RADAR KUDUS – Di tengah tuntutan publik akan transparansi penggunaan uang rakyat yang semakin kuat, muncul sebuah terobosan teknologi dari tangan dingin talenta lokal.
Abil Sudarman, seorang AI Engineer asal Indonesia, bersama timnya resmi meluncurkan Nemesis Assai, sebuah platform dashboard canggih yang dirancang khusus untuk membedah dan melacak jutaan data pengadaan barang dan jasa pemerintah secara real-time.
Nemesis Assai bukan sekadar basis data biasa. Platform ini mengintegrasikan data mentah dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan memprosesnya menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk mendeteksi anomali.
Baca Juga: Dilema Ekologi dan Etika: MUI Kritik Metode Penguburan Hidup-Hidup Ikan Sapu-Sapu di Jakarta
Salah satu fitur unggulan Nemesis adalah kemampuannya mengelompokkan potensi kejanggalan anggaran ke dalam beberapa kategori risiko yang unik, yaitu:
Medium: Kejanggalan administratif atau selisih harga tipis.
High: Indikasi markup harga yang signifikan atau ketidaksesuaian spesifikasi.
Absurd: Kategori khusus untuk anggaran yang dinilai tidak masuk akal secara logika publik maupun urgensi operasional.
Sejak dioperasikan, Nemesis telah mengungkap sejumlah temuan yang memicu diskusi panas di media sosial.
Beberapa di antaranya meliputi pengadaan kendaraan operasional mewah yang bernilai miliaran rupiah hingga alokasi anggaran untuk tanaman hias di instansi tertentu yang menembus angka fantastis Rp1 miliar.
Abil Sudarman menekankan bahwa meskipun AI bekerja dengan kecepatan tinggi dalam memfilter jutaan data, platform ini tetap mengedepankan integritas data melalui verifikasi manusia (human-in-the-loop).
Setiap temuan yang dilabeli berisiko tinggi oleh sistem akan melalui proses validasi manual sebelum dipublikasikan untuk memastikan konteks dan akurasinya tetap terjaga.
Kehadiran Nemesis Assai menjadi angin segar bagi ekosistem demokrasi digital di Indonesia. Dengan pendekatan sistem terbuka (open system), platform ini memungkinkan masyarakat sipil, jurnalis investigasi, hingga lembaga pengawas untuk memiliki alat kontrol yang efektif dalam memantau setiap rupiah yang keluar dari kas negara.
"Visi kami adalah menciptakan pengelolaan anggaran yang lebih transparan dan akuntabel. Nemesis hadir bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memastikan bahwa setiap sen pajak rakyat digunakan secara tepat sasaran dan minim penyimpangan," ujar Abil.
Dengan teknologi ini, celah bagi praktik "anggaran siluman" atau pengadaan fiktif diharapkan dapat dipersempit.
Nemesis menjadi bukti nyata bahwa di tangan anak muda yang tepat, teknologi AI dapat diubah menjadi senjata ampuh untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih (good governance) demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna