Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Bellingham Tampil Sempurna, Thomas Tuchel Temukan Formula Emas Inggris di Piala Dunia 2026

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 29 Juni 2026 | 07:58 WIB
Jude Bellingham, pemain timnas Inggris.
Jude Bellingham, pemain timnas Inggris.

RADAR KUDUS – Timnas Inggris mulai menemukan identitas permainan di bawah asuhan Thomas Tuchel pada Piala Dunia 2026. Di balik kemenangan 2-0 atas Panama yang memastikan The Three Lions melaju ke fase gugur, satu nama kembali menjadi pusat perhatian: Jude Bellingham.

Bukan sekadar tampil impresif, gelandang berusia 22 tahun itu menunjukkan kemampuan luar biasa dalam beradaptasi dengan perubahan taktik yang diterapkan Tuchel. Ia bukan hanya menjadi motor serangan, tetapi juga penyeimbang permainan ketika Inggris menghadapi tekanan.

Performa tersebut semakin menegaskan bahwa Bellingham kini telah berkembang menjadi pemain paling komplet dalam skuad Inggris.

Baca Juga: Kanada Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026, Gol Menit Akhir Antar ke 16 Besar

Tuchel Ubah Skema, Bellingham Jadi Kunci Utama

Laga melawan Panama memperlihatkan perubahan signifikan dibanding dua pertandingan sebelumnya saat Inggris menghadapi Kroasia dan Ghana.

Absennya Declan Rice akibat cedera memaksa Thomas Tuchel melakukan penyesuaian. Jarell Quansah dimainkan sebagai bek kanan dengan peran masuk ke tengah saat membangun serangan sehingga Inggris berubah menjadi formasi fleksibel 3-2-5 maupun 3-1-6 ketika menguasai bola.

Dalam sistem baru itu, Bellingham tidak lagi bermain sebagai gelandang serang murni.

Pada babak pertama, pemain Real Madrid tersebut turun lebih dalam untuk membantu Elliot Anderson mengalirkan bola dari lini belakang sekaligus menjaga keseimbangan permainan.

Namun memasuki babak kedua, perannya berubah drastis. Ia lebih sering mengisi ruang di belakang lini tengah Panama sebagai nomor 10 dan menjadi ancaman utama bagi pertahanan lawan.

Perubahan tersebut langsung memberikan dampak besar terhadap permainan Inggris.

Jadi Pemadam Kebakaran Sekaligus Motor Serangan

Selama 45 menit pertama, Inggris beberapa kali kehilangan bola di area tengah akibat mencoba membangun serangan lewat jalur sentral.

Dalam situasi itu, Bellingham menunjukkan kualitas yang membuatnya berbeda dibanding pemain lain.

Ia berkali-kali melakukan sprint panjang untuk menghentikan serangan balik Panama, memenangi duel penting, hingga melakukan tekel bersih demi menyelamatkan lini belakang Inggris.

Ketika menerima tekanan dari beberapa pemain lawan, Bellingham juga mampu mempertahankan penguasaan bola, memancing pelanggaran, atau mengalirkan umpan ke sisi lapangan dengan teknik yang sulit dilakukan pemain lain.

Kontribusinya tidak hanya terlihat dalam statistik, tetapi juga dalam menjaga ritme permainan Inggris tetap stabil.

Babak Kedua, Bellingham Berubah Jadi Mesin Peluang

Setelah jeda, Thomas Tuchel menginstruksikan tim bermain lebih vertikal dan mempercepat serangan.

Instruksi itu langsung dijalankan Bellingham.

Ia mulai melakukan banyak pergerakan diagonal ke ruang kosong yang ditinggalkan bek sayap Panama.

Kecerdasannya membaca ruang menjadi pembeda.

Lari tanpa bolanya menghasilkan sepak pojok yang akhirnya membuka keunggulan Inggris.

Tak lama kemudian, Bellingham kembali mengeksploitasi celah di sisi kiri sebelum mengirim umpan matang kepada Harry Kane untuk mencetak gol kedua.

Satu assist dan kontribusi besar terhadap gol pertama menjadi bukti bahwa perubahan posisi tersebut berjalan sangat efektif.

Fleksibilitas Jadi Senjata Baru Inggris

Di bawah Thomas Tuchel, Inggris memang mengusung beberapa prinsip permainan utama, yaitu membangun serangan dari belakang, melakukan umpan vertikal secepat mungkin, menekan lawan segera setelah kehilangan bola, memaksimalkan permainan melalui sisi lapangan, serta memanfaatkan bola mati.

Bellingham menjadi pemain yang mampu menghubungkan seluruh konsep tersebut.

Ia bisa bermain sebagai gelandang bertahan, box-to-box, playmaker, bahkan menjadi penyerang kedua ketika dibutuhkan.

Kemampuan beradaptasi itulah yang membuat Tuchel semakin leluasa mengubah pendekatan pertandingan tanpa harus mengganti banyak pemain.

Inggris Semakin Siap Hadapi Fase Gugur

Kemenangan atas Panama memastikan Inggris melangkah ke babak 32 besar dengan modal kepercayaan diri tinggi.

Meski masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki, khususnya efektivitas serangan saat menghadapi pertahanan rapat, perkembangan permainan The Three Lions mulai terlihat jelas.

Harry Kane tetap menjadi penyelesai akhir, sementara Bukayo Saka dan Marcus Rashford memberikan ancaman dari sisi sayap.

Namun, pemain yang menghubungkan seluruh elemen permainan tetaplah Jude Bellingham.

Performa konsisten gelandang Real Madrid itu menjadi alasan mengapa Inggris kini kembali masuk dalam daftar kandidat kuat peraih gelar juara dunia.

Dengan kemampuan bertahan, menyerang, membaca ruang, hingga memimpin rekan setim di lapangan, Bellingham bukan hanya menjadi bintang masa depan, tetapi juga fondasi utama revolusi taktik Thomas Tuchel di Piala Dunia 2026.

Editor : Mahendra Aditya
#Inggris vs Panama #piala dunia 2026 #thomas tuchel #Jude bellingham #timnas inggris