REMBANG – Suasana menyambut Hari Santri mulai semarak di berbagai wilayah Kabupaten Rembang.
Di Lasem, semarak itu diwujudkan dengan digelarnya pameran foto bertajuk Santri V.2 yang menampilkan 123 karya dari 49 fotografer.
Deretan foto itu menggambarkan dinamika kehidupan para santri, mulai dari keseharian di pondok pesantren hingga kiprah mereka dalam berbagai bidang kehidupan.
Baca Juga: Hidup Ibarat Pertandingan: Kadang Kalah, Kadang Menang, Tapi Selalu Bermakna!
Pameran tersebut berlangsung di dua titik lokasi yang menjadi ikon budaya Lasem.
Pertama, di Pendapa Tejakusuman yang berada di belakang Masjid Jami Lasem, di mana ruangan pendapa disulap menjadi galeri seni.
Lokasi kedua berada di Rumah Nyonya atau Komplek Rumah Merah Lasem, Jalan Karangturi 4 Nomor 7, Lasem.
Karya yang dipamerkan berasal dari para pewarta foto Antara, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang, Yayasan Lasem Heritage, serta sejumlah komunitas fotografi lokal.
Setiap jepretan menuturkan kisah berbeda, yaitu tentang ketulusan, semangat belajar, hingga peran aktif santri dalam bidang sains, teknologi, dan wirausaha.
Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati potret tradisi Islam serta dokumentasi masjid-masjid tua di Pulau Jawa yang sarat nilai sejarah.
Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Rembang, KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’soem atau akrab disapa Gus Zaim, memberikan apresiasi tinggi terhadap pameran tersebut.
Menurutnya, foto-foto yang ditampilkan memiliki nilai orisinalitas tinggi dan mampu mewakili wajah pesantren yang sesungguhnya.
“Justru karya yang otentik seperti inilah yang bisa merepresentasikan pesantren dan kehidupan santri,” ujar Gus Zaim saat ditemui Sabtu (18/10).
Ia menambahkan, kegiatan semacam ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak anti terhadap modernisasi.
“Modernisasi itu keniscayaan, bukan hanya tentang masa kini, tetapi juga masa depan. Foto-foto ini seperti potongan puzzle yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan pesantren,” ungkapnya.
Baca Juga: Rembang Kirim 28 Siswa SD dan SMP Diajang FTBI Provinsi di Surakarta
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Mutaqin, juga menyambut positif penyelenggaraan pameran tersebut.
Menurutnya, Lasem sebagai lokasi kegiatan sangat tepat karena memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang kuat.
“Pameran ini sekaligus menjadi daya tarik baru bagi wisatawan untuk berkunjung ke Lasem,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Rembang, Achmad Sholchan, menilai pameran foto ini bukan sekadar kegiatan seni, tetapi juga bagian dari pelestarian arsip bangsa.
“Foto-foto ini merupakan arsip penting yang mencatat peran besar santri dalam perjalanan sejarah Indonesia,” katanya.
Sekretaris Dinas Kominfo Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Faizin, yang hadir mewakili Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, juga menegaskan pentingnya eksistensi santri.
“Santri memiliki disiplin tinggi dan menjadi salah satu garda terdepan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Camat Lasem, Sutarmi, menyebut kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan Lasem lebih luas ke tingkat nasional bahkan internasional.
Baca Juga: Pemkab Rembang Siapkan Langkah Penangangan Cegah Abrasi di Pantai Karang Jahe
Kurator pameran, Ismar Patrizki, menjelaskan bahwa tema “Santri” dipilih karena memiliki makna historis dan nilai perjuangan yang mendalam.
“Melalui pameran ini, kami ingin mengingatkan kembali peran besar santri dan pesantren sebagai penjaga nilai moral, pelopor pendidikan, dan pembela Tanah Air,” tutur Ismar.
Selain pameran foto, peringatan Hari Santri Nasional juga diisi dengan kegiatan pawai taaruf yang digelar Minggu (19/10) di Kecamatan Rembang.
Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), pondok pesantren, serta banom MWC-NU se-Kecamatan Rembang.
Camat Rembang, M. Abdur Rouf, menjelaskan bahwa pawai taaruf kali ini mengusung tema Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.
“Start pawai dimulai dari depan Stadion Krida Rembang, melewati Jalan Pemuda dan Kartini, lalu berakhir di Perempatan Zaini. Acaranya dimulai pukul 08.00 hingga selesai, dengan penampilan spesial Marching Band Ar-Rohman Bulu,” terangnya.
Dengan beragam kegiatan ini, semangat Hari Santri di Rembang tidak hanya menjadi momen refleksi, tetapi juga ajang untuk memperkuat identitas budaya, meneguhkan nilai kebangsaan, serta menampilkan wajah pesantren yang adaptif terhadap perubahan zaman. (noe)
Editor : Ali Mustofa