Viral! Tendangan Kungfu Warnai Duel Safin Pati vs BJL 2000 di Piala Soeratin U-17

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 19:43 WIB
Tendangan Kungfu di Piala Soeratin U-17 saat Laga Safin Pati vs BJL 2000.
Tendangan Kungfu di Piala Soeratin U-17 saat Laga Safin Pati vs BJL 2000.

PATI – Piala Soeratin U-17 Zona Jawa Tengah yang seharusnya menjadi panggung lahirnya talenta-talenta masa depan sepak bola Indonesia justru diwarnai aksi yang jauh dari semangat fair play. Duel Safin Pati U-17 kontra BJL 2000 U-17 di Stadion Gelora Soekarno, Mojoagung, Trangkil, Senin (27/7), berubah menjadi sorotan usai muncul insiden tendangan bergaya kungfu yang viral di media sosial.

Laga yang berlangsung sengit itu sebenarnya menghadirkan duel seimbang. Kedua tim saling jual beli serangan hingga pertandingan berakhir dengan skor 1-1. Namun, hasil akhir justru kalah mencuri perhatian dibanding aksi keras yang terjadi di atas lapangan.

Momen tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian diunggah akun Instagram Semarang Updates. Dalam tayangan itu terlihat seorang pemain berseragam terang melompat dan melayangkan tendangan tinggi ke arah pemain lawan yang mengenakan jersey gelap.

Benturan keras membuat pemain BJL 2000 langsung tersungkur di lapangan. Wasit tanpa ragu mengeluarkan kartu merah kepada pelaku karena menilai pelanggaran tersebut membahayakan keselamatan lawan.

Berdasarkan informasi yang beredar, pemain BJL 2000 bernama Rama Jangkar (16) bahkan harus mendapatkan penanganan medis dan menjalani perawatan di rumah sakit akibat insiden tersebut.

Video itu dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memancing reaksi keras dari pecinta sepak bola. Banyak warganet menilai aksi tersebut tidak mencerminkan semangat kompetisi usia muda yang mengedepankan pembinaan karakter, teknik, dan sportivitas.

Tak sedikit pula yang mendesak Asprov PSSI Jawa Tengah untuk memberikan hukuman tegas kepada pemain yang terlibat. Menurut mereka, tindakan disiplin diperlukan agar kejadian serupa tidak menjadi contoh buruk bagi pemain muda lainnya.

Di tengah ramainya perbincangan publik, pihak Asprov PSSI Jawa Tengah belum memberikan penjelasan detail mengenai kronologi insiden tersebut. Perwakilan Asprov, M. Ibnu, menyampaikan bahwa kasus itu akan diproses sesuai mekanisme yang berlaku.

"Nanti akan ada sidang Komisi Disiplin PSSI. Hasilnya akan kami sampaikan setelah sidang selesai," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Askab PSSI Pati Dian Dwi Budianto mengaku prihatin atas insiden yang mencoreng jalannya pertandingan. Meski belum menerima laporan resmi, ia telah mengetahui kejadian tersebut dari video yang beredar luas.

Menurutnya, Piala Soeratin merupakan kompetisi pembinaan yang seharusnya menjadi wadah pemain muda belajar mengembangkan kemampuan sekaligus membangun karakter sebagai pesepak bola profesional.

"Kompetisi kelompok umur harus menjadi tempat pemain belajar menjunjung tinggi sportivitas dan fair play. Kami tentu sangat menyayangkan kejadian seperti ini," katanya.

Mantan Manajer Persipa Pati itu berharap Komisi Disiplin Asprov PSSI Jawa Tengah menangani kasus tersebut secara objektif dan profesional. Keputusan yang diambil nantinya diharapkan tidak hanya memberikan efek jera kepada pelaku, tetapi juga menjadi pelajaran bagi seluruh peserta kompetisi.

Insiden ini kembali menjadi pengingat bahwa sepak bola usia muda bukan hanya soal mengejar kemenangan. Pembinaan karakter, kedisiplinan, rasa hormat kepada lawan, serta sportivitas tetap menjadi fondasi utama dalam mencetak pemain berkualitas yang siap bersaing di level lebih tinggi.

Di tengah meningkatnya kualitas kompetisi usia muda di Indonesia, publik berharap aksi-aksi keras yang membahayakan keselamatan pemain tidak lagi menghiasi pertandingan. Sebab, masa depan sepak bola nasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengolah bola, tetapi juga oleh sikap dan etika saat berada di lapangan.

Editor : Mahendra Aditya
Safin Pati vs BJL 2000 tendangan kungfu viral Komisi Disiplin PSSI piala soeratin U-17 PSSI Jawa Tengah