Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Setelah PHK Massal demi AI, Ford hingga IBM Ubah Strategi Perekrutan

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 2 Juli 2026 | 16:31 WIB
Ilustrasi teknologi ai yang sekarang sangat canggih
Ilustrasi teknologi ai yang sekarang sangat canggih

BANDUNG – Tren adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sempat mendorong banyak perusahaan memangkas tenaga kerja kini mulai memunculkan evaluasi. Sejumlah perusahaan global justru mengambil langkah berlawanan dengan kembali merekrut karyawan manusia setelah menyadari bahwa teknologi AI belum mampu menggantikan seluruh fungsi pekerjaan.

Perubahan strategi tersebut terjadi setelah berbagai perusahaan menghadapi tantangan operasional, mulai dari menurunnya kualitas layanan, munculnya persoalan etika, hingga kebutuhan akan pengawasan manusia terhadap sistem AI.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa AI bukan pengganti total sumber daya manusia, melainkan teknologi yang lebih efektif jika digunakan sebagai alat pendukung produktivitas.

Baca Juga: Gabriel Mutombo Resmi Gabung Persib, Igor Tolic Sebut Sudah Dipantau Sejak Musim Lalu

AI Tidak Selalu Menjadi Solusi Tunggal

Dalam dua tahun terakhir, banyak perusahaan mempercepat transformasi digital dengan mengintegrasikan AI ke berbagai lini bisnis.

Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mengotomatisasi pekerjaan administratif, layanan pelanggan, analisis data, hingga proses rekrutmen.

Namun dalam praktiknya, sejumlah perusahaan menemukan bahwa AI masih memiliki keterbatasan.

Sistem AI sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan untuk pelatihan (training data). Ketika menghadapi situasi yang kompleks, membutuhkan pertimbangan etika, atau keputusan yang bersifat kontekstual, campur tangan manusia tetap dibutuhkan.

Baca Juga: Bukan Pelaku Pencurian, Dua Pria Dilakban Mirip Teletubbies Ternyata Sedang Jalani Challenge TikTok

Ford Kembali Andalkan Insinyur Berpengalaman

Salah satu perusahaan yang melakukan penyesuaian strategi adalah Ford Motor Company.

Produsen otomotif asal Amerika Serikat tersebut dilaporkan kembali mempekerjakan ratusan insinyur berpengalaman untuk membantu menyelesaikan persoalan kualitas kendaraan yang tidak dapat ditangani secara optimal oleh sistem otomatis.

Wakil Presiden Vehicle Hardware Engineering Ford, Charles Poon, menegaskan bahwa AI merupakan teknologi yang sangat membantu, tetapi kualitas hasilnya tetap bergantung pada data yang digunakan.

Menurutnya, AI tidak dapat bekerja secara maksimal tanpa dukungan pengetahuan dan pengalaman manusia.

Commonwealth Bank Batalkan Pengurangan Pegawai

Pengalaman serupa juga dialami Commonwealth Bank of Australia (CBA).

Sebelumnya, bank tersebut mengganti sebagian petugas layanan pelanggan dengan sistem bot berbasis AI.

Namun implementasi tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Baca Juga: Ketua RT di Kuningan Belum Pulang dari Hutan, Karung dan Arit Ditemukan, Lebih dari 150 Warga Sisir Hutan

AI dinilai belum mampu menangani seluruh permintaan nasabah sehingga jumlah panggilan ke layanan pelanggan justru meningkat.

Kondisi tersebut membuat perusahaan membatalkan sebagian rencana pengurangan tenaga kerja.

Serikat pekerja sektor keuangan Australia menyambut keputusan tersebut sebagai langkah positif bagi perlindungan tenaga kerja.

Pihak CBA juga mengakui bahwa terdapat sejumlah aspek operasional yang belum sepenuhnya dipertimbangkan ketika memutuskan melakukan efisiensi berbasis AI.

IBM Perlu Tambahan SDM

Perusahaan teknologi IBM juga mengembangkan AI untuk menangani berbagai pekerjaan rutin di divisi sumber daya manusia.

Menurut perusahaan, sekitar 94 persen tugas administratif berhasil diotomatisasi.

Namun, enam persen pekerjaan lainnya tetap membutuhkan keterlibatan manusia karena berkaitan dengan pengambilan keputusan, komunikasi, dan pertimbangan etika.

Kepala Sumber Daya Manusia IBM, Nickle LaMoreaux, menilai perusahaan tetap perlu merekrut talenta baru agar memiliki sumber daya manusia yang siap menghadapi kebutuhan bisnis di masa depan.

Banyak Perusahaan Mengakui Salah Perhitungan

Laporan lembaga konsultan organisasi Orgvue menunjukkan tren yang menarik.

Dalam surveinya, 39 persen pemimpin perusahaan mengaku pernah melakukan pengurangan tenaga kerja karena implementasi AI.

Namun dari kelompok tersebut, 55 persen kemudian menyatakan keputusan tersebut ternyata kurang tepat.

Temuan itu menunjukkan bahwa banyak perusahaan masih berada dalam tahap pembelajaran mengenai cara terbaik mengintegrasikan AI ke dalam operasional bisnis.

Baca Juga: Terbongkar! Dugaan Pembunuhan Bos Bengkel Banyumas Dirancang Selama 6 Bulan, Sejak Januari 2026

Pengawasan Manusia Tetap Dibutuhkan

Penyedia solusi SDM global ADP juga menilai kehadiran manusia masih menjadi faktor penting dalam pemanfaatan AI.

Senior Vice President APAC ADP, Jessica Zhang, mengatakan perusahaan sering kali harus kembali melibatkan tenaga kerja ketika hasil AI tidak konsisten, kurang akurat, atau sulit diterapkan pada situasi nyata.

Sementara itu, data lain menunjukkan 32 persen manajer perekrutan di Amerika Serikat pernah menghapus suatu posisi pekerjaan karena AI, tetapi kemudian membuka kembali lowongan yang sama atau serupa setelah melihat kebutuhan operasional.

AI Lebih Efektif sebagai Pendamping Manusia

Berbagai penelitian dan laporan industri dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa AI paling efektif digunakan untuk membantu pekerjaan yang bersifat berulang, seperti pengolahan data, penyusunan laporan awal, hingga otomatisasi layanan sederhana.

Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, kepemimpinan, empati, negosiasi, penilaian etis, maupun pengambilan keputusan strategis masih sangat bergantung pada kemampuan manusia.

Para pakar transformasi digital juga mengingatkan bahwa investasi teknologi sebaiknya dibarengi peningkatan kompetensi karyawan melalui pelatihan (upskilling) dan pengembangan keterampilan (reskilling).

Pendekatan tersebut dinilai lebih berkelanjutan dibanding menggantikan tenaga kerja secara menyeluruh dengan AI.

Transformasi Digital Perlu Keseimbangan

Fenomena sejumlah perusahaan yang kembali merekrut karyawan menunjukkan bahwa transformasi digital tidak sekadar soal mengganti manusia dengan mesin.

Keberhasilan implementasi AI justru bergantung pada kolaborasi antara teknologi dan sumber daya manusia.

AI mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi tetap memerlukan pengawasan, evaluasi, serta keputusan akhir dari manusia agar hasil yang diperoleh lebih akurat, aman, dan sesuai kebutuhan bisnis.

Editor : Mahendra Aditya
#dampak AI terhadap pekerjaan #AI dan PHK #Ford AI #IBM kecerdasan buatan #Commonwealth Bank AI