran kedua.
Asisten Manajer PSIS, Reza Handhika, menjelaskan bahwa perekrutan ini didasarkan pada kebutuhan teknis tim.
Manajemen ingin memberi lebih banyak pilihan bagi tim pelatih di posisi bek sayap.
Kompetisi internal yang sehat diharapkan mampu meningkatkan kualitas permainan secara keseluruhan.
Status pinjaman juga menjadi langkah realistis. Di tengah tekanan klasemen, fleksibilitas menjadi kunci.
Adaptasi Cepat di Yogyakarta
Begitu resmi diumumkan, Ibrahim langsung bergabung dengan tim yang tengah menjalani training camp di Yogyakarta pada 4–10 Februari 2026.
TC ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi PSIS. Bukan hanya soal kebugaran, tetapi juga membangun ulang struktur permainan setelah gelombang transfer besar-besaran.
Ibrahim mengaku diterima dengan baik oleh rekan-rekan barunya. Ia menegaskan tekad untuk memberikan kontribusi maksimal agar PSIS tetap bertahan di kasta Championship.
Adaptasi cepat menjadi keharusan. Waktu menuju laga putaran ketiga semakin sempit, dan setiap pemain baru dituntut segera menyatu dengan sistem.
TC Yogyakarta bukan sekadar agenda rutin. Di sanalah arah baru PSIS sedang dirumuskan.
Alfredo Vera dan Arsitektur Teknis Baru
Meski belum memiliki pelatih kepala definitif pasca pemecatan Jafri Sastra, PSIS menunjuk Alfredo Vera sebagai Direktur Teknik.
Nama Vera bukan sosok asing di sepak bola Indonesia. Pengalaman panjangnya melatih sejumlah klub besar menjadi modal penting dalam situasi krisis seperti ini.
Banyak pihak meyakini, Vera memiliki peran sentral dalam menentukan profil pemain yang direkrut, termasuk Ibrahim Sanjaya.
Ia bertanggung jawab pada struktur teknis dan filosofi permainan yang ingin dibangun. Ada kemungkinan, pelatih lokal nantinya akan bekerja di bawah supervisinya.
Model manajemen seperti ini menandakan PSIS tidak hanya berpikir jangka pendek, tetapi mencoba membangun sistem yang lebih terarah.
Zona Rawan dan Tekanan Putaran Ketiga
Saat ini PSIS masih tertahan di peringkat kesembilan Grup B Championship 2025/2026. Posisi itu belum aman. Ancaman degradasi masih membayangi.
Putaran ketiga akan menjadi fase penentuan. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan berulang. Setiap poin akan menentukan nasib klub.
Dengan total 17 rekrutan baru sejauh ini, termasuk Mario Londok dan nama-nama lainnya di bursa transfer, PSIS melakukan perombakan besar. Strategi ini berisiko, tetapi dalam kondisi terdesak, keberanian sering kali menjadi satu-satunya pilihan.
Datangnya Ibrahim mempertegas bahwa sektor pertahanan menjadi fokus pembenahan. PSIS ingin tampil lebih solid, lebih disiplin, dan tidak mudah kebobolan seperti di fase sebelumnya.
Persaingan Internal dan Energi Baru
Satu hal yang diharapkan manajemen dari gelombang transfer ini adalah meningkatnya persaingan sehat di dalam tim.
Ketika tempat di starting eleven tidak lagi aman, intensitas latihan otomatis naik. Setiap pemain dipaksa menunjukkan performa terbaiknya.
Ibrahim harus bersaing dengan bek lain yang sudah lebih dulu berada di skuad. Namun kompetisi itulah yang justru diharapkan memicu lonjakan kualitas.
Dalam sepak bola modern, kedalaman skuad sering menjadi pembeda antara tim yang bertahan dan tim yang terdegradasi.
Ini Lebih dari Sekadar Transfer
Perekrutan Ibrahim Sanjaya bukan sekadar tambahan bek. Ini adalah pesan.
PSIS menunjukkan bahwa mereka tidak pasrah pada keadaan. Mereka memilih bergerak, berinvestasi, dan memperbaiki diri meski berada dalam tekanan.
Training camp di Yogyakarta menjadi simbol keseriusan. Sementara kehadiran Alfredo Vera memberi harapan adanya arah teknis yang lebih jelas.
Musim ini belum selesai. Putaran ketiga akan menjadi panggung pembuktian apakah strategi agresif PSIS membuahkan hasil atau justru menjadi perjudian mahal.
Namun satu hal pasti: Mahesa Jenar tidak ingin turun kasta tanpa perlawanan. Datangnya bek dari Super League ini hanyalah satu bab dari upaya besar menyelamatkan harga diri klub.
Kini bola ada di lapangan. Ibrahim Sanjaya dan rekrutan lainnya harus menjawab ekspektasi dengan performa nyata. Karena di Championship 2025/2026, bertahan hidup adalah segalanya.
Editor : Mahendra Aditya