REMBANG – Jumlah korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa siswa dan guru MAN 2 Rembang terus bertambah, namun sebagian besar pasien menunjukkan perkembangan membaik.
Data yang dihimpun dari Kepala Puskesmas Lasem dr Joko Paryanto per Kamis (10/9) pukul 10.40 WIB mencatat total 110 pasien yang sempat masuk UGD sejak kejadian bermula.
Dari jumlah tersebut, 36 pasien sempat membutuhkan rawat inap dan 74 lainnya menjalani rawat jalan. Dari 36 pasien rawat inap, tujuh dirujuk ke rumah sakit, lima ke RSU, satu ke RS Bhina, dan satu ke RS PKU, serta dua pasien dirujuk ke Puskesmas Sedan karena daya tampung Puskesmas Lasem penuh.
Hingga Kamis pagi, sebanyak 18 pasien sudah diperbolehkan pulang, sehingga kini tersisa sembilan pasien yang masih menjalani rawat inap di Puskesmas Lasem.
dr Joko menyebutkan, data korban masih berpotensi berubah mengikuti perkembangan situasi dan kondisi pasien di lapangan.
Ia juga mengatakan pihaknya tetap siaga penuh mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien di tengah keterbatasan daya tampung. "UGD dan petugas kita tetap siaga 24 jam mengantisipasi segala kemungkinan mas, namun karena saat ini daya tampung rawat inap kita sudah penuh, bila pasien butuh perawatan akan kita koordinasikan dengan puskesmas terdekat atau RS," ujarnya.
Kepala MAN 2 Rembang Dr Akhmad Suhadak Solikin sebelumnya mengungkapkan, gejala keracunan mulai muncul pada Selasa (8/9) pagi, ditandai sejumlah siswa yang bergantian izin ke kamar kecil karena sakit perut, pusing, mual, dan muntah. Ia menduga keluhan tersebut berkaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi siswa sehari sebelumnya, Senin (7/9) sekitar pukul 11.00 WIB, yang dipasok SPPG Ngemplak di bawah badan usaha CV Sinergi Bersinar.
Menyusul temuan tersebut, pihak sekolah dan SPPG Ngemplak sepakat menghentikan sementara pembagian menu MBG sebagai langkah antisipasi.
Kasus ini menambah daftar dugaan keracunan MBG yang berulang di Kecamatan Lasem, setelah sebelumnya juga menimpa SMPN 5 Lasem dan SMA Negeri 1 Lasem. Sejumlah pihak mendesak agar segera dilakukan uji laboratorium terhadap sisa sampel makanan serta audit menyeluruh terhadap SPPG Ngemplak oleh dinas terkait. (noe/ali)
Editor : Ali Mahmudi