RADAR KUDUS – Namanya Cahaya Dini Fakhriya Heryna. Dia merupakan pelajar SMAN 2 Rembang (SMADA) yang jago menari.
Karena kemampuan menari, dia memperoleh segudang prestasi dan membawa harum daerah lewat kemampuan menari dan promosikan batik.
Cahaya begitu sapaanya pernah menyabet Puteri Tari Cilik Indonesia Nominasi Bidang Pendidikan tahun 2021.
Puteri Heritage Remaja Best Evening Gown pada 2022 dan juara Rembang Fashion Parade pada 2024.
Di tengah mengisi liburannya Cahaya menceritakan awalnya terjun dari dunia modeling berawal dari bakat menari.
Saat itu ada pemilihan putra-putri tari cilik. Dari audisi bisa maju sampai tingkat nasional.
”Nah karena untuk mengikuti pemilihan putra-putri tari cilik itu ada materi catwalk dan modeling, akhirnya belajar modeling dan beberapa kali menjadi model di beberapa event fashion baik di dalam kota atau luar kota,” kata dara kelahiran kelahiran Rembang 2 Februari 2009 ini.
Cahaya belajar menari dari sebuah sanggar. Tepatnya di sanggar Galuh Ajeng dari usia 5 tahun, sementara fashionnya belajar di Diraja Modelling School sejak usia 11 tahun.
Berbagai pengalaman diperoleh saat ikuti berbagai kontes. Misalnya sebagai Puteri Heritage Remaja Best Evening Gown tingkat nasional.
Dia mewakili Rembang sebagai Puteri Heritage yang mempromosikan Rembang sebagai kabupaten yang menjaga peninggalan budaya
Dalam hal ini Cahaya memilih melestarikan budaya dengan menari tradisi. Karena dengan menari tradisi, Cahaya dapat menjaga tari tradisi tetap ada.
Tidak hanya itu saja juga menjaga pakaian dan aksesoris tradisional yang dipakainya saat menari, mempromosikan dan melestarikan batik sebagai budaya, melestarikan kebaya agar generasi muda tidak malu menggunakannya, menjaga musik tradisional dan menjaga cerita tradisional yang digambarkan melalui ragam gerak tarian.
”Saat penilaian catwalk, Cahaya mengenakan batik tulis lasem yang digunakan sebagai gaun malam, dan berhasil memukau dewan juri dan menjadikanya mendapatkan gelar best evening Gown,” imbuhnya.
Namun sayangnya masih mentok di 10 besar belum bisa mendapatkan piala kejuaraan.
”Jadi meski dalam lomba harus kalah, jangan putus asa, bangkit terus, terus belajar dari pengalaman dan berani mengambil peluang,” prinsipnya. (noe)
Editor : Noor Syafaatul Udhma