REMBANG — Nelayan di Kabupaten Rembang menghadapi masa sulit akibat berkurangnya kuota bahan bakar solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
Kondisi ini sudah dirasakan sejak awal November dan memaksa para nelayan menunda aktivitas melaut.
Merasa resah, perwakilan nelayan mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang untuk beraudiensi, Selasa (17/12).
Forum ini dihadiri oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang, Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah, PT Pertamina Patra Niaga, serta Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas Bumi (Migas) yang mengikuti secara daring.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Rembang, Muslim, mengungkapkan bahwa pengurangan kuota solar berdampak signifikan pada aktivitas nelayan.
Di Rembang terdapat empat SPBN mitra Pertamina, namun alokasi solar untuk masing-masing SPBN mengalami penurunan drastis sejak 1 November.
“Misalnya di SPBN KUD Mina Rahayu Kragan, yang sebelumnya mendapat 968 kiloliter per bulan, kini hanya 320 kiloliter. Kondisinya di Sarang juga hampir sama,” kata Muslim.
Akibat pengurangan kuota, nelayan yang biasa melaut setiap hari kini harus menunda jadwal hingga dua atau tiga hari.
Bagi kapal yang menggunakan bahan bakar bersubsidi, antrean solar bahkan bisa memakan waktu hingga Jumat, meski rencana melaut seharusnya dimulai sejak Senin.
"Ini sangat memengaruhi penghasilan kami. Nelayan yang biasa mendapatkan hasil setiap hari, kini harus menunggu lebih lama hanya untuk mendapatkan solar," keluh Muslim.
Tito, perwakilan PT Pertamina Patra Niaga, menjelaskan bahwa kuota solar ditentukan oleh BPH Migas, sedangkan Pertamina hanya bertugas menyalurkan sesuai alokasi.
“Setiap tahun, angka kuota sudah ditentukan untuk masing-masing kota/kabupaten dan lembaga penyalur. Pertamina tidak memiliki kewenangan mengubah kuota tersebut,” ujarnya.
Rini, perwakilan BPH Migas, mengakui adanya laporan kekurangan BBM di beberapa wilayah, termasuk Rembang.
Pihaknya telah menginstruksikan Pertamina untuk mengatur peralihan kuota agar penyaluran tepat sasaran.
“Pelaksanaannya nanti oleh Pertamina akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di daerah tersebut,” katanya.
Dengan masalah yang terus berlarut, nelayan Rembang berharap ada langkah konkret untuk mengatasi krisis solar ini.
Tanpa pasokan yang memadai, aktivitas melaut yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir semakin terancam. (vah/ali)
Editor : Abdul Rokhim