Cumi-cumi yang biasanya harganya bagus, sepekan ini turun hingga 50 persen.
Kondisi ini dipersulit seiring ketatnya aturan kebijakan pemerintah.
Pembina Nelayan Asosiasi Dampo Awang Bangkit, Suyoto menyebutkan banyak curahan dari anggota bahwa harga ikan turun terus.
Kondisi ini ditambah melemahnya daya beli masyarakat.
”Problem banyak sekali. Perbankan berhenti. Lalu banyak juragan kapal berhenti. Kapal diberhentikan tidak bisa melaut,” kata Suyoto saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus pada Kamis (9/5).
Menurutnya, dampak para juragan kapal berhenti. Termasuk kapal yang diberhentikan efeknya melebar. Karena Itu sumber pendapatan dari anak buah kapal (ABK) yang bergantung dari melaut.
”Banyak kapal yang tidak melaut harga tetap rendah. Anjlok. Ikan harga Rp 90 ribu tinggal Rp 50 ribu,” bebernya.
Ia pun memberi gambaran harga ikan tenggiri. Dulu harganya bisa tembus Rp 60-70 ribu menjadi Rp 30-35 ribu. Cumi-cumi juga begitu. Itu komoditi yang luar biasa. Bisa dikatakan menjadi primadona.
“Dulu cumi-cumi Rp 70 ribu sekarang tinggal Rp 35 ribu. Jika persentase 50 persen turun drastis. Hasil pertemuan nelayan baru-baru ini sebatas menunggu masa transisi pemerintahan," katanya.
“Kalau bisa PPH sekali datang 10 persen sementara dihapus dulu. Karena susah semua, belum perbekalan dan bahan bakar industri,” lanjutnya.
Sebelumnya, hal sama disuarakan Asosiasi Nelayan JTB Bhaita Adiguna Kabupaten Rembang nelayan kapal JTB menghadapi sejumlah masalah.
Seperti tingginya pendapatan negara bukan pajak (PNBP) hasil tangkapan 10 persen. Lalu kondisi saat ini harga ikan di pasaran terus merosot.
“Tingginya PNBP dan harga ikan dipasaran terus merosot mohon menjadi pertimbangan pemerintah, agar beban nelayan tidak semakin berat,” harapnya. (noe/ali)
Editor : Abdul Rokhim