REMBANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terkait potensi gelombang tinggi di wilayah perairan Jawa Tengah yang berlaku pada 14 hingga 17 Januari.
Salah satu daerah yang berpeluang terdampak adalah perairan Kabupaten Rembang.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang, M. Sofyan Cholid.
Baca Juga: Gegara Hal Ini, Layar Videotron di Alun-alun Rembang Alami Error
Berdasarkan peringatan dini BMKG, ketinggian gelombang laut diperkirakan berkisar antara 1,25 meter hingga 2,5 meter dan berisiko terhadap keselamatan aktivitas pelayaran.
“Untuk perahu nelayan, kondisi berbahaya dapat terjadi saat kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter. Sedangkan kapal tongkang berisiko ketika angin mencapai 16 knot dan gelombang setinggi 1,5 meter,” ujar Cholid saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus.
Masih mengacu pada data BMKG, gelombang di perairan Pati–Rembang umumnya bergerak dari arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan angin berkisar antara 2 hingga 25 knot.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Nelayan Mina Barokah, Romi, menuturkan bahwa saat ini para nelayan memang tengah memasuki musim baratan, kondisi yang rutin terjadi setiap tahun dan sulit dihindari.
“Secara umum tidak terlalu mengganggu aktivitas nelayan. Pada musim barat, kapal-kapal kecil dengan ukuran di bawah GT 40 biasanya berhenti melaut. Namun kapal berukuran besar, sekitar GT 60 ke atas, masih tetap beroperasi karena area tangkapnya bukan di Laut Jawa, melainkan di wilayah timur seperti Selat Makassar,” jelasnya kepada koran ini.
Ia menambahkan, masa berhenti melaut bagi nelayan kecil biasanya dimanfaatkan untuk perawatan kapal, seperti memperbaiki bagian kayu yang lapuk dan perbaikan lainnya.
Baca Juga: Hasil Uji Lab Sucofindo Dugaan Pencemaran Kedung Semar Diserahkan ke DLH Rembang
Selain itu, momen ini juga menjadi waktu istirahat bagi awak kapal kecil. Sebaliknya, kapal-kapal besar justru tidak terdampak dan tetap beroperasi, bahkan bisa meraih hasil tangkapan melimpah.
Romi menyebutkan, di kawasan kampung nelayan Tasikagung terdapat hampir 400 kapal milik para pemilik kapal. Sekitar separuh armada masih tetap melaut, terutama kapal berukuran besar.
Jika kapal besar berhenti, justru akan mengalami kerugian karena kondisi perairan di wilayah timur relatif lebih tenang.
“Untuk kapal besar, musim seperti ini justru menjadi masa panen. Harga ikan juga sedang tinggi. Mereka menangkap ikan di Selat Makassar yang dikenal kaya ikan. Saat pulang, hasil tangkapan bernilai mahal, mulai dari balak, muniran, hingga demang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Romi menyampaikan bahwa pada musim baratan, industri ikan pindang biasanya mengaktifkan cold storage.
Sementara untuk ikan surimi basah, proses bongkar muat tetap berjalan meskipun pasokan tidak selalu stabil.
Dari sisi harga, ikan mengalami kenaikan. Jika pada hari biasa berada di kisaran Rp 8 ribu per kilogram, saat musim baratan bisa naik menjadi Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogram. (noe)
Editor : Ali Mustofa