Klarifikasi SPPG Soditan soal 777 Korban MBG, Ini Data Hasil Validasi Dinkes Rembang

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 11:25 WIB
SIAP SIAGA: Sejumlah ambulas siap siaga di MTsN Lasem setelah sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan beberapa waktu lalu. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)
SIAP SIAGA: Sejumlah ambulas siap siaga di MTsN Lasem setelah sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan beberapa waktu lalu. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

REMBANG – Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan, Lasem, Rembang, membantah adanya 777 murid dan guru SMAN 1 Lasem yang menjadi korban dugaan keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Melalui kuasa hukumnya, Abdul Munim, pihak SPPG Soditan menyebut jumlah warga sekolah yang benar-benar mengalami gangguan kesehatan dan diduga terdampak MBG berdasarkan hasil validasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Rembang hanya 32 orang.

Munim menjelaskan, mitra SPPG Soditan yang dikelola Semendhe Kanthi Kantil sebelumnya telah menjalani proses verifikasi legalitas.

SPPG tersebut juga disebut telah memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai bukti pemenuhan persyaratan kebersihan dan sanitasi.

“Klien kami sebagai pemilik mitra SPPG telah dinyatakan memenuhi persyaratan yang ditetapkan BGN. Karena itu, dari sisi penyediaan maupun infrastruktur, semuanya telah melalui proses verifikasi,” ujar Munim.

Ia juga memberikan klarifikasi mengenai pemberitaan yang sebelumnya menyebut jumlah korban dugaan keracunan mencapai 777 siswa dan guru.

Menurutnya, angka tersebut perlu diluruskan karena data yang muncul pada awal kejadian merupakan informasi berdasarkan keluhan yang disampaikan saat itu.

Munim menegaskan pihaknya tidak bermaksud menyalahkan siswa maupun guru yang mengalami keluhan kesehatan.

Menurut dia, data awal tersebut muncul berdasarkan indikator atau gejala yang ditemukan setelah pembagian makanan MBG.

“Data yang muncul saat itu memang merupakan informasi berdasarkan indikator adanya dampak setelah MBG. Kami tidak menyalahkan pihak yang mengalami keluhan. Namun, setelah dilakukan validasi oleh Dinkes Rembang, yang diduga benar-benar terdampak berjumlah 32 orang,” jelasnya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 siswa menjalani rawat inap, 15 siswa mendapatkan perawatan jalan, serta lima guru mengalami keluhan. Selain itu, terdapat satu orang dari wilayah Pancur yang juga menjalani rawat inap.

Makanan MBG dari SPPG Soditan dibagikan kepada siswa pada Rabu (2/9) siang. Sehari kemudian, Kamis (3/9) pagi, sejumlah siswa mulai mengeluhkan gangguan kesehatan seperti sakit perut dan mual.

Menurut Munim, saat guru menanyakan kepada siswa siapa saja yang mengalami keluhan serupa, banyak siswa kemudian mengangkat tangan.

Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab munculnya angka awal hingga mencapai 777 orang.

“Kami tidak melakukan penyaringan terhadap informasi yang disampaikan. Saat itu kami menganggap seluruh data yang masuk merupakan laporan yang perlu ditindaklanjuti. Namun sampai sekarang, berdasarkan validasi, jumlah yang terdampak adalah 32 orang,” katanya.

Pemilik SPPG Soditan, lanjut Munim, juga telah mendatangi pihak sekolah dan menyampaikan permintaan maaf apabila keluhan kesehatan yang dialami siswa dan guru memang berkaitan dengan makanan MBG yang disalurkan.

Namun, ia menyebut dari 15 titik sasaran distribusi yang menerima makanan dari SPPG Soditan, hanya SMAN 1 Lasem yang melaporkan adanya keluhan kesehatan.

Munim juga menyoroti maraknya kejadian gangguan kesehatan yang langsung dikaitkan dengan program MBG.

Menurutnya, setiap kasus tetap perlu ditelusuri berdasarkan pemeriksaan dan bukti yang ada, terlebih SPPG penyedia makanan telah melalui proses verifikasi serta memiliki SLHS.

Pihak SPPG Soditan berharap klarifikasi tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai jumlah korban dan proses penanganan dugaan insiden kesehatan di SMAN 1 Lasem. (noe)

Editor : Ali Mustofa
mitra sppg makanan mbg rembang dinkes rembang