Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dua Prasasti Tionghoa Ditemukan di Pancur Rembang, Begini Langkah yang Diambil Pemkab

Vachri Rinaldy • Rabu, 14 Agustus 2024 | 19:43 WIB
Tim Dinbudpar Rembang mendatangi lokasi temuan prasasti tionghoa di Desa Warugunung, Pancur kemarin (13/8).
Tim Dinbudpar Rembang mendatangi lokasi temuan prasasti tionghoa di Desa Warugunung, Pancur kemarin (13/8).

RADAR KUDUS, REMBANG – Dua Prasasti Tionghoa baru saja ditemukan di wilayah Pancur, Rembang.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang telah mengambil langkah untuk melakukan tindak lanjut.

Selasa (13/8) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang telah melakukan kunjungan untuk selanjutnya dilaporkan kepada Balai Pelestari Kebudayaan (BPK).

BPK akan turun langsung untuk memgkaji temuan prasasti tionghoa di Warugunung, Pancur.

Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, beberapa waktu lalu, prasasti pertama ditemukan di sekitar Bukit Tapaan Santi Badra, wilayah Dukuh Ngasinan Desa Wurugunung, Pancur.

Tulisan-tulisan aksara tionghoa yang berada pada prasasti pertama di Desa Warugunung, Pancur.
Tulisan-tulisan aksara tionghoa yang berada pada prasasti pertama di Desa Warugunung, Pancur.

Di sana terdapat batu selebar sekitar 190 sentimeter dengan tinggi sekitar 144 sentimeter yang memiliki ukiran aksara tionghoa.

Temuan tersebut pin tersiar, sehingga menarik perhatian sejumlah komunitas sejarah. Mereka melakukan penyisiran di berbagai lokasi sekitar prasasti.

Kemudian, ada salah satu yang melihat batu disisi barat prasasti pertama. Setelah diamati ternyata juga ada guratan aksara tiongkok. Prasasti kedua ini ditemukan pada Minggu (11/8) kemarin.

Kemarin (13/8) Dinbudpar Rembang mendatangi lokasi untuk mengidentifikasi kedua temuan tersebut.

 Sub Koordinator (Subkor) Sejarah, Museum dan Cagar Budaya (Dinbudpar) Rembang Retna Diah Radityawati telah melakukan pengukuran terhadap dua prasasti tersebut.

Prasasti pertama memiliki tinggi 144 sentimeter, panjang 190 sentimeter, dan tebal 81 sentimeter. Prasasti yang kedua panjangnya 216 sentimeter, tinggi 110 sentri meter dan tebalnya 105 sentimeter.

Retna menyampaikan, untuk sementara pihaknya melakukan inventarisasi dan dokumentasi. Selanjutnya, akan dilaporkan kepada BPK.

Prasasti tinghoa kedua yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur.
Prasasti tinghoa kedua yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur.

"BPK ada tindak lanjut mau ke sini, untuk pembacaan atau pembersihan selanjutnya nanti akan dilakukan oleh tim ahli dari BPK ataupun ahli filolog aksara cina," jelasnya.

Dinbupar sendiri bertugas inventarisasi, pengamanan lokasi, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

"Karena ini objek yang diduga cagar budaya, jangan terlalu terpublish dulu karena belum ada kajian lebih lanjut," katanya

Ia menilai ukuran prasasti ini cukup besar. Sehingga diharapkan para ahli bisa mengkaji lebih lanjut.

"Kami menunggu beberapa para ahli yang konsen di aksara cina ayo kita translitasi bareng-bareng biar," jelasnya.

Sementara itu, Agni Malagina, Peneliti Sejarah Tionghoa menyebut temuan batu dengan ukiran aksara tionghoa yang ditemukan di Desa Warugunung ini membentuk sebuah puisi.

Ia menilai temuan ini merupakan hal yang langka di Indonesia. Sehingga, menurutnya temuan ini layak untuk dilindungi. 

Pada prasasti pertama, berisi puisi tentang fengshui, yakni praktik geomansi yang sudah ada sejak masa Tiongkok kuno. 

Biasanya mengenai pengaturan spasial, tempat, orientasi, arah, menyelaraskan energi agar bisa menghasilkan suasana harmonis dan damai untuk penghuni atau pemilik tempat. 

Dalam puisi yang terpahat di batu itu, menggunakan format dan ritme puisi klasik yang menggambarkan alam dengan gunung dan sungai yang indah. Serta mengandung metafora dan simbol. 

Sementara, prasasti kedua, ditemukan pada hari Minggu (11/8) kemarin juga berisi tentang puisi.

Memang terdapat perbedaan antara puisi pada batu yang pertama dan yang kedua. 

Pada batu yang pertama, terdapat nama Lao Su, sebagai penulis. Sementara yang kedua tidak ada nama penulis. 

Selain itu, dari sisi gaya penilisan dan penggunaan tanda baca juga berbeda. 

Pada bahasa tiongkok, lanjut Agni, terdapat istilah Shibei, yang sepadan dengan prasasti. Aksara yang dituliskan pada prasasti biasa disebut dengan inskripsi. 

Perempuan yang telah menggeluti penelitian sejarah tionghoa puluhan tahun itu menjelaskan, inskripsi yang ada di prasasti pertama dan kedua merupakan karakter Han. 

"Kami sebut karakter karena 1 karakter punya makna, berbeda dengan huruf alphabet," jelasnya. 

Agni bilang, kebiasaan bangsa Tiongkok memahat puisi pada batu merupakan kebiasaan kuno dari masa dinasti sebelum masehi. 

Fungsinya tidak hanya sebagai estetika, namun juga sebagai alat komunikasi seperti menyampaikan pesan, mengabadikan momen peristiwa penting, dan ekspresi seni.

"Nah yang ditemukan ini salah satunya menyampaikan pesan dan ekspresi, bahkan mengingat seseorang yang penting," katanya. 

Editor : Abdul Rokhim
#Temuan Sejarah #sejarah #Terjemahan Prasasti #rembang #penemuan prasasti #sejarah lasem #Pancur #Sejarah Rembang #lasem #Prasasti #Prasasti Tionghoa