Pantura Lumpuh 3,5 Jam! Ribuan Warga Padati Pawai Budaya Sedekah Laut Tasikagung Rembang
Wisnu Aji• Selasa, 8 April 2025 | 01:08 WIB
TRADISI: Peserta pawai sedekah laut menyebrang jalan pantura. Satu sisi masyarakat berjubel untuk melintas di jembatan Karanggeneng, kemarin.
REMBANG – Jalan nasional Pantura Rembang mendadak lumpuh selama 3,5 jam pada Minggu pagi (7/4) kemarin.
Bukan karena bencana, melainkan karena pawai budaya spektakuler yang digelar dalam rangka Sedekah Laut Desa Tasikagung.
Ribuan warga tumpah ruah memadati sepanjang rute arak-arakan, menyaksikan parade kostum adat, miniatur kapal, dan hasil bumi yang memamerkan kekayaan budaya maritim Rembang.
Acara ini menjadi puncak dari tradisi tahunan masyarakat nelayan Desa Tasikagung, yang digelar setiap bulan Syawal sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki laut dan harapan keselamatan dalam mencari nafkah di tengah gelombang.
Arak-arakan dimulai pukul 08.00 WIB dari kawasan Klenteng Tjoe Hwie Kiong, lalu melintasi jalan nasional Pantura, masuk ke jalan Dr. Wahidin, berbelok di perempatan Zaeni ke arah utara menuju Tugu Adipura, sebelum kembali ke barat menyusuri pantura dan finis di Desa Tasikagung.
Sebanyak 11 kelompok peserta yang terdiri dari 9 RT dan 2 paguyuban, masing-masing membawa rombongan sekitar 100 orang.
Mereka menampilkan berbagai atraksi budaya lokal, seperti barongan, tari tradisional, iring-iringan hasil bumi, dan bahkan miniatur perahu nelayan yang ditandu ramai-ramai.
Tak pelak, jalur utama pantura pun ditutup total selama 3,5 jam.
Petugas dari kepolisian, TNI AL, dan Polairud tampak sigap mengatur arus lalu lintas dan mengalihkan kendaraan ke jalur alternatif.
Namun, kemacetan tak terhindarkan. Tim Radar Kudus melaporkan, waktu tempuh dari area Pentungan ke pertigaan Jeruk yang biasanya hanya 5 menit, berubah menjadi hampir 1 jam akibat padatnya arus lalu lintas.
Tradisi Turun-Temurun yang Menyatu dengan Identitas Nelayan
Kepala Desa Tasikagung, Mochammad Riyanto, mengatakan bahwa pawai budaya ini merupakan warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat pesisir. “Ini sudah menjadi suatu tradisi turun temurun.
Dari saya muda sudah ada sedekah laut dan bumi. Termasuk pawai, namanya juga daerah nelayan, ada larung sesaji,” ujarnya.
Setiap RT menyumbang biaya sendiri untuk tampil dalam pawai ini, dengan dana berasal dari kas RT, iuran warga, dan bantuan paguyuban.
Total biaya untuk satu kelompok bisa mencapai Rp 15–20 juta, yang digunakan untuk kostum, dekorasi, hingga perlengkapan pertunjukan.
Setelah pawai, acara dilanjutkan dengan ritual larung sesaji ke laut, di mana sesaji seperti kepala kerbau, hasil bumi, dan bunga dirangkai dan dilarung ke tengah laut.
Ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil laut dan permohonan keselamatan serta limpahan rezeki bagi para nelayan.
Bupati Rembang: “Budaya Harus Tetap Hidup dan Mendunia”
Bupati Rembang, H. Harno, yang hadir langsung membuka acara bersama jajaran Forkopimda, mengapresiasi semangat masyarakat dalam menjaga tradisi.
Ia menyebut bahwa sedekah laut bukan sekadar hiburan tahunan, tapi juga momentum penting untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga laut dan budaya lokal.
“Ini budaya yang baik dan perlu dilestarikan. Ini juga menjadi hiburan yang sudah ditunggu-tunggu masyarakat,” ucap Harno dalam sambutannya.
Harno berharap agar ke depan, perayaan ini bisa dikemas lebih meriah dan menjadi agenda wisata budaya tahunan yang mampu menarik wisatawan dari luar daerah, bahkan mancanegara.
Ia juga menyampaikan harapannya bagi nelayan agar mendapat rezeki melimpah serta kemudahan dalam perizinan, BBM bersubsidi, hingga distribusi hasil tangkapan.
“Semoga yang susah-susah menjadi mudah, dan ke depan perayaannya lebih meriah lagi, berkah dan barokah,” katanya.
Potensi Wisata Budaya Maritim Rembang
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) serta Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) juga turut hadir dan mencatat momentum ini sebagai potensi besar untuk mengembangkan wisata budaya berbasis maritim.
Dengan posisi geografis yang kaya sumber daya laut dan tradisi nelayan yang kuat, Tasikagung dan wilayah pesisir lainnya di Rembang dinilai sangat layak dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya unggulan.
Kepala Dinbudpar Rembang, Mutaqin, mengatakan bahwa pihaknya akan mendorong tradisi ini masuk dalam kalender event daerah agar promosi bisa lebih masif.
“Kami lihat ini punya potensi besar. Tinggal sinergi lintas dinas dan promosi yang diperkuat,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinlutkan, Mochamad Sofyan Cholid, menyatakan komitmennya mendampingi para nelayan agar tak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan budaya dan pariwisata. (