Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Penjualan Anjlok dan Tidak Mampu Bersaing Bikin Perusahaan Tupperware Bangkrut?

Nibros Hassani • Kamis, 19 September 2024 | 01:22 WIB
Salah satu produk yang dipasarkan Tupperware. Foto: Instagram @tupperwareglobal
Salah satu produk yang dipasarkan Tupperware. Foto: Instagram @tupperwareglobal

RADAR KUDUSTupperware Brand Corporation atau yang akrab kita kenal sebagai perusahaan wadah plastik, telah dikabarkan resmi mengajukan kebangkrutan pada pertengahan September 2024.

Kabar itu juga dikonfirmasi oleh CEO Tupperware Laurie Ann Goldman. Ia mengakui kondisi perusahaan yang ia pimpin sedang tidak baik-baik saja.

Baca Juga: Utamakan Edukasi dibandingkan Advokasi, Direktur Utama BRI Sunarso Bagikan 5 Jurus Dorong UMKM Indonesia Maju

Apa saja alasan perusahaan sebesar Tupperware bisa bangkrut?
Beberapa alasan yang mengemuka adalah karena Tupperware tidak bisa bersaing dan anjloknya sales/penjualan dalam 10 tahun terakhir.

Sebelum pengumuman kebangkrutan ini, Tupperware juga telah dikabarkan melakukan PHK pada Juni lalu.

Perusahaan wadah favorit Ibu-ibu itu berencana menutup satu-satunya pabrik di Amerika dan melakukan PHK pada sekitar 150 karyawan.

Baca Juga: Tiga Tahun Holding Ultra Mikro BRI Group Layani 176 juta Nasabah Simpanan dan 36,1 Juta Debitur

Perusahaan Dinilai Tidak Cukup Inovatif
Kalangan ibu-ibu menilai anjloknya penjualan berlanjut karena perusahaan tersebut tidak "cukup inovatif" selama 10 hingga 20 tahun terakhir untuk bersaing dengan para pesaingnya.

Apalagi, pasar telah dipenuhi merek lain yang menawarkan alternatif produk yang lebih murah dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Smartfren 100% untuk Indonesia: Charity Golf Tournament 2024 Serahkan Donasi Rp200 Juta kepada Yayasan Buddha Tzu Chi

Faktor pandemi Covid-19 sempat menguntungan Tupperware. Apalagi banyak orang yang memanggang dan memasak di rumah. Namun kondisi itu ternyata hanya sementara.

Sebelum mengajukan kebangkrutan, Tupperware diketahui harus mengelola utang lebih dari US$ 700 juta (Rp 10,85 triliun).

Baca Juga: UMKM Menjaga Keberlanjutan Finansial melalui Akuntansi?

Model Bisnis Tatap Muka Tidak Efektif
Popularitas Tupperware dimulai setelah adanya banyak Ibu-ibu berjualan produk tersebut arisan dan pertemuan.

Namun, dengan adanya teknologi, pengenalan brand tersebut secara tatap muka kini sudah tidak relevan.

Neil Saunders, direktur pelaksana ritel di konsultan GlobalData mengungkapkan analisanya terhadap perkembangan Tupperware.

Baca Juga: Soal Harga Gas Melon Naik, Konsumen di Grobogan: Yang penting Barang Ada

“Produk ini dirancang dengan sangat cemerlang dan menjadi ajaib karena cara penjualannya, tetapi di dunia digital ini, model tatap muka tidak lagi relevan" jelas Neil.

Ia menambahkan, dalam hal distribusi, Tupperware sulit terhubung dengan generasi yang lebih muda.

Sehingga ia "gagal berubah seiring waktu" dalam hal produk dan distribusinya.

Baca Juga: UMKM Go Digital

 

Editor : Abdul Rokhim
#kabar terkini #ekonomi #bisnis 2024 #Tupperware Brand Corp #tupperware #Tupperware bangkrut