LASEM - Momen menjelang 1 Suro dimanfaatkan anggota Kumpulan Jawa di Lasem, Rembang untuk ruwatan.
Prosesi ini, bisa dimaknai sebagai menghilangkan energi negatif.
Padepokan Kumpulan Jawa di Desa Gedongmulyo, Lasem memang rutin menggelar ruwatan setiap menjelang tanggal 1 Suro.
Tahun ini, prosesi diikuti sekitar 50-an orang.
Prosesi ruwatan dilaksanakan Rabu (25/6) siang di padepokan.
Di halaman, sudah disiapkan beberapa kursi dan satu gentong air bunga.
Saat prosesi, peserta ruwatan dibalut dengan kain warna putih.
Secara bergantian mereka duduk di dekat gentong yang beriai air bunga tersebut.
Kemudian, sesepuh Kumpulan Jawa mulai melakukan serangkaian prosesi, diantaranya adalah mengguyurkan air bunga ke badan peserta dan memotong sepucuk rambut.
Budayawan Lasem Yom Suprayoga menjelaskan, prosesi ruwatan sebenarnya tidak harus dilakukan menjelang bulan suro.
Hanya saja, Suro memang dianggap sebagai momen yang sakral bagi masyarakat jawa.
Sehingga prosesi ruwatan juga bisa dijadikan sebagai upaya dalam melestarikan budaya.
"Bulan Suro dianggap masyarakat sebagai momen sakral. Kesempatan ini dijalankan dengan tradisi ruwat sebagai upaya melestarikan Budaya Jawa," katanya.
Yon menjelaskan, terdapat tiga jenis ruwatan.
Pertama, adalah Ruwatan Sukerta, yang dilakukan karena unsur kelahiran.
Ia mencontohkan, ketika dalam keluarga memiliki satu anak, dua putri, dan lain sebagainya.
Kata Yon Suprayoga, ada ratusan jenis kelahiran yang harus diruwat.
Ruwatan jenis inilah yang dilakukan oleh para anggota Kumpulan Jawa, Lasem pada Rabu (25/6).
"Hanya ruwatan sukerta. Ada 52 orang. Tujuan dari ruwat adalah menghilangkan sial, energi negatif dihilangkan," katanya.
Ruwatan jenis kedua, lanjut dia, adalah Ruwatan Sengkala.
Yakni ruwatan yang dilakukan kepada seseorang yang melakukan perbuatan tak baik. Seperti, berbohong.
"Melakukan perbuatan tidak bagus, misal saya ngapusi. Orang lain tidak tahu kalau saya ngapusi. Yang tahu cuma saya, maka perlu diruat," katanya.
Ruwatan ketiga, adalah Ruwatan Sasono. Ruwatan ini dilakukan untuk satu wilayah.
Yon mencontohkan, ruwatan ini bisa dilakukan ketika dalam suatu wilayah tertentu terjadi ketidakstabilan.
Contohnya, apabila terjadi pencurian atau perusakan alam yang semakin marak.
"Namanya ruwatan Sasono. Ruwatan berdasarkan wilayah. Yang diruwat wilayahnya," katanya. (vah)
Editor : Mahendra Aditya