RADAR KUDUS - Paolo Maldini akhirnya buka suara mengenai kekacauan yang membuat proyek pembenahan sepak bola Italia berakhir jauh lebih cepat dari yang direncanakan. Mantan kapten AC Milan dan Timnas Italia itu mengungkap bahwa ia sebenarnya datang ke FIGC dengan misi jauh lebih besar daripada sekadar mencari pelatih baru untuk Gli Azzurri.
Maldini ingin membangun ulang fondasi sepak bola Italia dalam proyek jangka panjang selama delapan hingga 10 tahun. Salah satu negara yang menjadi rujukannya adalah Swiss, yang dinilai berhasil melakukan pembenahan sistem secara bertahap dengan melibatkan berbagai unsur sepak bola.
Namun, proyek tersebut tidak pernah benar-benar dimulai.
Maldini hanya bertahan 16 hari setelah ditunjuk sebagai direktur teknik FIGC. Ia bersama Leonardo, yang berstatus penasihat, mengundurkan diri pada 27 Juli 2026 setelah terjadi perselisihan dengan Presiden FIGC Giovanni Malagò, terutama menyangkut pemilihan pelatih baru Italia.
Baca Juga: Setelah Digne, PSG Incar Kiper Jepang Zion Suzuki: Transfer €35 Juta Mulai Dibahas
FIGC sebelumnya mengumumkan Maldini sebagai direktur teknik pada 11 Juli, sekaligus memberinya tanggung jawab sebagai Presiden Club Italia. Leonardo ditunjuk sebagai penasihatnya. Ketika pengangkatan itu diumumkan, Malagò bahkan menyebut komitmen tersebut sebagai proyek empat tahun yang diarahkan menuju Piala Dunia 2030 dan satu edisi Euro.
Tetapi visi Maldini ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar satu siklus turnamen.
Dalam wawancaranya dengan Corriere della Sera, Maldini menjelaskan bahwa ketika Malagò mengajaknya bergabung, pembicaraan yang dilakukan bukan hanya tentang bagaimana memperbaiki tim nasional senior.
Menurut Maldini, persoalannya jauh lebih mendasar: sepak bola Italia membutuhkan reformasi menyeluruh.
Ia ingin membangun sistem yang mampu menghasilkan pemain berkualitas sekaligus mengubah pola pikir sepak bola Italia. Proses tersebut, menurutnya, tidak mungkin selesai dalam satu atau dua musim.
Maldini memperkirakan dibutuhkan waktu delapan sampai 10 tahun untuk membentuk talenta baru, membangun mentalitas baru dan menyatukan berbagai komponen sepak bola nasional.
Konsep tersebut juga tidak hanya menyasar Serie A atau tim nasional senior.
Maldini menginginkan keterlibatan Serie A, Serie B, Serie C, sepak bola amatir, asosiasi pelatih, pemain hingga wasit. Semua elemen tersebut harus bekerja dalam arah yang sama agar reformasi tidak berhenti sebagai proyek di level federasi.
Di sinilah Swiss menjadi salah satu inspirasi.
Menurut Maldini, reformasi sepak bola tidak selalu harus meniru negara-negara besar seperti Inggris, Prancis atau Spanyol. Negara dengan ukuran lebih kecil seperti Swiss juga dapat menjadi contoh bagaimana sistem sepak bola dibangun secara bertahap dan terkoordinasi.
Bagi Maldini, keberhasilan sebuah tim nasional bukan hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi pelatih.
Pelatih memang penting untuk menghadirkan hasil dalam jangka pendek. Namun, kualitas tim nasional pada akhirnya bergantung pada bagaimana pemain dibentuk sejak usia muda, bagaimana klub mengembangkan talenta, bagaimana kompetisi berjalan, serta bagaimana federasi menyatukan seluruh sistem tersebut.
Itulah sebabnya Maldini membagi proyeknya dalam dua jalur: memperbaiki hasil tim nasional dalam waktu dekat sekaligus membangun fondasi untuk generasi berikutnya.
Masalahnya, Italia tidak mempunyai kemewahan waktu yang panjang.
Maldini menyadari bahwa dalam waktu kurang dari dua bulan, Italia sudah harus menghadapi pertandingan-pertandingan penting Nations League. Karena itu, reformasi jangka panjang harus berjalan beriringan dengan tuntutan untuk mendapatkan hasil secepat mungkin.
Namun, konflik mengenai siapa yang harus menjadi pelatih akhirnya menghentikan semuanya.
Maldini dan Leonardo sebelumnya menjadikan Pep Guardiola sebagai salah satu target utama. Guardiola disebut sangat dekat untuk menerima tawaran tersebut, tetapi akhirnya menolak karena alasan pribadi dan kebutuhan untuk beristirahat setelah periode panjang menangani Manchester City. Maldini kemudian mengarahkan pilihan kepada Andrea Pirlo.
Di titik inilah hubungan Maldini dan Malagò mulai retak.
Maldini mengatakan bahwa ketika menerima tawaran menjadi direktur teknik, ia terlebih dahulu menanyakan siapa yang memiliki kewenangan menentukan pelatih tim nasional.
Menurut versinya, Malagò menjawab bahwa pelatih akan dipilih oleh pihak Maldini dan timnya, sedangkan presiden federasi akan memberikan persetujuan akhir.
