Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

DLH Jepara Usulkan Tambahan Alat Pirolisis, Solusi Tekan Sampah Plastik di TPA Bandengan

Fikri Thoharudin • Senin, 2 Maret 2026 | 17:32 WIB

Kepala DLH Jepara Rini Patmini
Kepala DLH Jepara Rini Patmini

JEPARA — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara mengusulkan penambahan empat unit alat pirolisis, untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar cair. 

Langkah tersebut ditempuh menyusul kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bandengan, yang disebut sudah mendekati kapasitas maksimal.

Kepala DLH Kabupaten Jepara, Rini Patmini, mengatakan, volume sampah yang masuk ke TPA Jepara saat ini mencapai sekitar 150 ton per hari. 

Dengan angka sebesar itu, diperlukan langkah-langkah masif untuk menekan laju sampah yang berakhir di TPA.

Pengusulan alat itu disebutnya sebagai bagian dari upaya konkret. Untuk menekan timbunan sampah di Jepara.

Untuk data sampah yang masuk ke TPA sendiri berasal dari setidaknya 12 kecamatan.

Kecamatan Kalinyamatan sekitar 535 ton perbulan. Jepara 130 ton, Welahan 115 ton, Mayong 98 ton, Tahunan 87 ton, Pecangaan 86 ton, Bangsri 36 ton, Kedung 22 ton, Batealit 7 ton, Pakis Aji 5,7 ton, Nalumsari 5 ton dan Kecamatan Kembang 0,9 ton per bulan.

Menurutnya, DLH telah mengajukan empat unit mesin pirolisis dan usulan tersebut sudah disampaikan kepada Bupati Jepara. 

Rencananya, alat itu akan ditempatkan di tiga kawasan dengan timbulan sampah terbesar di Jepara. Termasuk area kota.

Teknologi pirolisis sendiri telah diterapkan di TPA Karimunjawa. Di wilayah kepulauan tersebut, pengolahan sampah plastik dilakukan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif, setara solar yang dikenal sebagai petasol.

Rata-rata sampah yang masuk ke Karimunjawa mencapai sekitar 2,5 ton per hari. 

Teknologi ini bekerja dengan memanaskan plastik tanpa oksigen, hingga menghasilkan bio-oil yang kemudian disuling menjadi bahan bakar layak pakai untuk mesin diesel. 

Selain menjadi solusi penanganan sampah plastik, proses ini juga berfungsi menyediakan energi alternatif.

Untuk mengolah 30 hingga 50 kilogram plastik, dibutuhkan sekitar 20 liter oli bekas. Dari proses tersebut, bahan bakar yang dihasilkan rata-rata hanya sekitar 9 liter.

Sebagai kawasan wisata unggulan, pengelolaan sampah di Karimunjawa disebut harus lebih maksimal. 

DLH juga menggandeng berbagai pihak, termasuk swasta dan komunitas seperti Yayasan Pitulikur Pulo Karimunjawa, untuk bersama-sama membangun kesadaran menjaga kebersihan wilayah kepulauan tersebut.

“Kuncinya di kesadaran bersama dan pemilahan dari rumah tangga. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sementara anorganik yang bernilai ekonomis dapat didaur ulang atau diolah menjadi energi,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#pirolisis #jepara #daur ulang #energi #darurat sampah