Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lasem Rembang Pernah Jadi Bagian Kerjaan Majapahit, Konon Raja Hayam Wuruk Sempat Singgah di Sini, Ini Kata Sejarawan

Vachri Rinaldy • Minggu, 4 Agustus 2024 | 16:50 WIB
POTENSI: Sungai Dasun, Lasem, menjadi salah satu potensi wisata yang bisa dikembangkan untuk wisata edukasi sejarah dan alam.
POTENSI: Sungai Dasun, Lasem, menjadi salah satu potensi wisata yang bisa dikembangkan untuk wisata edukasi sejarah dan alam.

REMBANG - Wilayah Lasem, Rembang disebut pernah menjadi vassal atau bagian dari Kerajaan Majapahit.

Diceritakan pula bahwa Raja Hayam Wuruk, yang merupalan raja utama Kerajaan Majapahit pernah datang di Lasem.

Mengutip buku "Lasem dalam Rona Sejarah Nusantara Sebuah Kajian Arkeologi" yang diterbitkan Balai Arkeologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dijelaskan bahwa pada masa Majapahit, Lasem adalah salah satu kota pelabuhan.

Pada kurun waktu 1466–1468 M, Lasem berada di bawah kepemimpinan Bhre Lasem yang diberi kepercayaan untuk membawahi wilayah-wilayah pesisir.

Saat itu, Lasem memiliki dua pelabuhan, yaitu Bandar Regol dan Kairingan yang digunakan sebagai tempat tambatan kapal.

Sumber-Sumber yang Menyebut Tentang Lasem

Pada buku "Lasem dalam Rona Sejarah Nusantara Sebuah Kajian Arkeologi" juga dijelaskan, Nama Lasem juga disebut pada kitab Nagarakrtagama yang menceritakan tentang perjalanan Hayam Wuruk pada tahun 1354 Masehi.

Saat itu, Hayam wuruk mengelilingi wilayah Kerajaan Majapahit kemudian singgah di Lasem.

Sebagai satu tempat yang menjadi
persinggahan raja, hal ini menunjukkan bahwa Lasem tidak hanya sekadar wilayah bawahan. Namun memiliki arti penting bagi kerajaan Majapahit.

Jawaban itu dapat ditemukan juga dalam Nagarakrtagama yang menyebutkan bahwa
Lasem merupakan daerah perdikan yang dipimpin oleh adik sepupu raja Majapahit yang bernama Dewi Indu.

Kitab Pararaton yang juga sebagai satu kitab Majapahit juga menyebut nama Lasem, yaitu
adanya gelar Bhre Lasem Sang Ahayu yang diberikan kepada putri Hayam Wuruk yang bernama Kusumawardani.

Hadirnya putri penguasa utama Majapahit di Lasem semakin mempertegas akan pentingnya Lasem bagi kerajaan pada masa puncak
jayanya.

Buku "Lasem dalam Rona Sejarah Nusantara Sebuah Kajian Arkeologi" juga menyebutkan sumber sejarah lain, yakni Babad Lasem.

Babad Lasem merupakan catatan kesejarahan yang ditulis oleh Kamzah seorang pujangga keturunan Panji Lasem yang hidup tahun 1805-1900 Masehi.

Babad Lasem ditulis pada tahun 1825. Tulisan ini kemudian dianalisis yang menyimpulkan bahwa Lasem telah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit setidaknya sejak tahun 1273 S (1351 M).

Kala itu Lasem diperintah oleh Dewi Indu, adik sepupu Hayam Wuruk. 

Peninggalan di Lasem yang Diduga Sudah Ada Sejak Era Majapahit

Terpisah, Ernantoro, Pegiat Sejarah Lasem dari Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem menyampaikan, Majapahit Lasem dulu memerintah dari wilayah Pacitan sampai Sedayu dengan pusat pemerintahan yang berada di Sumbergirang.

"Kekuasaan Majaphit yang di Lasem dulu Pacitan sampai Sedayu," katanya.

Saat ini, kata Ernantoro, juga ada berbagai peninggalan Majapahit yang ditemukan di Lasem. Salah satunya adalah temuan patung dewa laut di Candi Samudra Lewa di Caruban.

"Ada tanda kalau Majapahit pernah berdiri," katanyam

Selain itu Batu Lingga yang berada di Desa Kajar juga diduga berasal dari era Majapahit.

Ernantoro menyampaikan kejayaan Majapahit di Lasem juga meninggalkan jejak kesenian. Yakni Wayang Bengkong yang dulunya disebut dengan wayang Krocil.

"Yang saya ketahui Wayang Bengkong itu," katanya.

Baca Juga: Seperti Inilah Penampakan Situs Diduga Peninggalan Zaman Kerajaan Majapahit di Banjarejo Blora

Budaya Masa kejayaan Majapahit di Lasem lainnya adalah Batik Widyarini. Ernantoro menyampaikan, dulu pakaian tersebut dipakai ketika acara upacara keluarga kerajaan. Seluruh peserta diminta memakai pakaian dengan motif kembang melati selangsang warna kuning.

"Itu motif dari Batik Widyarini, milik Majapahit untuk hari-hari kebesaran," ungkapnya.

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#sejarah #majapahit #Majapahit di Lasem #Zaman Majapahit #pelabuhan di zaman kerajaan majapahit #sejarah lasem #Sejarah Rembang