RADAR KUDUS - Drama Portugal kontra Kroasia di babak 32 besar Piala Dunia 2026 belum berhenti meski peluit panjang telah berbunyi.
Momen yang paling banyak diperbincangkan justru terjadi pada penghujung pertandingan ketika gol penyeimbang Josko Gvardiol dianulir setelah melalui pemeriksaan VAR.
Keputusan tersebut memicu tanda tanya banyak penonton. Pasalnya, dari tayangan ulang, Gvardiol tampak berada dalam posisi onside saat umpan dikirim ke kotak penalti. Namun teknologi terbaru yang digunakan FIFA mengungkap fakta berbeda.
Baca Juga: Highlight Portugal vs Kroasia: Portugal Singkirkan Kroasia Berkat Gol Telat Goncalo Ramos
Gol Gvardiol Sempat Menghidupkan Harapan Kroasia
Memasuki menit ke-90+13, Kroasia yang tertinggal 1-2 terus menggempur pertahanan Portugal.
Serangan terakhir mereka berbuah hasil ketika Josko Gvardiol berhasil menyambar bola di depan gawang dan menjebol gawang Diogo Costa. Seluruh pemain Kroasia langsung merayakan gol yang diyakini menjadi penyelamat dan memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu.
Namun selebrasi itu hanya berlangsung beberapa saat.
Wasit Espen Eskas menerima informasi dari ruang Video Assistant Referee (VAR) dan menghentikan permainan untuk meninjau proses terciptanya gol melalui monitor di pinggir lapangan.
Baca Juga: FULL TIME Portugal vs Kroasia: Comeback Ronaldo, Ramos Penentu, Gvardiol Gigit Jari
VAR Temukan Offside dalam Proses Serangan
Setelah pemeriksaan berlangsung beberapa menit, wasit memutuskan gol tersebut tidak sah.
Alasannya bukan karena posisi Gvardiol saat umpan pertama dilepaskan, melainkan adanya sentuhan tipis dari Igor Matanovic sebelum bola jatuh ke kaki bek Manchester City tersebut.
Sentuhan yang nyaris tidak terlihat dengan mata telanjang itu membuat fase permainan berubah. Saat Matanovic menyentuh bola menggunakan kepalanya, posisi Gvardiol sudah berada lebih dekat ke gawang dibandingkan bek terakhir Portugal.
Berdasarkan aturan offside, situasi tersebut membuat Gvardiol berada dalam posisi ilegal sehingga gol harus dianulir.
Teknologi Chip di Bola Jadi Bukti Utama
Keputusan VAR kali ini tidak hanya mengandalkan tayangan video.
FIFA menggunakan Connected Ball Technology, yaitu teknologi yang menanamkan sensor atau chip khusus di dalam bola pertandingan.
Sensor tersebut mampu mendeteksi setiap sentuhan bola secara sangat presisi, bahkan ketika kontak yang terjadi sangat tipis dan sulit dilihat melalui tayangan televisi.
Data dari sensor kemudian dipadukan dengan sistem Semi-Automated Offside Technology (SAOT) yang memantau posisi seluruh pemain secara real-time.
Kombinasi kedua teknologi inilah yang membantu tim VAR memastikan bahwa Matanovic memang sempat menyentuh bola sebelum diterima Gvardiol.
Andai Tidak Ada Sentuhan Matanovic
Fakta menariknya, keputusan offside bisa saja tidak terjadi.
Berdasarkan hasil analisis teknologi FIFA, posisi Gvardiol sebenarnya masih legal ketika umpan awal dikirim dari sisi kiri lapangan.
Namun karena Matanovic melakukan sentuhan tipis menggunakan kepala, fase serangan dianggap dimulai kembali dari momen tersebut.
Akibatnya, posisi Gvardiol berubah menjadi offside dan gol yang sempat membuat Kroasia bersorak akhirnya dibatalkan.
Portugal Selamat, Kroasia Gigit Jari
Keputusan tersebut memastikan Portugal mempertahankan keunggulan 2-1 hingga peluit panjang dibunyikan.
Selecao pun berhak melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026, sementara Kroasia harus mengakhiri perjuangan mereka dengan cara yang sangat menyakitkan.
Insiden ini sekaligus menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana teknologi modern semakin berperan penting dalam sepak bola. Sentuhan yang nyaris mustahil dideteksi mata manusia kini dapat dibuktikan secara akurat melalui sensor di dalam bola dan sistem offside semiotomatis, sehingga keputusan wasit memiliki dasar yang lebih presisi.
Editor : Mahendra Aditya