Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Prihatin! 20 Tahun Warga Sudan Rembang Kena Debu Tambang hanya Diberi Janji

Ali Mahmudi • Senin, 2 Februari 2026 | 13:52 WIB
MANGKRAK: Dua alat berat tampak mangkrak di wilayah penambangan di Desa Sudan, Kecamatan Kragan, baru-baru ini.
MANGKRAK: Dua alat berat tampak mangkrak di wilayah penambangan di Desa Sudan, Kecamatan Kragan, baru-baru ini.

REMBANG – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pertambangan yang tak kunjung reda, warga Desa Sudan, khususnya mereka yang tinggal di tepian jalan kampung, mulai mencapai titik nadir kesabaran mereka.

Sudah lebih dari dua dekade, ketenangan desa ini tergantikan oleh suara mesin dan debu yang mengancam kesehatan warga.

Aktivitas tambang terpantau masih berjalan normal hingga pagi menjelang siang ini.

Namun, dibalik operasional tersebut, terdapat luka lama warga yang belum terobati terkait janji pemindahan jalur logistik tambang.

Salah satu warga terdampak, mengungkapkan bahwa beberapa bulan lalu warga bersama kelompok ibu-ibu (emak-emak) sempat menggelar aksi protes.

Tuntutan mereka sederhana, truk armada tambang tidak lagi melintasi jalan kampung demi keamanan dan kenyamanan warga.

"Sudah ada kesepakatan antara warga, Pemerintah Desa (Pemdes), BPD, dan pihak tambang. Mereka siap membuat jalan sendiri," ujarnya.

Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Setelah tenggat waktu yang disepakati habis, truk-truk besar tersebut masih terlihat bebas berlalu-lalang di jalur pemukiman.

Masalah utama yang dikeluhkan warga bukan sekadar kebisingan, melainkan dampak kesehatan yang nyata, terutama bagi anak-anak dan balita.

Debu yang beterbangan dari truk-truk yang tidak ditutup terpal dianggap menjadi biang keladi keluhan kesehatan warga.

"Warga sudah cukup sabar. Bayangkan, ini sudah berlangsung lebih dari 20 tahun," keluh warga Sudan yang enggan dikorankan.

Kesabaran warga semakin diuji saat membicarakan kontribusi atau kompensasi yang mereka terima.

Sejak 2019, warga mencatat hanya menerima total uang Rp150.000, yang rinciannya terdiri dari: Awal 2019: Rp100.000 dan Lebaran 2025: Rp50.000.

"Selama kurang lebih lima tahun, warga hanya mendapat Rp150.000. Itulah kenyataan pahitnya," tambah pria paruh baya ini.

Konflik ini kian keruh dengan adanya dugaan aliran dana yang tidak transparan.

Pihaknya menyebutkan adanya informasi dari pihak mandor tambang mengenai setoran uang yang langsung diberikan oknum kepada kades.

"Mandor itu menyatakan memberikan sesuatu (uang) kepada Bapak Kepala Desa," katanya.

Kades Sudan Mubaedi saat dikonfirmasi terkait aktivitas penambang di wilayahnya menyatakan saat ini sudah tidak ada lagi. Menurutnya penambangan masif saat ini berada di desa tetangga.

”Sudan gak ada tambang, yang ada Terjan. Bisa dicek di lokasi,” tegasnya saat dikonfirmasi baru-baru ini.

Sementara soal adanya kompensasi dari para penambang Mubaedi berkelakar desa hanya kena debunya. “Memuaskan bleduk’e. (Memuaskan debunya,” kelakarnya melalui WhatsApp. (ali)

Editor : Ali Mustofa
#dprd rembang #pemkab rembang #esdm jateng #tambang rembang #Tambang Andesit #dlh rembang #polres rembang #DPRD Rembang Komis B #Kementerian ESDEM