RADAR KUDUS - Microsoft hari ini secara resmi menghentikan seluruh bentuk dukungan terhadap sistem operasi Windows 10, termasuk pembaruan keamanan, perbaikan bug, dan dukungan teknis untuk semua edisi, baik Home, Pro, maupun Enterprise.
Penghentian ini menandai berakhirnya satu dekade perjalanan Windows 10 sejak pertama kali diluncurkan pada Juli 2015.
Sistem operasi ini pernah menjadi tulang punggung komputasi global, digunakan oleh ratusan juta perangkat di seluruh dunia.
Apa Artinya Penghentian Dukungan?
Mulai hari ini, perangkat yang masih menjalankan Windows 10 tidak akan lagi menerima pembaruan keamanan dari Microsoft.
Ini berarti setiap celah keamanan yang muncul di masa mendatang tidak akan ditambal, sehingga meningkatkan risiko terkena serangan virus, malware, hingga eksploitasi data pribadi.
"Windows 10 akan disetop dukungannya pada 14 Oktober 2025. Pada tahap ini, bantuan teknis dan pembaruan software tidak akan lagi tersedia," tulis Microsoft dalam pernyataan resminya.
Meskipun sistem masih bisa digunakan, pengguna tidak akan mendapatkan fitur baru ataupun peningkatan performa. Kompatibilitas dengan aplikasi dan layanan masa depan juga kemungkinan akan menurun secara signifikan.
Pangsa Pasar Masih Besar
Menariknya, hingga September 2025, data Statcounter menunjukkan bahwa pangsa pasar Windows 10 masih sebesar 40,84 persen, hanya terpaut sekitar 8–9 persen dari Windows 11 yang kini mendominasi dengan 49,05 persen. Fakta ini menunjukkan masih banyak pengguna yang belum melakukan transisi.
Apa Saja Pilihan Pengguna?
Microsoft memberikan tiga opsi bagi pengguna Windows 10 yang ingin tetap aman hingga setidaknya Oktober 2026:
1. Upgrade ke Windows 11
Pilihan utama dan disarankan. Namun, perangkat harus memenuhi persyaratan minimal seperti prosesor generasi baru, TPM 2.0, dan UEFI Secure Boot. Jika tidak memenuhi, Microsoft menyarankan pengguna mengganti perangkat keras.
2. Ikut Program Extended Security Updates (ESU)
Pengguna dapat membeli paket pembaruan keamanan tambahan hingga Oktober 2026 dengan biaya 30 dolar AS per perangkat (sekitar Rp 497.000). Program ini cocok bagi bisnis atau individu yang belum siap migrasi namun tetap ingin terlindungi dari celah keamanan.
3. Program Windows Backup + Microsoft Rewards
Microsoft juga menyediakan opsi pembaruan keamanan tambahan selama satu tahun bagi pengguna yang mengaktifkan Windows Backup dan menyinkronkannya dengan akun OneDrive.
Pengguna akan mendapat update gratis jika melakukan pencadangan data melalui layanan cloud Microsoft. Namun, perlu diingat kapasitas gratis hanya 5 GB. Untuk mencadangkan lebih banyak data, diperlukan langganan OneDrive berbayar (mulai Rp 31.999 per bulan untuk 100 GB).
Alternatif lain, pengguna bisa menukar 1.000 poin Microsoft Rewards untuk mendapatkan pembaruan ini, yang bisa diperoleh lewat aktivitas seperti menggunakan Bing atau berbelanja melalui akun Microsoft.
Pengguna yang tetap menggunakan Windows 10 tanpa ikut salah satu dari ketiga program di atas akan sangat rentan terhadap ancaman siber. Pakar keamanan siber menyebut sistem tanpa patch akan menjadi sasaran empuk bagi penjahat digital.
“Menggunakan sistem operasi tanpa dukungan keamanan sama saja seperti membiarkan rumah tidak terkunci di tengah malam,” ujar pakar keamanan TI dari TechSecure Indonesia, Andika Saputra.
Windows 10 telah menjadi sistem operasi andalan selama 10 tahun terakhir. Namun kini, masa baktinya telah resmi usai. Pengguna diimbau untuk segera mengambil tindakan — baik dengan upgrade, mengikuti program ESU, atau memanfaatkan opsi backup — agar tetap aman dan produktif di era digital.
Editor : Mahendra Aditya