GROBOGAN – Komitmen menghadirkan pendidikan yang tak sekadar mengasah kognitif, tetapi juga membangun karakter, menjadi napas panjang perjalanan Yayasan Pendidikan Islam dan Sosial (YPIS) Basmala Gubug. Berdiri pada 9 Agustus 2009, yayasan ini tumbuh dari kepedulian sederhana: menolong anak-anak dan remaja yang terhenti sekolah agar tetap memiliki masa depan.
Ketua Yayasan YPIS Basmala Gubug, Zuzum Nurwahidah, menuturkan, awal berdirinya yayasan berada di Kampus I Jalan Kauman, Desa Tambakan, Kecamatan Gubug. Dari sana, YPIS Basmala mulai merintis berbagai layanan pendidikan nonformal.
“Kami melihat lulusan SMA di sekitar masih sedikit. Banyak teman-teman yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Dari situ kami mendirikan PKBM agar mereka bisa mendapatkan layanan pendidikan Paket A, B, dan C. Kami juga membuka Kelompok Bermain,” ujarnya.
Melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), YPIS menghadirkan layanan pendidikan tanpa memungut biaya sepeser pun bagi masyarakat yang membutuhkan. Semangatnya sederhana: membantu agar mereka tetap bisa bekerja dan memiliki kebanggaan diri.
Merambah Day Care dan Taman Anak Sejahtera
Memasuki Januari 2010, YPIS Basmala memperluas layanan dengan membuka Day Care sekaligus melayani program Taman Anak Sejahtera (TAS) di Tambakan. Pada tahun yang sama, yayasan mulai merambah wilayah Gubug.
Awalnya, kegiatan dilakukan dengan mengontrak rumah warga selama dua tahun. Saat pertama berdiri, hanya ada enam guru dengan jumlah siswa yang bisa dihitung jari—bahkan sebagian merupakan anak dari guru sendiri. Dalam setengah tahun pertama, jumlah siswa baru enam anak.
“Kami tidak putus asa meski murid sedikit. Waktu itu saya hanya berdua dengan rekan (Mibahul Munir suami Red). Modal kami adalah beasiswa S2 yang saya dapat tahun 2009. Saya berpikir, kalau uang ini dimanfaatkan untuk pendidikan, insyaallah akan menjadi rahmah,” kenangnya.
Perlahan, konsep yang ditawarkan YPIS mulai dilirik. Di tengah menjamurnya PAUD di desa, YPIS Basmala hadir dengan pendekatan berbeda: memadukan pendidikan dan pengasuhan secara utuh.
“Kalau tempat lain fokus pendidikan saja, kami menggabungkan pendidikan dan pengasuhan. Kami sebut TPA Plus. Anak dididik dulu, setelah itu diasuh,” jelasnya.
Setiap sore, Zuzun bersama guru-guru berkeliling menyebarkan brosur ke kantor-kantor dan pasar. Upaya jemput bola itu membuahkan hasil. Seiring waktu, perhatian dari Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan pun mulai datang.
Saat masa kontrak rumah berakhir dan tidak bisa diperpanjang, YPIS bersyukur memperoleh sebidang tanah kapling di sebelahnya. Di atas lahan itulah cikal bakal gedung permanen berdiri.
Pendidikan Berbasis Karakter
Zuzun menekankan, sejak awal YPIS Basmala berpegang pada pembinaan karakter. Ia sempat mengikuti diklat Indonesia Heritage Foundation (IHF) tentang pendidikan karakter. Prinsip itu kemudian diterapkan di sekolah.
“Bagi kami, kognitif nanti dulu. Pendidikan pasti akan didapatkan. Tapi karakter harus lebih dulu dibentuk. Anak-anak dibiasakan berkata santun, maaf, terima kasih,” katanya.
Budaya santun dan pembiasaan akhlak inilah yang menjadi pembeda. Dari mulut ke mulut, jumlah siswa meningkat hingga mencapai 157 anak. Seluruh siswa mengikuti pembelajaran sejak pukul 07.00 hingga 15.30 WIB, dilengkapi layanan TPA dan TKA hingga sore.
Perkembangan tersebut memungkinkan YPIS membangun gedung tiga lantai sebagai pusat kegiatan belajar.
Hadirkan SD Tahfidz
Pada 2020, dorongan wali murid agar pembelajaran berkelanjutan mendorong YPIS membuka SD Tahfidz. Kini, sekolah dasar tersebut telah memasuki tahun keenam.
Pola pembelajarannya terstruktur sejak pagi. Anak-anak memulai dengan program tahfidz dan binnador, dilanjutkan salat duha dan setoran hafalan. Sebelum masuk materi umum, ada pendalaman karakter hingga pukul 09.30 WIB.
Setelah istirahat dan snack time dari sekolah, pembelajaran kurikulum umum dimulai. Siang hari diisi salat zuhur berjamaah, makan siang, dan istirahat tidur. Selepas itu, siswa mengikuti Madrasah Diniyah selama satu jam hingga pukul 14.30 WIB. Guru madin tercatat resmi di Kementerian Agama.
Kegiatan ditutup dengan salat asar berjamaah dan makan sore. Khusus kelas VI, ada tambahan jam persiapan ujian hingga pukul 16.30 WIB.
“Setiap siswa wajib setor minimal dua ayat per hari. Di kelas VI sudah ada yang mencapai lima juz. Tapi itu sangat tergantung kedisiplinan anak dan kerja sama orang tua, karena hafalan butuh pembiasaan setiap hari,” terang Zuzun.
Layani Anak Rentan Pengasuhan
Selain pendidikan formal, YPIS juga kembali menghidupkan layanan Taman Anak Sejahtera (TAS) yang sempat mati suri. Saat ini terdapat 155 anak yang dititipkan sejak pukul 07.00 hingga 15.30 WIB.
Mayoritas berasal dari keluarga rentan pengasuhan—bukan hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga karena kedua orang tua bekerja. Secara kategori kesejahteraan, penerima manfaat berada di desil satu hingga lima. Namun, dinamika pendapatan membuat sebagian keluarga sempat naik ke desil enam karena tambahan modal usaha.
“Meski bantuan sempat tidak ada, program tetap jalan. Pendidikan dan pengasuhan tidak boleh berhenti,” tegasnya.
Saat ini, terdapat sekitar 20 lembaga swasta dan 30 sentra layanan, salah satunya Basmala, yang turut bergerak di bidang serupa. Namun YPIS Basmala tetap konsisten pada visinya: membentuk generasi berkarakter kuat, religius, dan mandiri.
Berawal dari membantu segelintir anak putus sekolah, YPIS Basmala Gubug kini menjelma menjadi lembaga pendidikan terpadu dari usia dini hingga sekolah dasar. Di balik gedung tiga lantai yang berdiri kokoh, tersimpan cerita tentang ketekunan, keyakinan, dan keberanian memulai dari kecil demi perubahan besar. (mun)
Editor : Ali Mustofa