RADAR KUDUS – Tupperware Brand Corporation atau yang akrab kita kenal sebagai perusahaan wadah plastik, telah dikabarkan resmi mengajukan kebangkrutan pada pertengahan September 2024.
Kabar itu juga dikonfirmasi oleh CEO Tupperware Laurie Ann Goldman. Ia mengakui kondisi perusahaan yang ia pimpin sedang tidak baik-baik saja.
Apa saja alasan perusahaan sebesar Tupperware bisa bangkrut?
Beberapa alasan yang mengemuka adalah karena Tupperware tidak bisa bersaing dan anjloknya sales/penjualan dalam 10 tahun terakhir.
Sebelum pengumuman kebangkrutan ini, Tupperware juga telah dikabarkan melakukan PHK pada Juni lalu.
Perusahaan wadah favorit Ibu-ibu itu berencana menutup satu-satunya pabrik di Amerika dan melakukan PHK pada sekitar 150 karyawan.
Baca Juga: Tiga Tahun Holding Ultra Mikro BRI Group Layani 176 juta Nasabah Simpanan dan 36,1 Juta Debitur
Perusahaan Dinilai Tidak Cukup Inovatif
Kalangan ibu-ibu menilai anjloknya penjualan berlanjut karena perusahaan tersebut tidak "cukup inovatif" selama 10 hingga 20 tahun terakhir untuk bersaing dengan para pesaingnya.
Apalagi, pasar telah dipenuhi merek lain yang menawarkan alternatif produk yang lebih murah dalam beberapa tahun terakhir.
Faktor pandemi Covid-19 sempat menguntungan Tupperware. Apalagi banyak orang yang memanggang dan memasak di rumah. Namun kondisi itu ternyata hanya sementara.
Sebelum mengajukan kebangkrutan, Tupperware diketahui harus mengelola utang lebih dari US$ 700 juta (Rp 10,85 triliun).
Baca Juga: UMKM Menjaga Keberlanjutan Finansial melalui Akuntansi?
Model Bisnis Tatap Muka Tidak Efektif
Popularitas Tupperware dimulai setelah adanya banyak Ibu-ibu berjualan produk tersebut arisan dan pertemuan.
Namun, dengan adanya teknologi, pengenalan brand tersebut secara tatap muka kini sudah tidak relevan.
Neil Saunders, direktur pelaksana ritel di konsultan GlobalData mengungkapkan analisanya terhadap perkembangan Tupperware.
Baca Juga: Soal Harga Gas Melon Naik, Konsumen di Grobogan: Yang penting Barang Ada
“Produk ini dirancang dengan sangat cemerlang dan menjadi ajaib karena cara penjualannya, tetapi di dunia digital ini, model tatap muka tidak lagi relevan" jelas Neil.
Ia menambahkan, dalam hal distribusi, Tupperware sulit terhubung dengan generasi yang lebih muda.
Sehingga ia "gagal berubah seiring waktu" dalam hal produk dan distribusinya.
Baca Juga: UMKM Go Digital
Editor : Abdul Rokhim