KUDUS – Gudang penyimpanan tembakau milik PT Jaleca di Jalan Tengah, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, terbakar pada Rabu (18/2) sekitar pukul 05.30 WIB.
Api melahap gudang berukuran 100 x 20 meter yang menyimpan jengkok tembakau di kompleks perusahaan tersebut.
Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kudus Ahmad Munaji mengatakan, kebakaran pertama kali diketahui penjaga gudang, Aris Widodo (35).
Saat itu ia mencurigai adanya asap di gudang nomor dua dari belakang, tepatnya di bagian selatan kompleks.
Setelah dicek, api sudah mulai membesar di dalam gudang.
Aris kemudian memanggil rekannya, Andi Siswanto (28), untuk membantu memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).
Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena api terlanjur membesar.
Peristiwa itu segera dilaporkan ke Polsek Bae dan petugas pemadam kebakaran.
Munaji menjelaskan, armada pemadam tiba di lokasi pukul 06.11 WIB.
Total sembilan armada diterjunkan dari berbagai instansi, antara lain BPBD, Satpol PP, serta bantuan perusahaan sekitar seperti PT Djarum, PT Pura, PT Nojorono, PT Sukun, hingga satu unit water cannon Polres Kudus.
Hingga pukul 09.21 WIB, api masih terlihat menyala dan petugas terus melakukan upaya pemadaman serta pendinginan.
“Untuk pemadaman pokok diperkirakan membutuhkan waktu kurang lebih delapan jam. Saat ini masih tahap pendinginan,” ujarnya.
Dugaan sementara, kebakaran dipicu peningkatan suhu di dalam gudang akibat tembakau ungkep yang tersimpan dalam jumlah besar.
Sirkulasi udara untuk proses stapel, yakni membolak-balik tembakau agar tidak lembap, diduga kurang efektif sehingga memicu panas berlebih.
Meski demikian, penyebab pasti masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian.
Akibat kejadian tersebut, satu gudang dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, bahkan bagian belakang bangunan roboh.
Kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 5,5 miliar.
Insiden ini menjadi kebakaran kedua di kompleks gudang tersebut, setelah pada Agustus tahun lalu kebakaran juga terjadi di gudang berbeda dengan taksiran kerugian sekitar Rp 500 juta. (dik)
Editor : Ali Mustofa