REMBANG – Anggota Komisi C DPRD Rembang, Nur Sahid, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi infrastruktur di perbatasan Rembang-Pati.
Fokus utamanya adalah kerusakan jalan dan jembatan yang tak kunjung ditangani secara serius.
Politikus PDIP dari daerah pemilihan (Dapil) 7 Sumber-Kaliori ini menyoroti jembatan dan jalan di wilayah perbatasan yang sudah berusia puluhan tahun tanpa pembangunan signifikan.
Contoh nyata adalah jembatan di Desa Jatihadi, yang sayapannya ambrol diterjang banjir bandang.
"Jembatan itu sudah tidak layak pakai. Selain tua, lebarnya sempit sehingga kendaraan roda empat harus bergantian melintas," ujar Nur Sahid, Rabu (29/10).
Ia menambahkan, sayap jembatan sisi timur (dari arah Rembang) sering ambles dan ambrol.
Penanganannya hanya darurat: diuruk tanah lalu dipadatkan.
"Padahal jalur ini vital untuk mobilitas warga. Sudah puluhan tahun pemerintah daerah hanya survei tanpa tindak lanjut," tegasnya.
Kerusakan serupa menimpa jalan di Dukuh Kelampok, Desa Sekarsari, yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Jaken, Pati.
"Hanya ditambal sulam, cepat rusak lagi karena lalu lintas padat," kata Nur Sahid.
Ia mendesak pemerintah daerah lebih serius memperhatikan infrastruktur perbatasan, khususnya Rembang bagian barat.
"Jangan hanya wilayah timur yang diprioritaskan. Harus merata. Kami sudah berulang kali usulkan agar ini jadi program utama, bukan sekadar masuk daftar," tambahnya.
Senada, Markum, Sekretaris Desa Jatihadi, Kecamatan Sumber, mengakui jalan perbatasan sudah rusak bertahun-tahun tapi hanya ditambal sulam saja.
"Kerusakan terkini bahkan diuruk sendiri oleh sopir truk tebu karena lubangnya dalam," ungkapnya. (ali)
Editor : Ali Mustofa