RADAR KUDUS - Di tengah pesatnya pembangunan Kota Semarang yang dipenuhi gedung-gedung modern dan lalu lintas yang padat, terdapat sebuah destinasi wisata yang mampu membawa pengunjung bernostalgia ke masa lampau.
Tempat tersebut adalah Kampoeng Djadhoel, yang berada di kawasan Kampung Batik Semarang, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur.
Mengusung konsep wisata budaya, Kampoeng Djadhoel menghadirkan perpaduan sejarah, edukasi, seni, dan kuliner dalam satu kawasan yang dikelola langsung oleh masyarakat.
Memasuki area Kampoeng Djadhoel, wisatawan akan disambut gerbang bergaya tradisional dengan nuansa klasik.
Atap jerami, ornamen batik, bangku kayu, payung warna-warni, serta mural bertema budaya menghiasi hampir setiap sudut kampung.
Lorong-lorong kecil yang dipenuhi lukisan bernuansa pewayangan dan sejarah Kota Semarang menciptakan suasana layaknya kembali ke kehidupan tempo dulu.
Mural-mural tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga dilengkapi penjelasan sehingga pengunjung dapat mempelajari kisah yang tersimpan di balik setiap gambar.
Kampoeng Djadhoel resmi berdiri pada 29 April 2017 sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali Kampung Batik Semarang.
Kawasan ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama masyarakat sekitar dengan tujuan melestarikan budaya sekaligus meningkatkan perekonomian warga melalui sektor pariwisata.
Sejak dibuka, tempat ini telah menjadi tujuan wisata edukasi bagi anak-anak, pelajar, mahasiswa, komunitas, instansi pemerintah, hingga wisatawan mancanegara.
Belajar Membatik Langsung Bersama Perajin
Salah satu daya tarik utama Kampoeng Djadhoel adalah aktivitas membatik.
Wisatawan dapat mengikuti paket edukasi membatik dengan harga mulai Rp50.000 hingga Rp150.000 per orang, tergantung media yang dipilih.
Seluruh perlengkapan membatik telah disediakan sehingga peserta hanya perlu mengikuti arahan dari para perajin.
Pengunjung dapat memilih berbagai media membatik sesuai keinginan, mulai dari totebag, syal, hiasan dinding (spampram), taplak meja, hingga kain jumputan.
Setelah proses membatik selesai, hasil karya tersebut dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Tak hanya belajar teknik membatik, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai sejarah Batik Semarang, filosofi motif-motif khas daerah, hingga proses pelestarian batik sebagai warisan budaya.
Karena itu, kegiatan ini banyak diminati sekolah, kampus, maupun komunitas yang ingin memperoleh pengalaman belajar secara langsung.
Mengenal Batik Khas Semarang
Kampoeng Djadhoel menjadi salah satu pusat pelestarian Batik Asem Semarang atau Asem Sedompol, yaitu motif batik yang menggambarkan buah asam dalam satu gerombol.
Motif tersebut merupakan identitas khas Kota Semarang dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Selain Batik Asem Semarang, wisatawan juga dapat melihat berbagai motif batik lain yang terinspirasi dari ikon Kota Semarang seperti Lawang Sewu, Tugu Muda, bunga, hingga unsur budaya pesisir.
Menikmati Kuliner Tradisional dan Cita Rasa Nusantara
Tak hanya menawarkan wisata budaya, Kampoeng Djadhoel juga menjadi surga bagi pecinta kuliner.
Di kawasan ini terdapat sejumlah stan yang menjual berbagai makanan dan minuman khas yang bisa dinikmati setelah berkeliling kampung.
Beberapa menu yang tersedia antara lain nasi kebuli, jajanan pasar tradisional, hingga camilan favorit seperti jagung susu keju (jasuke).
Pengunjung juga dapat menikmati aneka manisan buah, seperti manisan mangga, salak, dan gedondong, yang menjadi salah satu oleh-oleh favorit wisatawan.
Selain menu tersebut, Kampoeng Djadhoel juga menyajikan berbagai kuliner khas Semarang yang mulai sulit ditemukan, seperti Sego Glewo, hidangan legendaris berbahan daging sapi dan koyor dengan kuah santan gurih yang telah dikenal sejak sekitar tahun 1931.
Ada pula roti ganjel rel, wedang jarem, wedang tahu, beragam jamu tradisional, hingga aneka jajanan khas Semarang lainnya.
Menariknya, setiap makanan yang dijual memiliki kisah sejarah tersendiri.
Pengunjung dapat mengetahui asal-usul kuliner tersebut melalui barcode informasi yang tersedia di beberapa sudut kawasan, sehingga pengalaman wisata menjadi lebih edukatif.
Wisata Edukasi yang Lengkap
Selain mengikuti kelas membatik dan berburu kuliner, wisatawan juga dapat menikmati suasana kampung dengan berfoto di berbagai sudut yang Instagramable.
Deretan mural bertema sejarah, ornamen batik, serta bangunan bergaya tradisional menjadi latar favorit pengunjung.
Kampoeng Djadhoel juga kerap menjadi lokasi penelitian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Banyak penelitian, mulai dari tugas kuliah, skripsi, tesis, hingga disertasi, dilakukan di kawasan ini karena kekayaan sejarah dan budaya yang dimilikinya.
Bangkit dari Sejarah Kampung Batik
Di balik keindahannya, Kampoeng Djadhoel menyimpan sejarah panjang. Kampung Batik Semarang pernah menjadi sentra batik yang berkembang pesat.
Namun, kawasan ini mengalami kemunduran setelah peristiwa pembakaran pada 17 Oktober 1945, sehingga aktivitas membatik sempat terhenti selama puluhan tahun.
Baru pada tahun 2006, masyarakat bersama sejumlah tokoh budaya mulai menghidupkan kembali Kampung Batik melalui pelatihan membatik, pemberdayaan UMKM, dan pengembangan wisata budaya.
Upaya tersebut akhirnya melahirkan Kampoeng Djadhoel pada tahun 2017 sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang kini dikenal luas.
Menjadi Destinasi Favorit Wisatawan
Lokasinya yang berada di pusat Kota Semarang membuat Kampoeng Djadhoel mudah dijangkau dan sering menjadi bagian dari paket wisata bersama Kota Lama Semarang.
Tidak hanya wisatawan lokal, banyak turis mancanegara yang datang untuk mengenal lebih dekat budaya batik, mencicipi kuliner khas, serta merasakan suasana kampung tradisional di tengah kota modern.
Lebih dari sekadar tempat rekreasi, Kampoeng Djadhoel menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui edukasi membatik, pelestarian kuliner tradisional, serta keterlibatan aktif warga sekitar, destinasi ini terus menjaga warisan budaya Semarang agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. (Muthia)
Editor : Ali Mustofa