Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Unik! Ini Letak Persamaan dan Perbedaan Dua Prasasti Tionghoa yang Ditemukan di Pancur Rembang

Vachri Rinaldy • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 19:33 WIB
Temuan Prasasti Tionghoa di Pancur Rembang dilakukan pengukuran batu-baru ini
Temuan Prasasti Tionghoa di Pancur Rembang dilakukan pengukuran batu-baru ini

REMBANG - Temuan dua Prasasti Tionghoa di Pancur, Rembang menarik perhatian. 

Kedua Prasasti yang diduga cagar budaya tersebut sama-sama memiliki ukiran aksara tionghoa.

Setelah dicermati, ternyata juga ditemukan perbedaan. 

Pada Selasa (13/8) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang mendatangi lokasi untuk mengidentifikasi temuan prasasti di Desa Warugunung itu.

Sub Koordinator (Subkor) Sejarah, Museum dan Cagar Budaya Dinbudpar Rembang Retna Diah Radityawati telah melakukan pengukuran. 

Diketahui, prasasti pertama memiliki tinggi 144 sentimeter, panjang 190 sentimeter, dan tebal 81 sentimeter. 

Sementara, prasasti yang kedua panjangnya 216 sentimeter, tinggi 110 sentri meter dan tebalnya 105 sentimeter.

Kedua batu tersebut sama-sama memiliki ukiran aksara tionghoa. 

Retna menyampaikan, untuk sementara pihaknya melakukan inventarisasi dan dokumentasi. 

Selanjutnya, akan dilaporkan kepada BPK. "BPK ada tindak lanjut mau ke sini, untuk pembacaan atau pembersihan selanjutnya nanti akan dilakukan oleh tim ahli dari BPK ataupun ahli filolog aksara cina," jelasnya.

Retna menyampaikan, Dinbupar bertugas inventarisasi, pengamanan lokasi, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

"Karena ini objek yang diduga cagar budaya, jangan terlalu ter-publish dulu karena belum ada kajian lebih lanjut," katanya

Ia menilai ukuran prasasti ini cukup besar. Sehingga diharapkan para ahli bisa mengkaji lebih lanjut.

"Kami menunggu beberapa para ahli yang konsen di aksara cina ayo kita translitasi bareng-bareng," katanya. 

Retna menyampaikan, proses pembersihan dan pembacaan prasasti nantinya akan dilakukan oleh tim ahli dari BPK ataupun ahli aksara tiongkok. 

"Untuk pembacaan dan pembersihan selanjutnya nanti akan dilakukan oleh tim ahli dari BPK ataupun Filolog ahli aksara cina," katanya.

Sementara itu, Agni Malagina, Peneliti Sejarah Tionghoa menyebut kedua temuan batu dengan ukiran aksara tionghoa yang ditemukan di Desa Warugunung ini membentuk sebuah puisi.

Ia menilai temuan ini merupakan hal yang langka di Indonesia. Sehingga, menurutnya temuan ini layak untuk dilindungi. 

Pada prasasti pertama, berisi puisi tentang fengshui, yakni praktik geomansi yang sudah ada sejak masa Tiongkok kuno. 

Tulisan-tulisan aksara tionghoa yang berada pada prasasti pertama di Desa Warugunung, Pancur.
Tulisan-tulisan aksara tionghoa yang berada pada prasasti pertama di Desa Warugunung, Pancur.

Biasanya mengenai pengaturan spasial, tempat, orientasi, arah, menyelaraskan energi agar bisa menghasilkan suasana harmonis dan damai untuk penghuni atau pemilik tempat. 

Dalam puisi yang terpahat di batu itu, menggunakan format dan ritme puisi klasik yang menggambarkan alam dengan gunung dan sungai yang indah. Serta mengandung metafora dan simbol. 

Sementara, prasasti kedua, ditemukan pada hari Minggu (11/8) kemarin juga berisi tentang puisi.

Memang terdapat perbedaan antara puisi pada batu yang pertama dan yang kedua. 

Pada batu yang pertama, terdapat nama Lao Su, sebagai penulis. Sementara yang kedua tidak ada nama penulis. 

Selain itu, dari sisi gaya penilisan dan penggunaan tanda baca juga berbeda. 

Prasasti tinghoa kedua yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur.
Prasasti tinghoa kedua yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur.

Pada bahasa tiongkok, lanjut Agni, terdapat istilah Shibei, yang sepadan dengan prasasti. Aksara yang dituliskan pada prasasti biasa disebut dengan inskripsi. 

Perempuan yang telah menggeluti penelitian sejarah tionghoa puluhan tahun itu menjelaskan, inskripsi yang ada di prasasti pertama dan kedua merupakan karakter Han. 

"Kami sebut karakter karena 1 karakter punya makna, berbeda dengan huruf alphabet," jelasnya. 

Agni bilang, kebiasaan bangsa Tiongkok memahat puisi pada batu merupakan kebiasaan kuno dari masa dinasti sebelum masehi. 

Fungsinya tidak hanya sebagai estetika, namun juga sebagai alat komunikasi seperti menyampaikan pesan, mengabadikan momen peristiwa penting, dan ekspresi seni.

"Nah yang ditemukan ini salah satunya menyampaikan pesan dan ekspresi, bahkan mengingat seseorang yang penting," katanya. 

Tulisan-tulisan aksara tionghoa yang berada pada prasasti pertama di Desa Warugunung, Pancur.
Tulisan-tulisan aksara tionghoa yang berada pada prasasti pertama di Desa Warugunung, Pancur.
Prasasti tinghoa kedua yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur.
Prasasti tinghoa kedua yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur.
Editor : Abdul Rokhim
#sejarah #Terjemahan Prasasti #rembang #Temuan Prasasti Tionghoa #penemuan prasasti #Pancur #Sejarah Rembang #Arti Prasasti #Prasasti #Prasasti Tionghoa