Tetapi, Maldini mengklaim kesepakatan tersebut kemudian berubah.
Baca Juga: Bukan Sekadar Transfer: Samu Costa Masuk, Al Nassr Dihadapkan pada Persoalan Finansial
Perubahan itulah yang menurutnya membuat proyek mereka tidak lagi dapat berjalan seperti semula.
Nama Pirlo kemudian menjadi titik ledakan.
Mantan gelandang Juventus dan Italia tersebut menjadi kandidat pilihan Maldini setelah Guardiola menolak. Namun, rencana itu terhenti setelah muncul kontroversi mengenai hubungan komersial Pirlo dengan perusahaan taruhan Rusia Fonbet. Pirlo akhirnya menyatakan dirinya tidak lagi menjadi kandidat pelatih Italia.
Maldini mengakui bahwa ketika proses pencalonan Pirlo berlangsung, dirinya tidak mengetahui seluruh detail hubungan komersial tersebut.
Namun, ia berpendapat bahwa hubungan itu tidak memiliki konsekuensi hukum yang secara otomatis melarang Pirlo menjadi pelatih Italia. Menurut Maldini, Pirlo juga bersedia mengakhiri kerja sama tersebut jika memang diperlukan.
Karena itu, Maldini menilai kontroversi tersebut lebih merupakan alasan yang digunakan untuk menghentikan pencalonan Pirlo daripada hambatan hukum yang mutlak.
Pandangan tersebut tentu merupakan versi Maldini dalam konflik tersebut dan tidak berarti menjadi kesimpulan resmi FIGC. Malagò sendiri mempertahankan keputusan federasi mengenai Pirlo, sementara kontroversi tersebut berujung pada mundurnya Maldini dan Leonardo.
Yang membuat situasinya semakin dramatis adalah durasi Maldini di FIGC.
Ia baru diumumkan pada 11 Juli dan mengundurkan diri pada 27 Juli. Total masa tugasnya hanya 16 hari.
Baca Juga: Bruno Guimarães £75 Juta Resmi ke Arsenal, Lini Tengah The Gunners Kini Bikin Rival Ketar-ketir
Ironisnya, ketika Maldini menerima jabatan tersebut, FIGC menyatakan bahwa proyeknya diarahkan menuju Piala Dunia 2030. Federasi bahkan menggambarkan Maldini dan Leonardo sebagai bagian penting dari struktur teknis baru yang harus mengawasi bukan hanya tim senior, tetapi juga jalur tim nasional usia muda.
Artinya, proyek yang seharusnya berlangsung bertahun-tahun justru berhenti sebelum benar-benar berjalan.
Maldini sendiri membawa pengalaman besar untuk proyek tersebut. Ia mengoleksi 126 caps bersama Italia, 74 di antaranya sebagai kapten. Bersama Milan, klub yang ia bela sepanjang karier profesionalnya, ia memenangkan 26 trofi dan kemudian kembali ke klub tersebut sebagai direktur. Pada 2022, ia membantu Milan memenangkan Scudetto sebagai seorang eksekutif.
Namun, pengalaman luar biasa sebagai pemain dan eksekutif tidak cukup untuk menghindarkan proyeknya dari konflik internal federasi.
Pengunduran dirinya kemudian memperdalam persoalan yang sedang dihadapi Italia. Reuters menilai kepergian Maldini dan Leonardo menciptakan kekosongan kepemimpinan sekaligus ketidakpastian strategis di tubuh FIGC pada saat sepak bola Italia sedang membutuhkan arah baru.
Bagi Italia, persoalannya bukan sekadar kehilangan seorang legenda.
Yang hilang adalah kesempatan untuk menjalankan proyek reformasi yang dirancang dengan horizon satu dekade.
Maldini percaya Italia harus berhenti mencari solusi instan setiap kali tim nasional mengalami kegagalan. Menurut konsepnya, regenerasi pemain dan perubahan budaya sepak bola membutuhkan kesabaran, koordinasi dan konsistensi.
Swiss menjadi contoh bahwa negara yang tidak memiliki sumber daya sebesar raksasa sepak bola Eropa tetap dapat membangun sistem kompetitif jika seluruh komponennya bergerak dalam arah yang sama.
Tetapi visi semacam itu membutuhkan satu hal yang ternyata justru paling sulit didapat Italia: kesatuan di tingkat pengambil keputusan.
Maldini dan Leonardo kini sudah tidak berada di FIGC. Proyek delapan hingga 10 tahun yang mereka bayangkan pun kehilangan arsiteknya sebelum pembangunan dimulai.
Dan itulah ironi terbesar dari kisah ini.
Italia membutuhkan reformasi besar untuk kembali menjadi kekuatan utama sepak bola dunia. Maldini datang dengan rencana jangka panjang, menjadikan Swiss sebagai salah satu inspirasi dan mencoba menggabungkan pembenahan pemain muda dengan kebutuhan hasil tim senior.
Namun, hanya 16 hari kemudian, proyek tersebut runtuh akibat konflik mengenai siapa yang memiliki kendali atas keputusan paling penting: memilih pelatih tim nasional.
Bagi Maldini, masalah sepak bola Italia bukan sekadar mencari satu sosok untuk berdiri di pinggir lapangan.
Masalahnya adalah sistem.
Dan menurut gagasannya, sistem itu membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk dibangun kembali.
Editor : Mahendra Aditya