
BANJARNEGARA – Lahan tidur di Jawa Tengah tak boleh terus “nyenyak”. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menggeber Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis untuk mengubah lahan mangkrak menjadi sumber pangan, lapangan kerja, sekaligus mesin ekonomi baru bagi masyarakat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bahkan memasang target lebih besar: Revola direplikasi di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Target tersebut disampaikan Luthfi saat meresmikan sekaligus meninjau program Revola Jateng Optimis di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Senin (10/8).
Luthfi menegaskan, persoalan lahan tidak produktif bukan hanya milik Banjarnegara. Di berbagai daerah masih terdapat lahan yang belum digarap secara maksimal. Kondisi tersebut, menurutnya, harus dijawab dengan kehadiran pemerintah.
“Saya pengen seluruh kabupaten/kota harus punya Revola, karena saya yakin di seluruh kabupaten/kota masih banyak lahan kita yang tidur nyenyak. Lahan tidur yang tidak pernah digarap, provinsi harus turun tangan,” kata Luthfi.
Bukan Sekadar Buka Lahan
Revola tidak dirancang sekadar untuk “membangunkan” lahan yang lama terbengkalai. Konsepnya dibuat sebagai ekosistem pertanian terintegrasi.
Pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, teknologi, hingga pemberdayaan masyarakat dipadukan dalam satu kawasan. Harapannya, satu lahan bisa menghasilkan banyak manfaat dan menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang.
Model itu mulai terlihat di Desa Susukan. Lahan seluas sekitar 10 hektare yang sebelumnya kurang produktif selama kurang lebih 12 tahun kini kembali digarap. Lahan eks tanaman teh tersebut dikembangkan dengan konsep integrated smart farming.
Kopi dan alpukat ditanam sebagai tanaman konservasi untuk membantu menekan erosi. Di kawasan yang sama juga dikembangkan hortikultura, padi, perikanan, serta peternakan ayam dan kambing.



